Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Desember 2013

Menoleh Sejenak


Waktu berlalu begitu cepat. 365 hari, 8.760 jam, 525.600 menit, semua merangkak, berjalan, lalu berlari dan terbang dengan kilat. Masih teringat jelas, bagaimana aku mengawali tahun 2013 dengan tertatih. Dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya di akhir tahun 2012.

Dan hari ini tahun 2013 berakhir. Aku mengakhirinya dengan senyum lebar sambil melihat ke sana. Ke masa bodoh-bodohnya aku menjalani hidup. Satu kata, “LUCUK!". Kadang, bagian hidup yang paling lucu itu, ya menertawakan diri sendiri.

2013 itu, masa di mana kapabilitasku sebagai perempuan dewasa benar-benar diuji. Dan lagu di atas menjadi themesong sepanjang tahun.

Wish the best for 2014. Happy new year.

Kamis, 26 September 2013

Takkan Berpaling Darimu - Rossa

Kala malam bersihkan wajahnya dari bintang-bintang
Dan mulai turun setetes air langit dari tubuhnya
t
Tanpa sadar nikmatnya alam karena kuasaMu
Yang takkan habis sampai di akhir waktu perjalanan ini


Terima kasihku padaMu Tuhanku
Tak mungkin dapat terlukis oleh kata-kata
Hanya diriMu yang tahu besar rasa cintaku padaMu

Oh Tuhan anugerahMu tak pernah berhenti
Selalu datang kepadaku Tuhan semesta alam
Dan satu janjiku takkan berpaling dariMu

(terima kasihku) ya Allah
(padaMu Tuhanku) anugerahMu
(anugerahMu) 

Engkau sisihkan semua aral melintang di hadapanku
Dan buat terang seluruh jalan hidup ’tuk melangkah
Ini nih, salah satu everlasting song. Dinyanyikan sama Teteh Ocha, diciptakan sama siapa? Gak tahu hehe.. Dari awal lagu ini keluar, tahun 2008, sampai sekarang gak pernah bosan untuk mendengarkan. Dan setiap kali dengar, feel-nya juga masih sama. Trenyuh dan pengen nangis. Terkadang juga sampai nangis beneran. Teringat betapa baiknya Tuhan sama saya. Sementara saya, masih saja menjadi hambaNya yang nakal dan susah diatur. Masih saja sering nanya, kenapa begini begitu? Kenapa harus begini begitu? Padahal saya sudah begini begitu. Yang tentu saja, saya sudah sangat tahu jawabannya "Ini yang terbaik buat kamu, nduk". Tapi masih saja menuntut jawaban yang lebih.

Seandainya saja ya, manusia bisa berhenti pada satu jawaban itu "Ini yang terbaik". Pastilah aku, kamu, dia, kita semua akan lebih tenang. Kalau istilah Belandanya "Nrimo ing pandum". Pasti dunia ini akan damai dan bersahaja. Karena semua orang sudah bersyukur, sudah merasa cukup dengan segala apapun yang diberikan Tuhan.   

Buat siapapun yang sudah menciptakan lagu ini, terima kasih. Magic banget deh nih lagu.

Rabu, 18 September 2013

Dia Sahabat ...

Waktu SD, saya sering mendengar istilah sahabat pena. Suatu istilah yang kita gunakan untuk menggambarkan hubungan persahabat jarak jauh (red: LDR) pada masa postcard dan perangko masih beken. Sebelum telefon, HP, atau warnet menjamur dimana-mana. Persahabatan yang terjalin hanya melalui surat-menyurat. Bertukar kabar dan pengalaman melalui tulisan dari pena. Bukan hasil pencet-pencet keyboard seperti sekarang. Dan saat ini, saya merasa punya semacam sahabat pena. Tapi saya dan dia tidak berhubungan melalui surat. Melainkan via social media yang tersedia di internet. Jadi, lebih tepatnya disebut  online friend of mind kali ya?

“Nona Barca! Yey hehee”. Itu sapaan dia pertama kali saat membuka obrolan di chat facebook.

Rasanya gimana gitu, tiba-tiba dapat sapaan dari seorang penulis yang sudah melahirkan banyak anak. Eh, maksud saya buku. Meskipun, saya belum pernah membaca bukunya hehe. Saya hanya, kadang-kadang membaca postingan-postingan dia di twitter atau blog. Dan itu sudah cukup untuk menyimpulkan kalau dia orang yang cerdas dan peduli dengan lingkungan –semoga kesimpulan saya ini gak meleset yes? ^^–.

Awal perkenalan yang aneh. Entah dapat wejangan dari mana? Tiba-tiba dia menantang saya untuk membuat sebuah tulisan. Waktu itu saya tidak menolak, tidak juga mengiyakan. Saya hanya bilang “Siap. I’ll try my best”. Karena saya sadar diri, saya tidak bisa menulis dengan baik. Saya hanya bisa cerita. Alhasil, cerita itu saya tuangkan ke dalam tulisan –sama saja Ye, pada akhirnya tetap tulisan­–.

Selang 3 minggu kemudian, akhirnya tulisan itu rampung juga. Bak seorang murid, saya menyodorkan tulisan itu kepada Pak Guru untuk mendapatkan penilaian. Saya pasrah, mau dinilai seperti apapun terserah. Toh dari awal saya sudah bilang “saya tidak pintar menulis”. Tapi di luar dugaan, dia memberikan komentar yang positif terhadap tulisan saya. Kaget. Gak percaya. Masa’ sih tulisan kayak gitu dibilangnya bagus, narasinya lancar, dan seru. Hanya EYD-nya harus dibenahi. Sempat sih, bertanya dalam hati “Mas, itu komentar beneran atau sekedar nyenengin aja?”.

Whatever. Apapun komentarnya, yang pasti sejak saat itu, saya jadi semangat menulis. Dan yang gak kalah pentingnya, saya punya seorang mentor. Ya, awalnya saya hanya menganggap dia seorang mentor. Tapi lama-lama, obrolan kita semakin mbleber kemana-mana. Dari masalah penting, gak penting, sampai gak penting banget. Dan berlahan-lahan, level dia mulai beranjak naik dalam social relationship chart saya –bhehehe.. gaya–. Dari kenalan, teman, kemudian bisa dikategorikan sebagai sabahat. Sahabat yang menyenangkan. Yang bisa membuka pikiran saya, bahwa hidup bukan hanya melulu soal cinta dan galau. Bahwa, di sekeliling kita masih ada manusia, binatang, tumbuhan yang juga perlu kita perhatikan. Sahabat yang memaksa saya untuk terus menggerakkan otak, belajar banyak hal baru.

Saya dan dia memang belum pernah bertemu. Hubungan kami hanya sebatas di social media atau SMS. Lewat telepati juga kadang-kadang. Beberapa kali kami merencanakan pertemuan, tapi belum juga bisa. Jarak, waktu, dan kesibukan menjadi alasan paling klise untuk menutupi ego kami masing-masing. Sehingga sampai sekarang kami belum bisa bertemu.

Dan hari ini, sebelum pertemuan itu terjadi, dia sudah harus bertolak ke Turki demi sebuah misi pendidikan. Dekat sih, jaraknya kurang dari 1 jengkal. Dilihat dari google map. Rasanya sedih, harus berpisah dengan seorang teman yang menyenangkan.

Ya, semoga saja tulisan ini bisa menjadi kenangan yang dia bawa ke Turki. Menjadi teman, saat dia butuh teman. Dan menjadi pengingat, bahwa dia punya sahabat di sini.

Dan.. Hei, kamu. Semoga betah di sana. Baik-baik. Kuliah yang bener. Semua target-target yang disusun bisa tercapai. Nanti kalo sudah kembali ke tanah air bisa menjadi orang yang lebih, lebih, dan lebih bermanfaat. Kalo ada waktu sapa-sapa yes! Goodluck, take care, Allah bless you. I still hope that we’ll meet in real life someday. Satu lagi nih, hadiah untuk teman di perjalanan. sebuah lagu “Dia Sahabat”. Enjoy please :D

Kamis, 28 Maret 2013

I'm not perfect


Mungkin aku tidak sempurna. Tapi, di luar sana, kamu tak akan pernah menemukan orang yang bisa mencintai dan mengerti kamu sebaik aku..