Tampilkan postingan dengan label Trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trip. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2014

Pantai Klayar: Semacam Keindahan Tersembunyi

Minggu, 10 Agustus 2014

Sejujurnya, hari itu tubuh saya tidak begitu fit untuk melakukan perjalanan jauh. Flu yang sudah mendera beberapa hari belum juga mereda. Yang ini salahin air mineral merk baru saja. Sama seperti hati, tubuh saya pun butuh beradaptasi terhadap zat-zat baru yang masuk. *Hallah! Tolong abaikan!*

Kembali ke hari minggu. Alasan kuat saya tetap ngotot ikut ke Pacitan adalah karena saya tidak suka dikecewakan. Untuk itu, saya pun berusaha untuk tidak mengecewakan teman-teman baik yang sudah menyusun acara ini jauh-jauh hari. Berbekal boneka angrybird—yang bisa dipeluk atau dijadikan sandaran selama perjalanan—saya pun berangkat. Tepat jam enam pagi dari rumah.

Dengan kecepatan rata-rata 60 KM/jam—supir kami halus banget kalau nyetir, lima jam kemudian, kami baru memasuki wilayah Pacitan. Itu sudah termasuk sekali jajan di alfama*rt dan dua kali mampir pom bensin. Termasuk tersendat macet di Salatiga kota juga ding.

Sesuai daftar kunjung, tempat pertama yang kami kunjungi seharusnya adalah Goa Gong. Namun, karena jalur utama menuju Goa Gong macet luar biasa, akhirnya kami berbalik arah mencari jalan alternatif menuju Pantai Klayar. Pantai yang sudah membuat saya ngiler hanya dengan melihat gambar hasil googling.

***

Pantai Klayar. Rasanya tidak berlebihan menjuluki pantai ini sebagai salah satu pantai terindah di pulau Jawa. Pasir putih, tebing, karang-karang eksotis, gulungan ombak besar, seruling samudra, pemandangan semacam air terjun mini, pohon-pohon kelapa, perahu-perahu yang terparkir, begitulah kira-kira pemandangan yang akan kita temui di pantai yang terletak di Kecamatan Donorojo, Pacitan ini. Di mata saya, semua yang ada di pantai ini terlihat menakjubkan. Meski, terkadang agak ngeri juga sih kalau lihat ombak yang suka nakal melewati dinding batu karang yang lumayan tinggi. Karena bandel tidak mengacuhkan peringatan dari penjaga pantai, alhasil saya jadi salah satu korban guyuran ombak ini. Deres banget, kayak rinduku ke kamu. Iya, kamu. *Gaes, bagian ini tolong jangan acuhkan juga!*

Di pantai ini, ada salah satu spot unik yang tidak dimiliki kebanyakan pantai lainnya. Sepetak karang yang luas nan rata. Bisa buat main fulsal lah. Ketika saya berdiri di ujung tempat ini dengan melipat tangan, sekelebat pikiran nyeleneh muncul, “Asyik kali ya, kalau menyelenggarakan pesta pernikahan di sini. Di atas karang yang digenangi air, disapu-sapu angin laut, dan sesekali terkena percikan air yang keluar dari seruling samudra kalau ombak lagi gede. Pasti beda dan unforgettable banget.”

Oke, lupakan khayalan saya tadi ya, teman-teman. Dan nilai sendiri saja keindahan Pantai Klayar melalui gambar-gambar berikut. 


Dari kejauhan karang-karang itu mirip sphinx

Semburan dari lubang seruling samudra mirip geyser

Crashing ombak
Tembok karang
Berasa di Kuta
Pemandangan dari bukit

Masnya nekat banget demi selfie
Pokoknya, beach lover di mana pun berada, wajib mengunjungi pantai yang satu ini.

***

Puas berlarian dari ujung ke ujung di Pantai Klayar, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan ke Goa Gong melalui jalur yang sama. Tapi, anehnya, kami tidak menemukan ujung yang sama dari jalur tersebut. Tahu-tahu sampai aja di tempat parkir Goa Gong. Saya hanya bisa nyeletuk, “Mungkin ini keajaiban. Terima saja, ketimbang pusing-pusing mencari belokan jalur.”

Terhitung, ini kali kedua saya berkunjung ke Goa Gong. Tidak banyak yang berubah sejak kunjungan saya yang pertama empat tahun lalu. Kesannya masih mistis dan tetap panas, meski ada beberapa kipas angin besar terpasang di dalam goa. Dan tentunya, masih ada dengungan seperti bunyi gong saat staklaktit atau staklakmit dipukul.

Seperti saat berwisata alam di tempat lain, di Goa Gong ini pun, pengunjung harus menjaga sikap dan omongan. Kebetulan, di saat yang bersamaan saya dan teman-teman masuk ke dalam goa, ada seorang wanita dari rombongan lain yang pingsan. Menurut analisa medis, wanita tersebut phobia terhadap gelap. Pertanyaan saya adalah, “Kalau sudah tahu phobia gelap kenapa maksa masuk ke dalam goa? Lhah, goa di mana-mana kan gelap.” Lagian, dia pingsannya setelah lewat dari seperempat perjalanan. Bukan di dekat-dekat bibir goa.

Tapi, ya uwis lah, itu urusan dia dan dirinya. Yang pasti, jangan pernah bermain-main dengan alam. Kekuatannya terlalu mega untuk kita permainkan. 





Buat pengunjung, wajib nurut sama SOP
Mulut Goa Gong, tidak terlalu besar
My team

FYI, foto-foto #nofilter

Senin, 24 Februari 2014

Barcelona, Last day...

Hari ini saya memenuhi hutang untuk menyelesaikan kisah enam hari selama di Barcelona. Yup, ini hari terakhir. Dan inilah tempat yang saya tunggu-tunggu untuk dikunjungi selama enam hari di Barcelona. Camp Nou. Yuhuuu, hari ini kita akan jalan-jalan ke Camp Nou.

Nama Camp Nou diambil dari Bahasa Catalan yang artinya lapangan baru. Beralamatkan di Carrer d'Aristides Maillol, 12, 08028 Barcelona, Spanyol, lapangan kandang klub sepak bola Barcelona, satu lokasi dengan museum Barcelona, kantor, dan juga Botiga. Mengenai Botiga itu apa? Sudah saya bahas di sini. kali ini saya hanya ingin pure membahas soal Museum Barcelona dan Camp Nou, tempat yang bisa membuat saya nangis bombai.

Pagi itu, dari hotel tempat kami menginap, setelah perkara check out selesai, kami langsung tancap gas menuju Camp Nou. Niat awalnya hanya untuk menghabiskan waktu sampai saatnya penerbangan yang akan membawa kami ke tanah air tiba.
Sesampainya di Camp Nou, tentu saya dan rekan-rekan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Jam Sembilan pagi, kami ikut mengantre di loket pembelian tiket. Barisan lumayan panjang. Sepagi ini tempat ini sudah penuh. Maklum, weekend. Dengan membayar sebesar 22 euro, kami bisa memasuki area museum dan lapangan. 

Tiket udah di tangan
Kantornya
Setelah mendapat cap tanda pengunjung legal, kami menaiki eksalator dan menyeberangi sebuah koridor yang lumayan panjang. Kami disambut dengan cahaya remang dari museum. Di sini, segala tentang Barcelona bisa ditemui. Dari jaman klub ini berdiri sampai sekarang. Dari tim sepakbola, basket, kriket mereka juga ada. Kostum per tahun. Miniatur pemain. Miniatur lapangan. Replika Piala-piala kejuaraan –saya yakin, semua yang ditaruh di sini adalah replika. Yang asli tidak mungkin di taruh disini–. Segala informasi tentang Barcelona yang dikomputerisasi juga ada. Ada monitor LED yang digelar di atas meja besar. Jika ingin mencari tahu tentang informasi yang kita inginkan, tinggal sentuh saja. Awesome. 

Sudut-sudut museum
Piala-piala kejuaraan
Dari sini, oleh pemandu, kami digiring menuju ruang ganti pemain. Kekaguman saya makin menjadi-jadi. Ruang ganti pemain yang luasnya, entahlah, luas sekali ini. Di sana, ada berderet-deret loker yang sudah dilabeli nama masing-masing pemain. Ada bangku-bangku panjang sebagai tempat duduk saat breafing. Ada LED-LED yang terpasang memanjang di atas loker. Lalu, ke sebelah lagi, ada barisan keran air dan shower. Di tegah-tengah ada cekungan lumayan besar yang difungsikan sebagai bathup bersama.

Menuju ruang ganti
Ruang ganti pemain
Serius, saya jadi membayangkan para pemain mandi dan saling bercengkarama di situ, usai pertandingan. Oke, let’s say I’m crazy.
 
Dari ruangan ini, kami terus berjalan menjelajahi ruangan demi ruangan lain. Dan yang paling menarik adalah ruang konpers. Ruang konpers di sini, juga indah, bersih, rapi, dan wangi. Tidak! Di sini sedang tidak ada konpers. Di meja depan, yang biasa digunakan oleh para pemain, pelatih, staf, untuk melakukan konpers, sekarang ada replika Piala Liga Champion. Mata saya langsung tertuju padanya. Sangat bernafsu ingin berfoto dengannya. Saat saya berniat mengeluarkan kamera, seorang petugas berteriak memberi peringatan kalau di sini dilarang keras menggunakan kamera. Kalau melanggar, hukumannya adalah denda. Jadi, urung lah niat tersebut.

Piala liga champion
Piala Liga Champion yang saya yakin juga adalah replika itu memang sengaja diletakkan di sana, sebagai obyek foto bagi bara pengunjung. Tapi. Ada tapinya. Harus bayar 15 euro dulu untuk sekali take. Mahal memang. Tapi begitulah salah satu cara mereka meraup uang untuk menggaji para pemain yang mahal luar biasa itu.

Karena untuk foto sendiri sedemikian mahal, akhirnya kami foto bersama. Dan puji syukur, kali ini biaya foto ditanggung sama Mbak Tria, salah satu editor senior di majalah Femina. Dengan syarat, foto ini tidak boleh diperjualbelikan ke media lain. Foto ini adalah dokumen pribadi dan resmi majalah tempat Mbak Tria bekerja.

Penjelajahan berlanjut ke stadion utama. Luar biasa. Itu kata yang mencuat dari bibir saya saat melihat hamparan lapangan hijau. Rumput tebal dan terawat menjadi pusat perhatian para pengunjung. Dengan kursi warna-warni yang mengelilingnya, lapangan berkapasitas 98.772 orang ini terlihat begitu megah. Berdasarkan informasi dari teman saya, ini adalah lapangan terbagus kedua setelah Old Trafford.


Bangku pemain cadangan
Lapangan Camp Nou
Berkali-kali saya berdecak kagum sekaligus tak percaya. Sungguh! Detak jantung saya sampai tak beraturan. Kursi-kursi pemain yang biasanya hanya saya lihat dari layar kaca, kini saya bisa menyentuhnya. Lagi-lagi, saya membayangkan Messi dan kawan-kawan sedang duduk bersedekap memenuhi kursi-kursi itu. Membayangkan Pep Guardiola sedang berdiri mondar-mandir di pinggir lapangan. Saya benar-benar merasa seperti bermimpi. Di tepi-tepi lapangan ada semacam selokan –tapi bukan selokan– yang dilapisi kayu. Nah, tempat ini biasa digunakan oleh para kameramen untuk mengambil gambar saat pertandingan. Jarak antara lapangan dan kursi penonton, nyaris tidak berjarak. Tidak pula dikepung oleh pelindung dari besi.

Pelan-pelan saya menaiki undakan menuju kursi penonton, sambil sesekali menoleh ke belakang. Saya dan teman-teman duduk di kursi-kursi yang akan terlipat otomatis jika tidak diduduki itu, masih dengan rasa tak percaya. Menatap kagum rumput dan barisan kursi lain yang ada di seberang. Luar biasa dan luar biasa. 


Kursi penonton
Saya juga memasuki ruang wartawan. Sebuah ruangan yang dibatasi oleh dinding kaca, sebagai tempat bagi para jurnalis VIP untuk meliput. Ada juga ruang siaran. Dari tempat inilah, para komentator pertandingan berteriak-teriak, berceloteh meramaikan pertandingan. Bocoran nih, katanya jurnalis yang meliput itu juga kelas-kelasan. Kalau yang dari eropa, apalagi majalah terkenal, pasti mereka dapat urutan nomor satu sampai sepuluh. Dan ditempatkan di VIP. Sisanya ditempatkan di bawah saja.

Ruang wartawan dan siaran
Suara-suara riuh penoton saat pertandingan terdengar jelas dari pengeras suara yang terpasang di beberapa tempat. Atmosfir di tempat ini benar-benar dibuat seolah menonton pertandingan, meski pertandingan sedang tidak berlangsung.

Dari ruang terbuka ini, saya melangkah masuk lagi. kembali ke ruangan dengan pencayaan minim. Remang cahaya hanya dihasilkan oleh layar-layar lebar yang sedang menampilkan selebrasi kemenangan para pemain. Lengkap dengan suara riuhnya. Di tengah ruangan yang mirip gedung bioskop, tapi tanpa kursi ini, saya mematung lama. Berdiri dengan pandangan berpendar ke seluruh ruangan. Tiba-tiba saja, air mata saya tumpah, saking senangnya. Saking tidak percayanya kalau ini adalah kenyataan. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah berani saya impikan, dan Tuhan memberikannya. Begitu baiknya Tuhan, bahkan pada makhluknya yang seringkali bandel.

Ruang audio
Saya melanjutkan langkah menyusuri lorong-lorong yang mengantar saya keluar. Sebelum sampai di luar stadion, saya dikejutkan lagi oleh fasilitas foto bareng pemain. Dengan membayar sekitar 10 euro, kita bisa foto dengan background logo Barcelona atau lapangan, terserah. Dan tentu saja dengan pemain pilihan kita. Kita sih fotonya sendiri, nanti foto akan diedit oleh petugas. Sebenarnya dilakukan di rumah pun bisa, tapi mungkin, jika fotonya di sini lebih menang PD.

Kaki saya sedikit pegal saat saya sampai di luar gedung. Kalau dihitung jaraknya, mungkin saya sudah berjalan sejauh 5 km lebih. Naik turun tangga, karena lift dinon-aktifkan. Dua teman lelaki saya sampai mengeluh kelelahan.

Well, selelah apapun, ini adalah episode paling bersejarah dalam hidup saya. Bisa menginjakkan kaki di tanah Catalan. Bermimpi saja saya tidak berani, tapi keajaiban Tuhan memang tidak pernah terjangkau oleh nalar kita.
 

Sampai jumpa pada pembahasan detail lainnya. Kamu bisa lihat di sini pengalaman-pengalaman sebelumnya :)

Jumat, 24 Januari 2014

Selarik Cerita dari Pangandaran

Pangandaran, 13-14 Jan 2014

Terberkahilah kalian semua yang selalu punya banyak kesempatan untuk menikmati hidup dan melihat banyak tempat indah di negeri ini.


Setelah menempuh perjalanan hampir 10 jam melewati lembah dan bukit, akhirnya kami sampai juga di Pantai pangandaran. Salah satu wilayah di Indonesia yang masuk dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi. *Mari coret tempat ini dari list*.

Begitu turun dari bus, kami disambut oleh sisa gerimis. Genangan air masih mengisi bebrapa ruas tanah yang cekung. Kagiatan pertama kami malam ini adalah makan malam. Setelah perut terkoyak di dalam bus, karena jalan yang kami lewati berkelok-kelok –kami mengambil rute Ungaran, Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Pangandaran– dan sebagian besar sudah berlubang, akhirnya tiba juga saatnya mengisi kembali perut yang kondisinya masih belum stabil.

Tidak ada yang istimewa di makan malam kali ini. Menunya hampir sama dengan menu harian di Ungaran. Ayam goreng dengan lalapan dan berbagai sayur mayur –yang begini di Ungaran juga banyak–. Dari tempat makan, kami diantar menuju hotel. Hotelnya, lumayanlah. Standar hotel pinggir pantai. Bergaya minimalis. Didominasi oleh warna coklat kayu. Tapi ya gitu, banyak mahkluk dari dunia lain yang berlalu lalang. Saat saya mengambil foto, ada beberapa titik putih yang tertangkap. Kalau di menurut nara sumber dari Indonesia Ghost Hunter, itu disebut partikel atau atom gitu. Saya lupa. Saya pernah mendengar penjelasan tersebut dari bintang tamu yang diwawancarai di salah satu acara talkshow di TV nasional.
Pose di depan kamar hotel. Dan ada yang lewat berupa bulatan putih.
Usai membersihkan badan, bongkar koper dan tas masing-masing, saya dan teman sekamar serta beberapa tetangga kamar, kami jalan-jalan mengelilingi area pantai. Sayang dong, kalau melewatkan suasana pantai di malam hari. Gak bisa tiap hari ini. Dengan menyewa odong-odong yang muat enam orang, kami gowes malam di bawah rinai hujan yang masih rintik. Lumayan buat olahraga malam. Untung saja jalanan rata, tidak naik turun seperti di Ungaran, jadi masih kuat lah mengayuh dua kilo bolak-balik.
Naik odong-odong XD
“Jadi begini pantai pangandaran di malam hari,” gumam saya.

Tidak begitu sepi. Sama seperti saya, banyak orang juga menyewa odong-odong dengan fasilitas full music dan AC alami untuk berkeliling pantai. Bedanya, saya dan lima orang lainnya yang satu odong-odong dengan saya, kami memarkirkan odong-odong dan mendekat barang sebentar ke tepian pantai. Melewati barisan warung souvenir yang masih buka. Bersama kami, ada segerombolan anak muda yang sedang berapi ungun sambil gitaran. Itu, seperti saya waktu remaja dulu. Nyanyi-nyanyi gaje sambil menatap bintang di langit. Sayang, malam ini bintang tak muncul. Di sebelah timur, ada dua pemuda yang sedang sibuk muter-muterin motor di atas pasir. Latihan motorcross ceritanya. Kalau di atas pasir, sekali pun jatuh, kan tidak begitu sakit.

Karena odong-odong ini hanya kami sewa selama sejam, maka setelah sejam, kami pun harus kembali ke hotel. Dan berhubung waktu sudah menunjukkan tengah malam, kami pun harus beristirahat agar besok bisa bangun lebih pagi untuk menikmati sunrise di tepi pantai.
Suasana pantai malam hari
***

Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Tapi suasana di pantai sudah begitu ramai. Sudah ada yang bermain-main ombak, padahal air masih lumayan tinggi. Beberapa orang berjalan-jalan saja tanpa alas kaki. Sekedar menyapukan kaki mereka di atas pasir dan sesekali membasahinya dengan air laut. Saya sendiri memilih tetap menjaga jarak dengan air laut. Niat saya ke sini hanya untuk menikmati sunrise. Tapi sial, posisi saya salah. Sunrise tidak terlihat dari sini. seharusnya saya berjalan agak jauh ke sebelah barat. Ya sudah, saya balik badan dengan perasaan kecewa. Untung masih ada salah satu teman yang bisa mengabadikan sunrise moment. Meski tidak seperti yang diharapkan, karena langit mendung, tapi jepretannya lumayan bagus kok. Dia tidak melihat sunrise muncul dari ujung laut, tapi sinarnya sudah begitu saja meninggi di balik awan.
Sunrise
Yuyun dan Ila dengan penampakan di belakang XD

Usai sarapan dan ramah tamah, kami langung check out untuk menuju obyek wisata selanjutnya. Green Canyon. Ini dia tempat yang saya mimpi-mimpikan sejak lama. Sejak saya masih berlangganan majalah remaja yang paling hits waktu itu. Saya membaca tentang tempat ini di sebuah artikel di majalah itu, dan saya langsung jatuh cinta.

Puji Tuhan, akhirnya saya sampai juga ke sini. Dengan menggunakan perahu motor bercadik, kami meyusur sepanjang sungai yang airnya sudah berwarna coklat mocca. Kata mas pemandu sih, gara-gara curah hujan yang tinggi, warna sungai ini jadi coklat. Bisa diterima, meski saya sendiri lebih suka beropini, kalau ini akibat dari ulah manusia. Bebatuan stalaktit menghias hampir di sepanjang tepian sungai. Dan WOW, saya dibuat takjub dengan pemandangan di ujung perjalanan. Bukan, ini bukan goa, apalagi surga. Di kanan dan kiri sungai penuh dengan bebatuan besar. Rintik air terjun jatuh kecil-kecil seperti air hujan. Batu besar seperti jembatan menggantung di atas kami. Ah, pokoknya tempanya indah banget. Warna coklat air tidak mengurangi keindahan di tempat ini. Coba kalau airnya bening? Pasti indahnya nambah berlipat-lipat. Saya jadi ingat Kautsar, nama salah satu telaga di surga. Mungkinkah seperti ini?
Fokus lihat yang di belakang saja ya..
Tuh, harusny renang menyusur tali itu.

Tempat ini di-claim sebagai Grand Canyonnya Indonesia, karena dikepung oleh tebing batu yang tinggi. Hampir sama dengan Grand Canyon yang di Amrik sana. Bedaya, kalau di sana batunya warna coklat seperti batu cadas, kalau di sini warna hitam khas batu kali dan ditumbuhi berbagai macam tumbuhan. Di sini saya dan tiga orang teman saya memberanikan diri untuk turun dari perahu. Sayang sekali kalau hanya duduk cantik di atas perahu, kurang greget. Seharusnya, kami melanjutkan perjalanan dengan berenang ke mata air suci. Tapi, karena waktu yang terbatas, kami terpaksa harus berpuas diri hanya foto-foto dengan bertumpu pada batu besar yang sudah pasti licin sekali.

Dari Green Canyon, kami berpindah ke Pantai Batu Hiu. Sebelum kami ke Green Canyon, sebenarnya kami sudah melewati tempat ini, karena memang sejalur. Tapi, kami memilih ke Green Canyon terlebih dulu karena pertimbangan teknis dan cuaca. Saat hujan deras, tidak mungkin bisa ke Green Canyon karena bisa dipastikan air sungai pasang.

Pemandang dari Batu Hiu ke Green Canyon atau sebaliknya benar-benar luar biasa. Bisa dibayangkan saat kamu mengendarai mobil di jalanan tepian pantai dengan nyiur melambai-lambai. Ditambah suara deru ombak. Birunya air laut yang seperti tanpa batas. Begitulah sepanjang perjalanan. Yand disayangkan cuma satu, jalan yang sempit dan berlubang.

Batu Hiu ini tempatnya seperti bukit. Melewati ratusan anak tangga yang lumayan bisa menurunkan kalori. Dan setelah sampai di puncak, subhanallah. Sepertinya seluruh laut di pantai selatan pangandaran terlihat dari sini. Udaranya cukup panas. Tapi sumpah, that’s nothing kalau dibanding dengan pemandangan yang bisa dilihat dari atas sini.
Batu Hiu
Patung Batu Hiu
Suka sama percikan ombaknya
Coba-coba buat siluet
Tragedi kecil terjadi di sini. untuk kedua kalinya dompet saya hilang. Jangan tanya, "Hilang di mana?" atau "Kok bisa?". Saya sudah bosan mendengar pertanyaan seperti itu. Sama bosannya dengan melontarkan jawaban yang sama. Saya baru sadar setelah berada di tempat selanjutnya. Itu pun saat kami sudah selesai dengan semua kegiatan dan bersiap untuk pulang. Tapi, lupakan. Saya juga sudah tidak ingin mengingatnya lagi.

Lanjut, ke perjalanan selanjutnya. Kali ini kami kembali lagi ke pantai pangandaran, lalu menyebrang ke pulai sebelah. bukan pulau sebalah sih sebenarnya, karena tempatnya masih gandeng dengan pulau jawa bagian pangandaran ini. Tapi untuk sampai ke sana, ke pantai dengan pasir putih itu, kami harus naik perahu motor bercadik lagi.

Harga sewa perahu motor itu –kalau tidak salah– 120.000 rupiah per perahu. Setiap perahu bisa mengangkut sepuluh orang. Dengan tambahan 15.000 rupiah per orang, kita bisa berlayar sampai ke tengah, tentu saja itu sebagai kompensasi untuk memanjakan mata kita. Dari atas perahu kita bisa menikmati pemandangan taman laut sekaligus bebatuan datar laut yang seperti biasa, selalu indah.
Boating ke Cagar Alam
Another boat

Di pantai pasir putih, selain bisa berenang, karena ombaknya yang relatif tenang, kita juga bisa diving. Dan yang lebih menarik adalah kita bisa jalan-jalan ke hutan cagar alam, yaitu hutan lindung yang masih sangat alami. Di sana ada populasi kera ekor panjang -saya lebih suka menyebutnya monyet-, lutung, kijang, Kalong, Burung Kangkareng, dan landak Jawa. Tapi, lagi-lagi sayang, yang menampakkan diri di sekitaran waktu itu pantai hanya monyet. Yang lain mungkin sedang bersemedi atau bertapa. Hewan-hewan itu dibiarkan berkeliaran begitu saja. Tak ada kerangkeng besi atau kayu yang membatasi ruang gerak mereka.

Satu pesan saya jika masuk ke cagar alam ini, jangan membawa makanan apa pun kalau tidak mau dikejar oleh kawanan monyet. Indera penciuam monyet sangat tajam. Belajar dari kejadian yang dialami teman saya. Dia tidak sengaja membawa sebiji jeruk di dalam tasnya, dan seketika itu juga langsung diserang oleh monyet. Sampai tubuhnya gemetaran dan menangis.

Terusss, jangan sampai mengganggu monyet. Apalagi monyet yang lagi PMS atau galau .Yang ini pengalaman saya sendiri. Saya hampir jadi korban kemarahan monyet. Gara-gara iseng fotoin monyet yang kayaknya sih lagi BT, eh malah saya dikejar-kejar. Alhasil saya jadi bahan ketawaan teman-teman. Awkward moment, tapi lucu juga kalau diingat.
Rame-rame di Cagar Alam
Kera ekor panjangnya lagi PMS
Lagi curhat-curhatan XD

Setelah menyelesaikan tugas menyusur hutan, kami kembali lagi ke Pantai Pangandaran dengan perahu yang sama. Dan melanjutkan bermain-main air di sana. Pasang badan untuk melawan ombak yang semakin sore semakin besar.
Pantai Pangandaran menjelang senja
Ehm… jujur ya, saya bakal berpikir dua kali untuk kembali ke panggandaran atau tidak? Bukan masalah tidak maunya. Tapi jauhnya itu lho. Di sana juga tidak ada angkutan umum. Susah untuk menjangkau tempat itu tanpa kendaraan sendiri. Dan lagi, di pantai pangandaran ini, hawa mistis masih sangat terasa. Saya dengar ada beberapa mitos ini itu. Bukannya tidak percaya, tapi saya memilih untuk tak memikirkannya.

Oleh-oleh yang saya bawa pulang yang paling terasa ya itu, rasa haru saat teman-teman menawarkan bantuan ketika saya kehilangan dompet. Yang artinya saya juga kehilangan seluruh uang saku yang ada di dalam dompet. Bersyukur sekali selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik.

*Lain kali hati-hati ya yun?! Jangan teledor lagi!* *Toyor diri sendiri*

Kamis, 05 Desember 2013

Barcelona, Fifth Day

Haiho.... Ketemu lagi yak!

Udah masuk hari kelima aja. Cepet banget yak kalo jalan-jalan di negeri orang. Btw, hari ini kami diajak shopping-shoping lagi nih. Saya dan rombongan diarak ke La Roca Village dan Maremagnum sama Om Mario, tour leader kami. Dua-duanya merupakan pusat perbelanjaan tekenal di Barcelona.

La Roca Village berada di sebelah utara Barcelona, arah menuju Itali. Perjalanan ke tempat ini tidak sampai satu jam. Dengan pemandangan yang aduhai di sepanjang jalan, rasanya sayang sekali kalau harus dilewatkan tanpa menikmatinya. Area persawahan membentang luas di sisi kanan dan kiri jalan. Dari kejauhan, saya bisa menangkap tanaman berupa sayur mayur dan bunga-bunga tertancap di sana. Apa pun itu, yang pasti bisa membuat mata saya melek, setelah tadi sempat terserang kantuk yang luar biasa.

Tempat perbelanjaan yang luar biasa.

Di sini tidak ada bangunan bertingkat ala mall atau warung-warung yang berdesakan seperti di pasar tradisional. Bangunannya seperti kompleks perumahan dengan dua lantai, terlihat rapi dan teratur. Sangat nyaman untuk sekedar jalan-jalan. Tempat ini seperti kampung berkumpulnya brand-brand dunia. Botiga, Billabong, Chamber, Channel, Celvin Klein, Furla, Gucci, Garments, Hackett London, Lacoste, Old Ridel, Puma , Vans dan masih banyak lagi brand yang namanya masih asing di mata saya. Masing-masing dari mereka punya satu rumah di sini yang berupa factory outlet.

Awalnya saya sendiri bingung, mau apa di tempat seperti ini? Uang di dompet saya tentu saja tidak cukup kalau diniatkan untuk shopping beneran. Well, saya yang jalan berdua dengan Sarah hanya seperti menjadi pengamat di tempat ini. Keluar masuk dari satu Outlet ke Outlet lain. Melihat produk dan ngecek harga.

Mahal.

Iya, tentu saja. Kalau menilik dari merk-merk di atas, sudah bisa dipastikan harganya kisaran berapa, kan? Tapi itu masih lebih murah jika dibandingkan dengan yang ada Indonesia. padahal, setahu saya yang pernah bekerja di pabrik garment, dan kebetulan pernah menangani beberapa merk tersebut di atas, barang-barang itu dibuat oleh tangan-tangan orang Indonesia lho. Lantas dikasih main label merk luar dan dijual dengan harga menggunung seperti itu. jadi, jangan terlalu bangga lah buat orang-orang yang suka membeli barang [yang katanya] merk impor. Itu hasil karya orang lokal kok. 

Terimakasih atas kunjungan anda
Taman depan La Roca Village
Jalan-jalan di La Roca Village
Bareng Sarah
Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Maremagnum. Nama yang tidak asing, bukan? Saat menulis kata itu saya langsung teringat salah satu brand eskrim kesukaan saya hehe....

Maremagnum ini sebuah pusat perbelanjaan dan hiburan di pusat kota. Merupakan satu-satunya mall di Barcelona yang masih buka di hari minggu. Terletak di pinggir dermaga dengan pemandangan air yang sekali lagi, luar biasa. Saya selalu kagum dengan kebersihan tempat di Barcelona.

Di Maremagnum kamu bisa berbelanja sepuasnya. Soal harga, tentu saja jauh lebih murah daripada di La Roca. Ini kalau di Indonesia seperti BTC Solo lah. Sedikit lebih elegan di sini sih. Outlet baju, sepatu, make up, market, restoran, bioskop, semua ada dalam satu area Maremagnum.

Saat menjelang malam, banyak orang yang hanya sekedar duduk-duduk di dekat dermaga atau di seberang Bioskop yang lantainya terbuat dari kayu yang tertata rapi.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan hari ini. Karena seharian hanya belanja. Sama saja dengan kegiatan belanja yang lain di negeri sendiri. Bedanya, di sini tidak ada tawar menawar. Dan saat saya membayar ke kasir harus pakai bahasa asing. Melihat ke arah monitor jumlah pembayaran, kasih uang, dan bilang “Gracias”. 
 
Dermaga di samping Maremagnum
Maremagnum Cinema
Air dermaganya bening banget
Mungkin nanti akan lebih menarik cerita di hari terakhir. Jalan-jalan ke mana? Masih rahasia. Yang melewatkan hari ke satu, dua, tiga, empat, bisa blogwalking ke sini ^^. 

>> To be continue