Tampilkan postingan dengan label Barcelona. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Barcelona. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2014

Barcelona, Last day...

Hari ini saya memenuhi hutang untuk menyelesaikan kisah enam hari selama di Barcelona. Yup, ini hari terakhir. Dan inilah tempat yang saya tunggu-tunggu untuk dikunjungi selama enam hari di Barcelona. Camp Nou. Yuhuuu, hari ini kita akan jalan-jalan ke Camp Nou.

Nama Camp Nou diambil dari Bahasa Catalan yang artinya lapangan baru. Beralamatkan di Carrer d'Aristides Maillol, 12, 08028 Barcelona, Spanyol, lapangan kandang klub sepak bola Barcelona, satu lokasi dengan museum Barcelona, kantor, dan juga Botiga. Mengenai Botiga itu apa? Sudah saya bahas di sini. kali ini saya hanya ingin pure membahas soal Museum Barcelona dan Camp Nou, tempat yang bisa membuat saya nangis bombai.

Pagi itu, dari hotel tempat kami menginap, setelah perkara check out selesai, kami langsung tancap gas menuju Camp Nou. Niat awalnya hanya untuk menghabiskan waktu sampai saatnya penerbangan yang akan membawa kami ke tanah air tiba.
Sesampainya di Camp Nou, tentu saya dan rekan-rekan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Jam Sembilan pagi, kami ikut mengantre di loket pembelian tiket. Barisan lumayan panjang. Sepagi ini tempat ini sudah penuh. Maklum, weekend. Dengan membayar sebesar 22 euro, kami bisa memasuki area museum dan lapangan. 

Tiket udah di tangan
Kantornya
Setelah mendapat cap tanda pengunjung legal, kami menaiki eksalator dan menyeberangi sebuah koridor yang lumayan panjang. Kami disambut dengan cahaya remang dari museum. Di sini, segala tentang Barcelona bisa ditemui. Dari jaman klub ini berdiri sampai sekarang. Dari tim sepakbola, basket, kriket mereka juga ada. Kostum per tahun. Miniatur pemain. Miniatur lapangan. Replika Piala-piala kejuaraan –saya yakin, semua yang ditaruh di sini adalah replika. Yang asli tidak mungkin di taruh disini–. Segala informasi tentang Barcelona yang dikomputerisasi juga ada. Ada monitor LED yang digelar di atas meja besar. Jika ingin mencari tahu tentang informasi yang kita inginkan, tinggal sentuh saja. Awesome

Sudut-sudut museum
Piala-piala kejuaraan
Dari sini, oleh pemandu, kami digiring menuju ruang ganti pemain. Kekaguman saya makin menjadi-jadi. Ruang ganti pemain yang luasnya, entahlah, luas sekali ini. Di sana, ada berderet-deret loker yang sudah dilabeli nama masing-masing pemain. Ada bangku-bangku panjang sebagai tempat duduk saat breafing. Ada LED-LED yang terpasang memanjang di atas loker. Lalu, ke sebelah lagi, ada barisan keran air dan shower. Di tegah-tengah ada cekungan lumayan besar yang difungsikan sebagai bathup bersama.

Menuju ruang ganti
Ruang ganti pemain
Serius, saya jadi membayangkan para pemain mandi dan saling bercengkarama di situ, usai pertandingan. Oke, let’s say I’m crazy.
 
Dari ruangan ini, kami terus berjalan menjelajahi ruangan demi ruangan lain. Dan yang paling menarik adalah ruang konpers. Ruang konpers di sini, juga indah, bersih, rapi, dan wangi. Tidak! Di sini sedang tidak ada konpers. Di meja depan, yang biasa digunakan oleh para pemain, pelatih, staf, untuk melakukan konpers, sekarang ada replika Piala Liga Champion. Mata saya langsung tertuju padanya. Sangat bernafsu ingin berfoto dengannya. Saat saya berniat mengeluarkan kamera, seorang petugas berteriak memberi peringatan kalau di sini dilarang keras menggunakan kamera. Kalau melanggar, hukumannya adalah denda. Jadi, urung lah niat tersebut.

Piala liga champion
Piala Liga Champion yang saya yakin juga adalah replika itu memang sengaja diletakkan di sana, sebagai obyek foto bagi bara pengunjung. Tapi. Ada tapinya. Harus bayar 15 euro dulu untuk sekali take. Mahal memang. Tapi begitulah salah satu cara mereka meraup uang untuk menggaji para pemain yang mahal luar biasa itu.

Karena untuk foto sendiri sedemikian mahal, akhirnya kami foto bersama. Dan puji syukur, kali ini biaya foto ditanggung sama Mbak Tria, salah satu editor senior di majalah Femina. Dengan syarat, foto ini tidak boleh diperjualbelikan ke media lain. Foto ini adalah dokumen pribadi dan resmi majalah tempat Mbak Tria bekerja.

Penjelajahan berlanjut ke stadion utama. Luar biasa. Itu kata yang mencuat dari bibir saya saat melihat hamparan lapangan hijau. Rumput tebal dan terawat menjadi pusat perhatian para pengunjung. Dengan kursi warna-warni yang mengelilingnya, lapangan berkapasitas 98.772 orang ini terlihat begitu megah. Berdasarkan informasi dari teman saya, ini adalah lapangan terbagus kedua setelah Old Trafford.


Bangku pemain cadangan
Lapangan Camp Nou
Berkali-kali saya berdecak kagum sekaligus tak percaya. Sungguh! Detak jantung saya sampai tak beraturan. Kursi-kursi pemain yang biasanya hanya saya lihat dari layar kaca, kini saya bisa menyentuhnya. Lagi-lagi, saya membayangkan Messi dan kawan-kawan sedang duduk bersedekap memenuhi kursi-kursi itu. Membayangkan Pep Guardiola sedang berdiri mondar-mandir di pinggir lapangan. Saya benar-benar merasa seperti bermimpi. Di tepi-tepi lapangan ada semacam selokan –tapi bukan selokan– yang dilapisi kayu. Nah, tempat ini biasa digunakan oleh para kameramen untuk mengambil gambar saat pertandingan. Jarak antara lapangan dan kursi penonton, nyaris tidak berjarak. Tidak pula dikepung oleh pelindung dari besi.

Pelan-pelan saya menaiki undakan menuju kursi penonton, sambil sesekali menoleh ke belakang. Saya dan teman-teman duduk di kursi-kursi yang akan terlipat otomatis jika tidak diduduki itu, masih dengan rasa tak percaya. Menatap kagum rumput dan barisan kursi lain yang ada di seberang. Luar biasa dan luar biasa. 


Kursi penonton
Saya juga memasuki ruang wartawan. Sebuah ruangan yang dibatasi oleh dinding kaca, sebagai tempat bagi para jurnalis VIP untuk meliput. Ada juga ruang siaran. Dari tempat inilah, para komentator pertandingan berteriak-teriak, berceloteh meramaikan pertandingan. Bocoran nih, katanya jurnalis yang meliput itu juga kelas-kelasan. Kalau yang dari eropa, apalagi majalah terkenal, pasti mereka dapat urutan nomor satu sampai sepuluh. Dan ditempatkan di VIP. Sisanya ditempatkan di bawah saja.

Ruang wartawan dan siaran
Suara-suara riuh penoton saat pertandingan terdengar jelas dari pengeras suara yang terpasang di beberapa tempat. Atmosfir di tempat ini benar-benar dibuat seolah menonton pertandingan, meski pertandingan sedang tidak berlangsung.

Dari ruang terbuka ini, saya melangkah masuk lagi. kembali ke ruangan dengan pencayaan minim. Remang cahaya hanya dihasilkan oleh layar-layar lebar yang sedang menampilkan selebrasi kemenangan para pemain. Lengkap dengan suara riuhnya. Di tengah ruangan yang mirip gedung bioskop, tapi tanpa kursi ini, saya mematung lama. Berdiri dengan pandangan berpendar ke seluruh ruangan. Tiba-tiba saja, air mata saya tumpah, saking senangnya. Saking tidak percayanya kalau ini adalah kenyataan. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah berani saya impikan, dan Tuhan memberikannya. Begitu baiknya Tuhan, bahkan pada makhluknya yang seringkali bandel.

Ruang audio
Saya melanjutkan langkah menyusuri lorong-lorong yang mengantar saya keluar. Sebelum sampai di luar stadion, saya dikejutkan lagi oleh fasilitas foto bareng pemain. Dengan membayar sekitar 10 euro, kita bisa foto dengan background logo Barcelona atau lapangan, terserah. Dan tentu saja dengan pemain pilihan kita. Kita sih fotonya sendiri, nanti foto akan diedit oleh petugas. Sebenarnya dilakukan di rumah pun bisa, tapi mungkin, jika fotonya di sini lebih menang PD.

Kaki saya sedikit pegal saat saya sampai di luar gedung. Kalau dihitung jaraknya, mungkin saya sudah berjalan sejauh 5 km lebih. Naik turun tangga, karena lift dinon-aktifkan. Dua teman lelaki saya sampai mengeluh kelelahan.

Well, selelah apapun, ini adalah episode paling bersejarah dalam hidup saya. Bisa menginjakkan kaki di tanah Catalan. Bermimpi saja saya tidak berani, tapi keajaiban Tuhan memang tidak pernah terjangkau oleh nalar kita.
 

Sampai jumpa pada pembahasan detail lainnya. Kamu bisa lihat di sini pengalaman-pengalaman sebelumnya :)

Kamis, 05 Desember 2013

Barcelona, Fifth Day

Haiho.... Ketemu lagi yak!

Udah masuk hari kelima aja. Cepet banget yak kalo jalan-jalan di negeri orang. Btw, hari ini kami diajak shopping-shoping lagi nih. Saya dan rombongan diarak ke La Roca Village dan Maremagnum sama Om Mario, tour leader kami. Dua-duanya merupakan pusat perbelanjaan tekenal di Barcelona.

La Roca Village berada di sebelah utara Barcelona, arah menuju Itali. Perjalanan ke tempat ini tidak sampai satu jam. Dengan pemandangan yang aduhai di sepanjang jalan, rasanya sayang sekali kalau harus dilewatkan tanpa menikmatinya. Area persawahan membentang luas di sisi kanan dan kiri jalan. Dari kejauhan, saya bisa menangkap tanaman berupa sayur mayur dan bunga-bunga tertancap di sana. Apa pun itu, yang pasti bisa membuat mata saya melek, setelah tadi sempat terserang kantuk yang luar biasa.

Tempat perbelanjaan yang luar biasa.

Di sini tidak ada bangunan bertingkat ala mall atau warung-warung yang berdesakan seperti di pasar tradisional. Bangunannya seperti kompleks perumahan dengan dua lantai, terlihat rapi dan teratur. Sangat nyaman untuk sekedar jalan-jalan. Tempat ini seperti kampung berkumpulnya brand-brand dunia. Botiga, Billabong, Chamber, Channel, Celvin Klein, Furla, Gucci, Garments, Hackett London, Lacoste, Old Ridel, Puma , Vans dan masih banyak lagi brand yang namanya masih asing di mata saya. Masing-masing dari mereka punya satu rumah di sini yang berupa factory outlet.

Awalnya saya sendiri bingung, mau apa di tempat seperti ini? Uang di dompet saya tentu saja tidak cukup kalau diniatkan untuk shopping beneran. Well, saya yang jalan berdua dengan Sarah hanya seperti menjadi pengamat di tempat ini. Keluar masuk dari satu Outlet ke Outlet lain. Melihat produk dan ngecek harga.

Mahal.

Iya, tentu saja. Kalau menilik dari merk-merk di atas, sudah bisa dipastikan harganya kisaran berapa, kan? Tapi itu masih lebih murah jika dibandingkan dengan yang ada Indonesia. padahal, setahu saya yang pernah bekerja di pabrik garment, dan kebetulan pernah menangani beberapa merk tersebut di atas, barang-barang itu dibuat oleh tangan-tangan orang Indonesia lho. Lantas dikasih main label merk luar dan dijual dengan harga menggunung seperti itu. jadi, jangan terlalu bangga lah buat orang-orang yang suka membeli barang [yang katanya] merk impor. Itu hasil karya orang lokal kok. 

Terimakasih atas kunjungan anda
Taman depan La Roca Village
Jalan-jalan di La Roca Village
Bareng Sarah
Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Maremagnum. Nama yang tidak asing, bukan? Saat menulis kata itu saya langsung teringat salah satu brand eskrim kesukaan saya hehe....

Maremagnum ini sebuah pusat perbelanjaan dan hiburan di pusat kota. Merupakan satu-satunya mall di Barcelona yang masih buka di hari minggu. Terletak di pinggir dermaga dengan pemandangan air yang sekali lagi, luar biasa. Saya selalu kagum dengan kebersihan tempat di Barcelona.

Di Maremagnum kamu bisa berbelanja sepuasnya. Soal harga, tentu saja jauh lebih murah daripada di La Roca. Ini kalau di Indonesia seperti BTC Solo lah. Sedikit lebih elegan di sini sih. Outlet baju, sepatu, make up, market, restoran, bioskop, semua ada dalam satu area Maremagnum.

Saat menjelang malam, banyak orang yang hanya sekedar duduk-duduk di dekat dermaga atau di seberang Bioskop yang lantainya terbuat dari kayu yang tertata rapi.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan hari ini. Karena seharian hanya belanja. Sama saja dengan kegiatan belanja yang lain di negeri sendiri. Bedanya, di sini tidak ada tawar menawar. Dan saat saya membayar ke kasir harus pakai bahasa asing. Melihat ke arah monitor jumlah pembayaran, kasih uang, dan bilang “Gracias”. 
 
Dermaga di samping Maremagnum
Maremagnum Cinema
Air dermaganya bening banget
Mungkin nanti akan lebih menarik cerita di hari terakhir. Jalan-jalan ke mana? Masih rahasia. Yang melewatkan hari ke satu, dua, tiga, empat, bisa blogwalking ke sini ^^. 

>> To be continue

Sabtu, 09 November 2013

Barcelona, Fourth Day

Masih terbangun dengan cantik di kamar nomor 208 Hotel Tryp Barcelona. Jam analog di HP saya masih menunjukkan pukul 4 pagi waktu Barcelona. Saya langsung meraih labtob dan membuka akun facebook. Berharap ada teman di tanah air yang bisa saya ajak ngobrol. Dengan selisih waktu 5 jam, tentunya teman-teman saya di Indonesia sudah pada beraktivitas. Sementara itu, Sarah, teman sekamar saya, masih terlelap. 

Matahari terbit. Langit di luar sudah terlihat terang. Saya beranjak dari ranjang. Seperti biasa, saya membuka tirai dan melongok ke luar sebentar. Matahari yang muncul dari balik bukit terlihat indah dari tembok kaca kamar di lantai 2 ini. Bias golden rise-nya sayang untuk dilewatkan. Beginilah ritual pagi saya, sebelum berpindah tempat ke kamar mandi.

Oh, ya. Sesuai dengan rencana, Sarah hari ini akan terbang ke Indonesia. Dia harus mengikuti ujian dari salah satu mata kuliah yang dia ambil di fakultas kedokteran Universitas Tri Sakti. Eh, Sarah ini calon dokter lho. Pekerjaan tetap keluarganya secara turun temurun. Mama Papanya dokter. Mungkin juga begitu dengan Opung-opungnya.

Berhubung Sarah sudah packing semalam, pagi ini dia tinggal pergi kebandara. Saya dan Sarah turun bersama untuk sarapan. Usai sarapan kami berpisah. Rasanya sedih juga. Meski baru 4 hari kenal dan langsung tidur sekamar, saya sudah menganggap dia seperti adik sendiri. Yach, namanya di negara asing, orang lain pun bisa jadi saudara. Jadi ingat mamanya Sarah yang baik itu.

Saya kembali bergabung dengan rombongan untuk melanjutkan perjalanan. Sementara Sarah harus berbelok ke Bandara. Sendirian. Salut buat Sarah.

Di hari keempat ini, kami di ajak jalan-jalan ke pantai. Dari hotel, kami langsung meluncur ke Sitges. Salah satu kawasan pantai terbaik yang dimiliki Barcelona. Sitges berjarak 35 km dari Barcelona. Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam di dalam bus untuk sampai ke tempat ini. Untuk menyentuh bibir pantai, kami masih harus berjalan berkilo-kilo meter dari tempat parkir. Lumayan membakar kalori.

Sitges menyambut kami dengan cuaca yang cerah. Khas cuaca pantai. Panas dan berangin. Suasana jalan di Sitges pagi ini masih terlihat sepi. Masih jam 9, aktivitas harian masyarakat belum dimulai. Seperti kota-kota lain di Barcelona, di Sitges pun tidak ada kendaraan besar yang lewat. Hanya terlihat beberapa skuter dengan ban bulat yang ukurannya lebih besar dari skuter yang biasa kita lihat di alun-alun kota. sepertinya, setiap kota di Barcelona memang dikonsep untuk tidak dilewati kendaraa-kendaraan besar seperti bus, tronton, truk, kecuali di jalan raya.

Inilah kenapa Barcelona sangat menyenangkan untuk berjalan-jalan. On foot, tentunya. Udaranya terjaga. Polusinya tidak gila-gilaan seperti di kota-kota besar di negeri saya tercinta. Jalanan teratur. Seandainya ada macet pun, macet cantik. Gak ada bunyi-bunyian klakson yang memekakan telinga. Suasana tetap adem.

Toko-toko yang berjajar di sepanjang jalan Sitges sedang bersiap untuk buka, saat kami lewat. Sttt, di Sitges ini kamu akan menemui banyak lelaki centil. Mukanya sih ganteng. cashing macho. Tapi ya gitu, tingkahnya gemesin.

Pantai sudah terlihat. Kami mempercepat langkah agar segera bisa menikmati keindahan ini. Dan untuk beristirahat tentunya. Kami berdiri depan sebuah gereja. Gereja Sant Bartomeu i Santa Tecla. Gereja ini dibangun pada abad 17. Bangunannya terlihat tua eksotis. Memiliki altar yang tinggi. Dari sini kamu bisa menikmati pemandangan Pantai Sitges dengan leluasa.

Karena beriklim mediterania yang memastikan matahari akan bersinar selama 300 hari, Sitges merupakan salah satu tujuan wisata favorit di eropa. Ditambah, kota ini terkenal dengan kehidupan malamnya. Bocoran nih, Kota Sitges ini surganya kaum maho. One of the most friendly places for homosexuals. Sebagian besar tempat hiburan malam di Sitges diperuntukkan bagi kaum gay atau lesbian.

Kembali ke pantai. Sitges memiliki 17 pantai pasir. Ombaknya tenang. Lingkungannya bersih dan rapi. Saya sarankan, jika ingin berjalan-jalan di pantai ini, kamu harus memakai sunblock. Matahari di sini menyengat. Jangan tertipu dengan hawa dingin yang kamu rasakan. Pulang-pulang, kulit kamu akan menghitam.

Oh, ya, harga barang-barang di sini juga mahal. Tidak disarankan untuk berburu oleh-oleh di sini. Selama berjalan-jalan di tepi pantai, saya dan rombongan hanya berburu foto saja. Dan sekali membeli es krim bersama-sama. Es krim cone di sini mencapai 4 euro. Kalau 1 euro = 12.000 rupiah. Silakan hitung sendiri harganya dalam rupiah.

Dari pantai menuju parkiran, kami harus berjalan jauh lagi. Miss Ana, guide kami dari Barcelona, mengajak kami mengambil jalur yang berbeda dengan saat berangkat tadi. Kali ini kami melewati rentetan restoran yang ada di pinggir jalan. Suasana sudah jauh lebih ramai. Pusat perbelanjaan di Sitges sudah lebih pasarawi –maksudnya, benar-benar terlihat seperti pasar ^^–.

Pemandangan dari altar gereja
Perahu pun berjajar rapi
Jalan di tepi pantai
Pasukan hotel, restoran, dan tempat hiburan
Doggi berlarian di tepi pantai
Yeee... Yuyun in action
Patung Leonardo da Vinci
Salah satu sudut Sitges
Bus Sagales lengkap dengan supirnya yang ganteng sudah menunggu di parkiran. Saya dan rombongan melanjutkan perjalanan. Agenda kami selanjutnya adalah makan siang. Bus membawa kami ke tempat yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Ke sebuah restoran spanyol. Saat turun dari bus, saya tidak menyangka bahwa ini adalah restoran. Bangunan dengan eksterior putih ini dari luar lebih terlihat seperti hunian tempat tinggal atau rumah. Tumbuhan bunga dan pohon mengelilingi bangunan ini. Tapi begitu masuk, suasanya sudah lain. Beberapa set kursi dengan meja bundar, kotak, dan panjang tersedia di restoran ini. Tinggal pilih sesuai jumlah rombongan. Kami duduk di pojokan. Di meja paling panjang. Desain interior di restoran ini unik. didominasi oleh kayu dan mozaik.

Seorang bertubuh gembul, berpakaian putih ala koki keluar dengan membawa daftar menu. Om Mario, Tour Leader kami, memilihkan menu makanan.

Tidak butuh waktu lama untuk menyediakan pesanan kami. Tidak sampai seperempat jam, beberapa orang berpakain putih ala koki yang lainnya menghampiri meja kami dengan meletakkan piring, mangkuk, gelas, garpu, pisau, dan disusul menu yang akan diisikan ke piring-piring tersebut. Sup makaroni sudah lebih dulu dihidangkan sebagai makanan pembuka. Rasanya hambar. Untung masih ada mayones dan beberapa potong roti gandum yang bisa kami santap dan memberikan rasa asin pedas di lidah kami. 

Sup makaroni
Hidangan pokok selanjutnya adalah stik iga kambing. “lumayan ada rasanya”. Saya suka geli sendiri kalau ingat makanan-makanan yang pernah saya makan di Barcelona. Tapi ini adalah steak paling enak yang pernah saya makan di sini.

Selanjutnya, kami disuguhi roti karamel. Manis sekali. Setiap kali makan selalu seperti ini. Membuat saya berpikir dan menyimpulkan “Inilah kenapa orang eropa gembul-gembul. Lha kalo makan saja kayak gini. Hidangan pembuka, pokok, dan penutup. Tiga kali sehari. Pantaslah kalo gizi mereka sangat tercukupi”.

Dari restoran yang unik ini, kami kembali ke Placa Catalunya. Hanya sedekar untuk menghabiskan waktu sampai tiba saatnya makan malam. Berhubung Sarah sudah tidak ada, saya mencari partner lain untuk jalan-jalan. Kali ini bersama Dek Indah dan ayahnya. Kami bertiga berjalan sampai ke pasar tradisionalnya Catalunya. First time. Dan tetap kagum. Pasarnya teratur. Dan yang paling penting, bersih. Dari pasar, saya mendapatkan 2 potong besar coklat hitam dan putih. 

Macam-macam coklat di pasar
Jajanan kita juga ada di sini lho
Kami berburu oleh-oleh yang lain. Sebuah toko dengan pengunjung paling banyak yang kami pilih.

“Selamat siang.” Sapa pemilik toko.

“Siang.” Kami menjawab dengan nada keheranan. Bahasa Indonesianya lancar.

Alih-alih sibuk memilih barang yang akan kami beli, kami malah asyik ngobrol dengan pemilik toko. Seorang pria berpasport pakistan. Saya lupa namanya. Dia bercerita, pernah tinggal di Bali selama 6 bulan. Dan kagum dengan keindahan Pulau Bali.

Kami berjalan menjauh dari area pertokoan Catalunya dengan membawa tentengan berisi cindera mata. Mulai dari gantungan kunci, baju, payung, tas, yang semuanya berlabel Barcelona. Berakhir dengan duduk cantik di bangku taman. Dan... itu kan Sarah. Yeyeye lalala Sarah kembali lagi.

Ceritanya, Sarah tidak jadi terbang ke kampung halaman hari ini. Pihak bandara tidak bisa mengijikan Sarah ke luar Barcelona hari ini. Dan saya senang sekali. Malam ini tidak jadi tidur sendiri.

Menjelang malam, kami menuju Restoran Cina langganan untuk santap makan malam. Yuhuuu, ketemu nasi lagi. Minum teh cina lagi. Makan ayam goreng dan sayuran lagi. Dan hari ini berakhir di kasur empuk Hotel Tryp lagi.

Yang belum baca cerita di hari pertama, kedua, dan ketiga, bisa ngeklik di sini. Next, lanjut lagi ya. Malam ini, mata sudah tidak bisa diajak kompromi. See ya!

>> To be continue

Senin, 21 Oktober 2013

Barcelona, Third Day

Saya berdiri di dekat jendela. Menatap langit Barcelona di pagi hari. Jalanan masih lenggang. Kabut bercampur embun membuat udara sedikit lembab. Sudah 3 hari saya menghirup udara di kota ini. Rasanya semakin betah saja. Tata kota yang bagus dan kehidupan yang teratur adalah salah satu hal yang membuat saya kagum dengan Barcelona. Bahkan, berada di kamar hotel saja saya merasa damai. Udara di dalam kamar terasa dingin. Namun, akan langsung berubah manjadi hangat ketika kita berpindah ke kamar mandi. 

Pagi ini saya menghabiskan banyak waktu di kamar mandi. Memanjakan tubuh yang terasa sangat lelah. Sejak berangkat dari Jakarta, saya belum bisa beristirahat dengan nyenyak. Mungkin karena tubuh masih memerlukan adaptasi dengan ekosistem baru hehe. Berendam di bathup dengan air hangat beraroma terapi, membuat badan terasa lebih fresh.

pukul delapan waktu setempat, saya dan Sarah sudah duduk manis di restoran untuk sarapan. Hari ini kondisi perut sudah lebih stabil. Tidak eneg lagi saat melihat aneka makanan yang tersedia –berharap ada soto atau nasi goreng, huhuhu–. Saya memilih telur dadar dan beberapa potong biskuit untuk mengisi perut. Jus jeruk dan air putih sebagai minumnya. Potongan melon dan pepaya sebagai penutup. Dan sedikit yogurt yang saya fungsikan sebagai penyeimbang pencernakan. Ah, saya jadi teringat beberapa cup mi instan yang ada di koper.

Di hari ketiga ini, saya dan rombongan akan jalan-jalan ke luar kota. Kami akan plesiran ke Girona dan Montserrat. Dua tempat wajib kunjung saat berada di Barcelona. Girona yang terkenal dengan tata kota yang unik. Dan Montserrat dengan pemandangan alamnya yang menakjubkan.

GIRONA. Kota ini terletak 100 km ke arah utara kota Barcelona. Lumayan jauh. Butuh waktu 2 jam menggunakan bus untuk sampai di sini. Girona kota yang tenang. Setenang aliran sungai Onyar yang mengalir di tengah kota. Yang unik dari kota ini adalah bangunan warna-warni yang berbaris rapi di sepanjang tepi sungai Onyar. Girona sangat terkenal dengan legenda kissing the famous lion of Girona. Legenda yang mempercayai bahwa, orang yang mencium bokong patung singa yang berada di jalan masuk kota lama Girona ini, dia akan kembali lagi ke tempat ini. Amin. 

Lion of Girona

Bangunan warna warni di sepanjang sungai
Saya dan rombongan berjalan kaki memasuki area kota lama. Jalanya nanjak dan berkelok-kelok. Tujuan kami adalah Katedral Saint Mary of Girona. Sebuah gereja Kristen primitif yang pernah beralih fungsi menjadi masjid pada abad ke-7. Jadi, jangan heran jika di beberapa bagian gereja ini terdapat arsitek khas timur tengah. Yang saya Sayangkan ketika memasuki wilayah dalam gereja, para wisatawan dilarang memotret.

Kota lama Girona

Musisi jalanan dengan alat music tradisionalnya

Bangunan di sekitar gereja

Anak-anak yang belajar di depan gereja
Di Girona ada festival bunga tahunan. Biasanya diselenggarakan saat musim semi. Sekitar bulan Mei. Dan beruntung sekali, saya ke sana pada bulan Mei. Meskipun, tidak bertepatan dengan hari perayaan festival bunga, tapi kami berkesempatan untuk melihat persiapan festival bunga tahun ini (2012).

Persiapan festival bunga
Dari Girona, saya dan rombongan melanjutan perjalanan ke Montserrat. Rute menuju Montserrat ini subhanallah sekali. Jalannya berkelok-kelok khas pegunungan. Saya bisa menikmati pemandangan alam yang luar biasa sepanjang perjalanan. Bukit-bukit yang tersusun tak beraturan dari batuan bergerigi. Dan segala macam tanaman yang tumbuh di atasnya. Kalau di Jawa, gambarannya seperti perjalanan ke Gunung Kidul lah –jauh banget Ye?!–.

Saya dan rombongan tiba di Montserrat hampir sore. Ramai sekali. Suhu udara di sini terasa lebih dingin. Anginnya juga kencang. Kami langsung menuju restoran yang berada di tepi tebing untuk menyantap makan siang –late lunch. Makan siang kok jam 15.00 lebih–.

MONTSERRAT. Pegunungan ini berada pada ketinggian 1.240 mdpl. Terletak di sebelah barat laut kota Barcelona. Terkenal dengan patung The Black Madonna. Yaitu patung Maria yang berwarna hitam legam. Warna hitam tersebut, diperkirakan berasal dari asap lilin yang menumpuk selama ratusan tahun. Di pegunungan Montserrat terdapat sebuah gereja dan museum. Basilika. Iya, disebut Basilika Montserrat.

Pemandangan sepanjang jalan menuju Montserrat

Barcelona dari Montserrat

Pegunungan bergerigi

Patung yang matanya serasa hidup

Teras gereja

Dalam gereja
Sebenarnya tidak banyak yang bisa saya ingat tentang gereja dan museum di sini –maaf, saya tidak terlalu concern dengan sejarah katedral yang berdiri megah di tempat setinggi ini–. Saya kelewat takjub dengan pemandangan alam yang terpapar. terlanjur dibuat kagum dengan karya cipta Tuhan yang se-WOW ini.

Satu hal yang tidak boleh terlewat saat ke Montserrat adalah kereta gantung. Kereta gantung ini menjadi penghubung antara Basilika Montserrat dengan tempat parkir bus kami. Ini pertama kalinya saya naik kereta gantung. Rasanya, dududu syalala. Alias menyenangkan. Karena suguhan pemandangan alamnya benar-benar luar biasa. Bisa juga menjadi therapy untuk mereka yang phobia dengan ketinggian. Saat melihat pemandangan yang begitu luar biasa, dijamin kamu akan lupa dengan yang namanya ketinggian –semoga–.

Kereta gantung

Tempat pendaratan kereta gantung

Seperti biasa, plesiran hari ini ditutup dengan makan malam. Di Restoran Cina lagi. Alasannya, ya biar kita ketemu sama nasi lagi. Di restoran yang kami kunjungi -selain Restoran Cina-, kami tidak menemukan menu nasi. Dan perut kami masih perut pribumi yang selalu membutuhkan nasi setiap harinya ^^.

Malam ini, kami tiba di hotel lebih larut dari biasanya. Saya langsung menuju kamar. Kemudian tekpar. Charging tenaga untuk perjalanan selanjutnya.

Demikian, yang bisa saya sampaikan di hari ketiga. Pengalaman hari ke pertama dan kedua bisa kamu intip di sini. Tunggu cerita selanjutnya ya, masih ada 3 hari lagi ^^.

>> to be continue