Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2020

Jodoh 5: Doa

Percayalah pada kekuatan doa. Apalagi doa yang berulang-ulang. Bukankah apa pun yang sekarang ada pada kita ini adalah hasil dari doa-doa di masa lalu? Itu juga yang ku lakukan ketika sedang meminta jodoh pada Tuhan. Berdoa seseringnya. Berdoa mohon yang sebaik-baiknya. Dan tentu dengan kesungguhan yang luar biasa.

Jauh sebelum ketemu Mas Anang, setiap harinya ku selalu berdoa. Selalu. Gak pernah alpha. Setiap hari mengulang doa yang sama. Kata yang sama. Semoga kelak dijodohkan dengan orang yang begini begini begini. Yang baik, yang sholeh, yang ganteng, yang kaya, dan lain sebagainya.

Gimana caranya supaya bisa mengucapkan doa yang sama secara konsisten? Tulis!

Tulis hal-hal yang diinginkan dalam selembar kertas. Sedetail mungkin. Tempel kertas di sudut yang sering terlihat oleh mata. Setiap kali melihat kertas tersebut, baca! Itu yang kulakukan. Gak cuma sebulan dua bulan kertas yang tertulis tentang bagaimana jodoh yang kuinginkan tertempel di lemari dekat kasur. Bertahun-tahun. Iya, selama bertahun-tahun aku merapalkan doa yang sama setiap harinya. Bertahun-tahun, sodara-sodara...

Lalu, apa semua yang tertulis di kertas itu ada pada Mas Anang sekarang? No. Tapi, aku berani bilang 80% yang kuminta, aku menemukannya di diri Mas Anang.

The power of praying.


***

Ini pertemuan kami yang ketiga dalam kurun waktu sepuluh hari. Kalau dirata-rata, berarti setiap tiga hari sekali kami bertemu. Lumayan sering lah untuk tahapan PDKT. Yang membuat berbeda di pertemuan kali ini adalah today is my day. Hari lahirku. Pas mau dijemput, gak ada pikiran apa pun tentang apa yang akan dia lakukan di hari ulang tahunku ini. Lha, gimana, orang ngakunya cinta, tapi dari pagi ngucapin selamat ulang tahun aja enggak. Segakromantis-romantisnya dia, masak ngucapin ulang tahun aja gak ada inisiatif. Lak yo aku dadi piye ngono to.

Kalau aku cinta sama orang, ini kalo aku, ya... Aku akan selalu jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun ke dia. Akan selalu menjadi orang pertama yang ada kapan pun dia butuh. Dan akan menjadikan dia orang pertama yang tahu segalanya tentangku. Tapi, cara mengungkapkan rasa cinta setiap orang kan berbeda. Jadi, gak semua-muanya harus sama kayak aku atau kamu.

Balik lagi ke pertemuan. Di sore yang cerah, dia tiba. Langsung capcus. Psttt... Ternyata ada yang sedang berusaha ngasih surprise. Ketika buka pintu mobil, udah ada sebuket mawar merah di kursi penumpang. Mawar merah yang kapan lalu pernah jadi bahan obrolan. Eh, tahunya dikasih sama dia di hari ulang tahun. Seneng, sih, tapi tetep sok cool dong. Jaim.

Dulu gitu. Kode-kode aja dia udah nangkep. Udah peka mesti dieksekusi kayak gimana. Sekarang? Ya Rabb.. Aku minta tanpa tedeng aling-aling juga dicuekin aja. Alhasil kalo pengan kembang, mending beli sendiri. Daripada ngarep-ngarep, tapi gak dikasih-kasih. Kesel iya, capek juga. Kuncinya, if nobody treats you well, treat yourself very well. Gitu, ya, kawan-kawan yang senasib denganku.

Lanjut ke surprise berikutnya, ah. Pas di tempat makan tiba-tiba ada kue ulang tahun terbang. Eh, gak gitu, ding. Yang bener, ada mbak-mbak yang tiba-tiba datang dengan membawa kue ulang tahun sambil nyanyi lagu Happy Birthday. Ya Allah... ini awkward moment banget. Udah setua ini masih dikasih kejutan begitu. Tapi, seneng kok. Kalo dikasih surprise begitu lagi, aku gak mau.... gak mau nolak! Mas, kalo kamu baca, tolong ini digarisbawahi, ya!

Kejadian terakhir di hari ini yang lumayan bikin terkejut  yaitu saat sudah berada di rumah. Pas dianter pulang. Ini pertama kalinya ku ngajak dia masuk rumah. Di pertemuan-pertemuan sebelumnya, paling pol hanya sampai depan rumah. Cuma nurunin aja. Abis itu bye. Kali ini niat hati ingin mengenalkannya pada orang tua. Ben ora dibatin wae. Biar orang tua tahu selama sepuluh hari ini anaknya sering pergi sama siapa? Jadi, kalo ada tetangga yang gak enak omongannya, orang tuaku woles aja.

Singkat cerita mereka kenalan. Tentu, tanpa aku ikut campur dalam pembicaran antara calon mertua dan calon mantunya. Dari dalam kamar, samar-samar aku mendengar seorang lelaki muda berkata, "Pak, kulo niku ajeng serius kalih Dek Yuyun."

Ya Allah "Dek". Ini pertama dan terakhir kalinya Mas Anang manggil aku Dek. Pengen ketawa, tapi kok kasihan sama dia yang pasti sedang deg-degan di luar sana. kwkwkw....

BTW, Thankyou, ya, Mas.. Udah ngasih memori baik banget di hari ulang tahunku. Makasih untuk kado terindahnya. Berupa kehidupan bersama.


Selasa, 28 Juli 2020

Jodoh 4: Meminta

Pas masih muda ngebayangin kalo suatu saat akan dilamar oleh seseorang dengan cara yang sangat romantis. Lagi makan malam di sebuah restoran, dikasih cincin, ada backsound lagu-lagu cinta. Terus nanti ada fotografer tersembunyi yang mengabadikan moment. Pokoknya gitu deh. Pengen di-surprise-in seromatis-romantisnya pas lamaran.

Tapi... namanya juga hidup. Gak semua keinginan bisa terwujud. Alih-alih dilamar dengan seromantis itu, yang ada dapat suami yang gak ngerti gimana caranya romantis. Huft. Sebel apa seneng? Ya, ada sebelnya. Sebel banget kalo pas pengen diromantisin, tapi dianya gak respon. Senengnya, (biasanya) modelan cowok kaku macam ini gak mata keranjang. Gimana mau mata keranjang, ngegombal aja gak bisa.

***

Pertemuan pertama done. Lanjut, dong, ke pertemuan berikutnya. Pokoknya ketemuanya ngebut. Aji mumpung, pumpung dia di rumah. Dimanfaatkan baik-baik waktunya untuk saling mengenal. Kan niatnya memang ke jenjang pernikahan. Bukan cuma hore-hore pacaran.

Sama seperti di pertemuan sebelumnya, di pertemuan kali ini aku juga masih gak banyak omong. Masih berusaha men-screening makhluk yang ngajak jalan ini. Mengambil informasi dari dia sebanyak-banyaknya. Untuk kemudian diolah di otak, dan dikirim ke hati. Hallah... Ya, dong. Sebisa mungkin akalnya dipakai dulu, sebelum dikasih ijin masuk ke hati. Soalnya kalo sudah di hati, akal ini kadang-kadang udah susah diajak berpikir waras.

Lanjut cerita pertemuan. Jadi, waktu itu kita jalan sore-sore. Ngopi. Terus, abis itu makan. Gak ada perasaan apa pun saat itu. Semua berjalan kayak biasa aja. Kecuali, makanan yang aku pesan rasanya gak enak. Huhuhu. Sedih banget soal ini. Pesen makanan kesukaan, eh, rasanya ya-gitu-deh.

Lagi nyebelin makanan yang gak enak, eh, tiba-tiba ada suara lirih dari manusia yang duduk di sampingku. Lirih banget. Agak bergetar, "Mbak, kamu mau gak jadi ibu dari anak-anakku?"

Sumpah! Itu kalimat rasanya ngeri sekali. Gak ada romantis-romantisnya seperti yang pernah kubayangkan ketika muda dulu. Sengeri apa? Di cuaca yang dingin saat itu, tubuhku tiba-tiba terasa panas. Jantungku mendadak berdegup kencang. Kedua tanganku juga ikutan bergetar. Berasa lagi dipepet sama makhluk astral. Tapi, ya, tetep ku pura-pura terlihat baik-baik saja. Haha...

No! Gak langsung kujawab. Ogah lah. Lhawong dia ngomongnya aja lirih banget. Minta ambil alih hidup anak orang, tapi gak ada tegas-tegasnya. Ku minta ulang, dong. Harus jelas, sambil pegang tangan, dan natap mataku. Dalam hati ku membatin, "Kapok. Kukerjain."

Aku tahu kok. Saat itu, dia juga ngerasain yang kurasain. Lebih dari yang kurasain malah. Lebih deg-degan. Lebih khawatir. Lebih banyak butuh keberanian. Tapi, akhirnya dia ulang juga, "Mbak, kamu mau gak jadi ibu dari anak-anakku? Jadi istriku? Jadi duniaku? Menua bersamaku?"

Kujawab, "Insha Allah. Aku mau."

Udah. Gitu doang. Gak ada foto bareng, apalagi difotoin sama fotografer. Gak ada backsound lagu-lagu cinta, yang ada hanya suara kodok dan kawan-kawannya. Gak ada acara kasih cincin, adanya cuma dijajanin makan yang kebetulan gak enak. What kind of proposal is this?

Gak apa-apa. Ketika kubilang, "Aku mau," artinya, kumau menerima segalamu. Baik dan burukmu. Sehat dan sakitmu. Susah dan senangmu. Insha Allah.

Rabu, 19 Februari 2020

Jodoh 3: Bertemu

Tips buat teman-teman yang lagi pendekatan dengan seseorang. Sekali-kali cobalah cara ini untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Adalah dengan saling bertukar informasi tentang hal-hal mendasar dalam diri masing-masing. Misalnya, saling bertukar daftar 10 hal yang disuka dan tidak disuka. Atau dengan saling menyebutkan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ini juga dibuat daftar biar lebih spesifik. Dan harus jujur.

Aku dulu begitu. Aku menyusun daftar hal-hal yang kusuka dan tak kusuka. Kutukar dengan daftar miliknya. Aku  menyebutkan kelebihan dan kekuranganku, pun dia. Ini dimaksudkan untuk tau sejauh mana dia mengenal dirinya sendiri. Kalo dia kenal dengan dirinya sendiri, menyebutkan kekurangan dan kelebihan dalam dirinya bukan perkara sulit, kok.
 
Kalo aku, agak-agak berlebihan soal ini. Kubilang kalo diriku ini tak bisa memasak, pemalas, jarang  mengerjakan pekerjaan rumah, padahal, ya... memang begitu adanya kwkwkw. Pokoknya gambarkan diri sejelek-jeleknya, kalo dia masih oke, ya baguslah. Kalo dia menyerah gara-gara ini, ya udah, bye. Seseorang yang tak mau menerimamu saat kamu jelek, buruk, bulukan, bau, malas ngapa-ngapain, pengennya rebahan saja, sesungguhnya dia tak layak ada di saat-saat terbaikmu. Gitu...

Atau bisa juga dengan mengatakan sesuatu yang ‘gak baik’ menurut khalayak, tapi kita melakukan. Misal, soal tattoan yang kukatakan kemarin. Ku hanya ingin tau reaksinya. Ingin tau seterbuka apa pikirannya terhadap hal-hal yang dianggap ‘gak baik’ oleh banyak orang.

Karena sungguh aku tak akan memilih lelaki yang judgemental. Yang intoleransi. Yang pikirannya tak seterbuka itu. Dan yang tidak bertanggung jawab.

***

Akhirnya pulang juga dia. Tepat di bulan April 2017. Ngepasin sama bulan ulang tahunku, mungkin. Mau kasih kejutan atau apa gitu, mungkin. Biar dikira romantis. Soalnya di antara 10 hal yang kusuka yang pernah kutulis untuknya, salah satunya adalah, kusuka dengan lelaki romantis. Kalo beneran begitu, nice try lah.

Dan sore itu kita janjian ketemu. Di kepalaku ini tak punya banyak bayangan tentang dia. Yang kuingat hanya wajah maskulin dan kulit gelapnya. Oh, dan tentu saja lagu yang pernah dia nyanyikan semasa SMP dulu. Lagu apa itu? Lagu Madu dan Racun yang liriknya diganti dengan semangat kepramukaan. Nakal-nakal gitu, dia anak pramuka juga.

Di pertemuan pertama, ku tidak banyak omong. Rasanya masih awkward. Di benak ini masih yang, “Hei, kok bisa, sih? Kok kamu? Beneran ini kita ketemu dengan tawaran rencana masa depan? Serius?” ya begitulah.

Ada beberapa hal yang lumayan mengesankan di pertemuan pertama ini. Terutama, tentang caranya memperlakukanku. Sangat manis. Untuk ukuran orang yang baru sekali bertemu, dia memperlakukanku dengan sangat baik. Meanwhile, aku tidak sebaik itu ke dia waktu dulu.

Mas, tolong, Mas. Kalo kamu ingat bagaimana manisnya kamu dulu ke aku, jangan cuma cengar cengir. Tetaplah semanis itu, niscaya mamanya anakmu ini akan menjadi wanita yang paling bahagia. Masih ingat, kan, gimana kamu mengantarjemputku hingga ke depan pintu restoran, agar aku tak kehujanan? Masih ingat saat kamu membukakan pintu mobil untukku pas mau turun? Masih ingat juga kalo pengen ngerokok, kamu menjauh dariku, karena tau aku tak suka asap rokok? Kuharap, kamu tetap semanis ini hingga kita tua nanti. Tetap menggandeng tanganku saat kita jalan. Tetap memelukku saat aku sedang tak baik-baik saja. Tetap sering-sering bilang cinta. 

Setelah menampilkan kesan baik dengan sikapnya yang manis, selanjutnya dia memberi penjelasan kenapa beberapa kali menunda kepulangannya. Hal ini sempat membuatku berpikir bahwa dia tidak serius. Lha kalo beneran serius lak yo ndang buktikan dengan segera menampakkan diri, bukan cuma speak-speak aja. Kalo sekadar speak-speak aja, penyiar radio jagonya.

Jadi, apa alasannya? Sebentar, kuceritakan kronologisnya dulu. Jadi, seringkali dia menawariku mau minta apa? Mau dibelikan apa? Lagi butuh apa? Dan diriku yang kampungan ini selalu tak punya jawaban atas tawaran-tawaran itu. Bukannya gak butuh apa-apa, tapi diri ini merasa gak pantes menerima ini itu dari orang yang baru saja dekat, yang ketemu saja belum pernah. Sebagai perempuan jawa, lak mesti ono rikuh pekewuhe.

Tapi, dasar Leo yang keras kepala, dia tetep maksa. Ya, udah, sekalian ngetes lagi aja. Sejauh mana usahanya untuk mewujudkan keinginanku? Kebetulan saat itu aku lagi pengen banget buku Harry Potter lengkap. Seri 1 sampai 7. Akhirnya minta tolong ke dia buat nyariin buku-buku itu. Kubilang, kalo beneran mau serius, harus dapat buku-bukunya. Gak boleh gak. Kayaknya nyarinya mayan susah, sih. Soalnya waktu itu di toko buku udah gak ada. Kalo pun ada, pasti juga gak lengkap.

Panjang cerita setelah mendaki gunung lewati lembah arungi samudra nyebrang sungai jalan berkilo-kilo, akhirnya dia berhasil. Setelah buku-buku itu ada di tangan, dia baru berani pulang. Begitulah. Saat pulang, dia tidak hanya membawa harapannya sendiri, tapi bersamanya ada keinginanku yang diwujudkan. Benar-benar ingin membuktikan bahwa dia serius terhadap segala apa yang dikatakannya selama ini. Sangat serius.

Di pertemuan pertama ini, ku sangat menghargai segala usahanya. Sangat berterima kasih atas semua yang dia upayakan. Saat itu aku melihatnya sebagai lelaki baik. Lelaki yang bisa memperlakukanku dengan baik.

Iyalah, Mbak. Namaya juga lagi usaha. Pasti memberi kesan sebaik mungkin, biar Mbaknya terpikat. Gitu aja gak ngerti.

Sabtu, 15 Februari 2020

Jodoh 2: Mendekat

Kedatangan Mas Anang adalah berkah. Kok? Jadi, cerita dikit, nih. Sebelum kedatangannya, ku sempat dijodohkan dengan seseorang yang kutak suka. Tentu saja kutolak. Dan ini sempat membuat hubunganku dengan orang tua menegang.

Ya, aku mengerti perasaan orang tuaku. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk anak gadisnya yang hingga menginjak usia kepala tiga masih sendiri saja. Tapi… aku juga bukan tipe anak manis yang iya-iya aja sama semua pilihan orang tua. Sebagai manusia merdeka, ku juga punya keinginan, punya pilihan. Apalagi ini perkara memilih pasangan hidup yang konsekuensi dari pilihannya akan dijalani seumur hidup. Yang untuknya aku akan mencurahkan seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan. Yang darinya aku akan punya keturunan. Yang dengannya aku akan menjalani hari tua bersama. Aku gak bisa ngebayangin aja menjalani hidup dengan orang yang sedari awal sudah tidak ku suka.

Dan kehadiran Mas Anang  seperti mengakhiri drama panjang perjodohan ini. Thanks, Mas. Kamu datang tepat waktu.

***

Sejak sapaan di inbox facebook waktu itu, papanya anakku ini mulai meluncurkan jurus-jurus pendekatan. Pendekatan jarak jauh. Posisi kita memang gak sekota. Ku di sini, dia jauh di Bogor sana. Kalo alamat di KTP, sih, deketan. Deket banget. Jarak antara rumahku dan rumahnya gak lebih dari 2 km.

Ribet gak tuh pendekatan jarak jauh? Entah. Nanti, deh, kutanyakan sama dia. Kalo aku sebagai pihak yang didekati, sih, biasa aja kwkwkw...

Seingatku, dia intens banget ngubungin tiap hari. Pagi sore malem kirim pesan mulu. Standar orang-orang kalo lagi PDKT lah. Aku, waktu itu masih jual mahal. Bales pesannya kalo sempat doang. Atau kalo mood aja. Kalo dipikir-pikir kok jahat, ya kwkwkw...

Ya, gimana? Sebagai seorang perempuan yang udah berkali-kali mengalami patah hati, aku kan juga harus jaga diri dan hati. Ora angger. Lagian secara usia, ku juga tak lagi belia. Sudah saatnya menemukan atau ditemukan oleh seseorang yang serius, gak cuma main-main aja. Dan tentunya seseorang yang kuklik juga dengannya.

Sedari awal, dia sudah menyatakan ingin serius. Sempat mikir, ini orang gila apa gimana? Ketemu belum pernah, udah PD mau serius aja. Nanti kalo pas ketemu dan aku gak sesuai dengan ekspektasinya, lak yo malah masalah. Menimbulkan kekecewaan dan berujung tidak baik pada sebuah hubungan. Atau ini orang hanya pasang umpan saja? Semua gadis diajak serius, yang mana yang nyantol duluan diajakin serius beneran gitu.

Auk, ah..

Yang pasti semakin hari, intensitas chatting kita semakin bertambah. Dari situ, ku berlahan mulai mengenali karakternya. Tentang dia yang perhatian. Dia yang tidak suka nge-judge. Dia yang open minded. Dia yang bertanggung jawab. Dan dia yang sangat wagu dalam menunjukkan perasaannya.

Hallah, Mbak, baru ngobrol aja udah menarik kesimpulan, sih? Ehm... Jadi, begini...

Suatu waktu ku pernah bilang ke dia, kalo aku tattoan. Tentu saja ini pernyataan yang mengada-ada. Diada-adakan hanya untuk mengetesnya. Pada bagian ini dia lulus. Dia tidak mempermasalahkan perihal aku tattoan, aku ngerokok, atau bahkan aku mabok. Dari sini kutau kalo dia tidak suka nge-judge.

Suatu waktu lagi ku pernah bilang ke dia, kalo sudah nikah nanti aku mau berenti kerja. lagi-lagi hanya sebuah pernyataan yang diada-adakan. Karena, sungguh kutak ada niat berenti kerja setelah menikah. Di bagian ini dia lulus juga. Dia oke-oke saja dengan aku kerja atau tidak setelah menikah nanti. Dia malah bilang, "Gapapa. Setelah menikah, susah senangmu kan tanggung jawabku." Bhaiq... sampai di sini paham, kan, kenapa aku bilang dia bertanggung jawab?

Lalu, bagaimana bisa tau kalo dia perhatian? Kan dia jauh. Masak, ya, Mbaknya percaya sama kata-kata tanpa tindakan dari seorang lelaki yang berada  nun jauh di sana.

Ini pada suatu waktu lagi. Ku pernah sakit. Gak parah, tapi lumayan mengganggu. Mengganggu kesehatan fisik, psikis, dan tentu saja isi dompet. Beberapa kali ku harus ke dokter untuk memastikan bahwa telinga kiri yang kukeluhkan ini baik-baik saja. Ku yang berobat santai saja, dia yang jauh di sana berisik terus. Sampai mau ngasih biaya pengobatan. Ya Rabb.. dipikirnya ku gak punya cukup uang untuk membiayai hidup apa gimana? Huh. Tapi, dari sini ku jadi tau kalo dia seperhatian itu.

Oh, dan tentu saja aku stalking akun sosial medianya. Untuk sekadar tau tentang pergaulan dan pemikirannya. Sebagai tambahan bahan pertimbangan kwkwkw...

Sampai di sini sudah yakin sama keseriusannya? Tentu saja belum. Tidak semudah itu, Ferguso. Pokoknya kalo dia belum menampakkan diri di depanku, aku masih menganggap bahwa niatnya hanya sebuah niat. Kalo beneran serius, tolong ya, tampakkan diri anda di depan saya. Jangan hanya berkata-kata.

Dan setelah beberapa kali dia gagal untuk menampakkan diri, akhirnya di bulan April 2017, dia muncul juga. Apa yang terjadi setelahnya? Nanti lah, akan kuceritakan.

Kamis, 13 Februari 2020

Jodoh 1: Kenalan

Jodoh itu ya gitu. Ga disangka, ga dinyana, tau-tau datang gitu aja. Pun pas aku ketemu sama papanya anakku ini, be like, ”Lhah.. kok kamu? Ngapain gak dari dulu? Ngapain harus ngilang sekian tahun, baru nongol lagi? Ngapain susah-susah jatuh cinta, lalu patah hati berkali-kali? Kan capekkk.”

Swear! Aku tu gak nyangka banget kalo bakal berjodoh sama lelaki ini. Lelaki yang pas jaman SMP dulu terkenal karena nakalnya. Karena tengilnya. Iya, sih, aku sempat ngefans sama dia, soalnya dia pinter main gitar. Cuma sebatas ngefans doang. Jatuh sukanya, sih, sama orang lain.

Dulu, kita juga hanya sekadar saling tau. Owh... ini si ini, ini si itu. Boro-boro kenal dekat, saling sapa aja kita gak pernah. Nah, habis lulus SMP, baru kita beberapa kali sapaan pas ketemu di jalan. Pas sama-sama nunggu angkot pulang sekolah. Atau pas dia ikut temen-temenku jemput aku. Selebihnya, ga ada apa-apa. Gak pake rasa.

Selepas SMA kayaknya udah sama-sama sibuk dengan kehidupan masing-masing. Aku dengan hidupku di sini. Dia dengan hidupnya di sana yang ku gak tau di mana dia berada. Dan memang gak pengen tau. Ya gimana pengen tau, lha wong keinget pernah kenal sama dia aja gak.

Hingga sekitar sepuluh tahun kemudian, aku dan dia diketemukan (oleh takdir) di sebuah acara. Ku ada undangan kondangan ke adiknya. Niatku, ya, cuma kondangan. Ketemu manten, abis itu pulang. Gak taunya diajak ngobrol sama dia. Lama banget. Mungkin jiwa Leo-nya bergejolak. Gak bisa gak tebar pesona ke mbak-mbak yang lagi sendirian. Terus, di akhir obrolan dia ninggalin nomor HP. Nomor HP yang sungguh tiada guna, karena meski kusimpan di daftar kontak, tapi tak pernah kuhubungi sama sekali.

Setelahnya, aku kembali sibuk dengan kehidupanku. Pun dia, tentunya kembali sibuk dengan kehidupannya.

Hingga Juli tahun 2016 dia menghubungiku lagi. Kali ini lewat inbox facebook. Bisa jadi karena dia nerima wangsit usai pulang kampung pas lebaran. Konon ceritanya, dia dapat masukan dari adik dan ibunya untuk memperistriku. Sungguh, calon mantu yang sangat beruntung, sudah dapat dukungan dari calon mertua dan calon adik ipar sebelum diperkenalkan.



Ya Tuhan kok aku awalnya jahat banget, sih. Itu dia inbox dari bulan Juni, baru kubalas bulan Juli :)

Demikian cerita awal gimana aku dan papanya anakku ini bisa ketemu. Bisa dekat. Lalu, menikah dan punya anak. Lain kali, akan kuceritakan lagi bagaimana perjuangannya di masa-masa PDKT dan caper ke mamanya Icel ini.

Sabtu, 01 Desember 2018

Yksel, Anakku



Namanya Yksel Al-Khawarizmi. Dia lahir di tanggal yang cantik menurut saya, 1818. 1 Agustus 2018. Tidak ada kesengajaan untuk melahirkannya di tanggal segitu, meski harus melalui c-section.

Hamil Yksel ini sangat menyenangkan. Sama sekali ga bikin susah. Ga ada acara mutah dan mual di awal kehamilan. Ga ada badan lemes-lemes. Kondisi tubuh juga oke-oke saja. Semua makanan masuk. Wewangian apa pun ga ada yang alergi. Dan saya masih bisa berkegiatan seperti biasa.

Lalu, kenapa memilih caesar kalau ga ada masalah selama kehamilan? Manusia hanya berencana, Tuhan yang menetapkan. Awalnya, saya juga menyiapkan diri untuk melahirkan secara normal. Hingga tiba usia melahirkan, tapi Yksel-nya masih betah di perut, dan saya sendiri tidak merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Apa itu bukaan 1 - 10? Maaf, saya sama sekali belum merasakan. Dan melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk caesar saja.

Soal pemilihan nama.. Jauhhh sebelum saya menikah, lalu hamil, kemudian melahirkan, nama Yksel Al-Khawarizmi sudah ada di angan-angan. "Yksel" diambil dari nama seorang pemain sepak bola asal Swedia, Yksel Osmanovski. Sedang, "Al-Khawarizmi" adalah nama seorang ilmuan dari Persia. Jadi, kalau ditanya, apa arti nama Yksel Al-Khawarizmi itu? Saya sendiri kurang tahu, saudara-saudara.

Yang pasti melalui nama itu, saya berharap, kelak, Yksel Al-Khawarizmi akan menjadi manusia yang penuh manfaat seperti tokoh-tokoh yang namanya telah saya comot. Bidang apa pun yang dia pilih untuk hidup nanti, saya berdoa dia akan selalu menjadi yang terbaik di sana. Dan yang terpenting dari semua itu, saya ingin anak ini tumbuh menjadi anak yang sehat dan gembira. 

Iya... tumbuhlah dengan penuh kegembiraan, anakku sayang. Seperti cinta Mama yang selalu penuh untukmu. 

Kamis, 29 September 2016

Sweet Pang World


Ada yang tau game Sweet Pang World? Kalo ada yang tau, yuk mari salaman sama saya. Beberapa bulan terakhir saya keranjingan sekali dolanan permainan ini. Pagi, sore, siang, malam. Saya tidak pernah melewatkan hari tanpa permainan ini.

Sebenarnya ini bukan permainan yang mewah. Permainannya sangat sederhana. Hanya disuruh untuk mengumpulkan poin. Tentu dengan rintangan yang berbeda-beda di setiap level. Saya sempat frustrasi di level 132. Puluhan kali memainkan, selalu saja failed. Lalu sempat desperate lagi di level 162. Sampai geram. Ngambek. Ogah mainin lagi. Lha hingga mencapia angka 100 kali lebih memainkannya, gak juga lolos ke level selanjutnya. 

Sampai akhirnya di permainan ke 100 sekian kali, saya bisa naik level juga. Dan rasanya.... wahhh sekali. Seneng byangetttt. Udah kayak tetiba dapat voucher belanja ratusan ribu dari online shop langganan. Dan pada saat bersamaan dapat SMS dari patjar, mau diajak kentjan di tempat favorit. Kan.... bahagia sekali pasti.

Usai menyelesaikan level 162, saya tidak langsung melanjutkan ke level 163. Saya berhenti dulu sejenak. Rebahan di kasur. Menikmati salah satu saat membahagiakan dalam hidup ini. Hallah... 

Well, mungkin ada benarnya yang bilang, bahagia itu sederhana. Sesederhana bisa melewati level 162 Sweet Pang World ini. Etapi, buat bisa main Sweet Pang World ini harus punya android dulu lho. Dan tau sendiri lah harga android sekarang ini. Pun harus punya kuota buat download. Kecuali, kalo situ pake layanan wifi di kantor, kayak saya ini. Eh... 

Gak jadi sederhana dong? Modalnya banyak gitu? Ah.. embuh lah.. yang penting saat itu saya bahagia.

Sembari rebahan, saya kepikiran; bisa melewati level sulit dalam sebuah permainan saja bisa sebahagia ini. Gimana kalo bisa melewati saat-saat tersulit dalam hidup? Pasti bahagianya berlipat ganda. 

BTW, sekarang saya sudah berada di level 176 Sweet Pang World. Dan menurut saya tingkat kesulitannya belum ada yang mengalahkan level 162. Mainnya pun jadi lebih santai. Bisa lebih menikmati.

Selasa, 19 Juli 2016

Hanya Perkara Dandan, Bukan Iklan

Sudah sejak beberapa bulan lalu sih, ada yang tanya, sekarang pake bedak apa? Eh, kemarin abis libur puanjang ada yang tanya lagi. Te, dirimu pake lipstik apa? Mbak, njenengan pake bedak apa? Beberapa orang bilang, make up saya setiap pagi keliatan bagus. Ada juga yang bilang lipstiknya keliatan nyenengin.

Nah, kali ini saya mau nulis-nulis rahasianya nih. Gak ada maksud promosi ato gimana. Biar yang penasaran pada tau aja sih. Kali mereka juga cocok pake merk yang saya pake. 

Saya berlangganan Wardah sejak beberapa tahun terakhir. Kalo gak salah sejak tahun 2013. Awalnya cuma pake krim pagi dan foundation-nya doang. Maklum, waktu itu saya masih buta soal make up. Taunya cuma itu doang. Hihi...

Makin ke sini, makin ngerti lah. Meski saya gak jago-jago banget dalam ber-make up. Lalu, enam bulan belakangan mulailah saya rutin pake krim malam. Mulai pake pelembab. Pake pelembab ini cuma habis sekemasan doang. Abisnya agak ribet sih. Udah pake krim pagi, pake pelembab, pake foundation, baru dipakein bedak. Kan... lama. Akhirnya pelembab saya tiadakan. Saya pindah ke BB cream aja untuk menghemat waktu dandan. Dan ternyata hasilnya lebih bagus dan natural. Pake BB cream, habis itu tinggal dipoles bedak padat dikit. Udah deh. 

Soal lipstik.... Ini hal paling entah lah. Entah kenapa dan entah sejak kapan saya seneng gonta ganti warna lipstik. Awalnya lipstik yang saya tahu cuma satu. Warna cokelat. Itu pun gegara teman saya pake, terus saya pengen. Akhirnya beli. Selama bertahun-tahun, cuma punya lipstik sewarna itu doang. Setiap hari pakenya cuma itu. Ke acara apa pun juga pakenya itu. Dan entah bagaimana ceritanya sekarang saya punya 8 warna lipstik di rak make up. Soal lipstik ini, saya pernah beli beberapa merk lain, tapi balik-baliknya ya ke wardah lagi yang paling cocok di bibir saya. 

BTW, ini cuma sharing-sharing ya... Sekali lagi yang cocok di saya, belum tentu cocok di anda-anda. Be wise, Dears :)

Diapit dua emak-emak yang abis dandan di salon.

Rabu, 20 April 2016

H B D

 
12 April 30 tahun lalu, seorang bocah perempuan terlahir. Di sebuah kamar kecil. Dia terlahir tanpa dibantu bidan, apalagi dokter. Hanya ada seorang dukun bayi yang datang terlambat. Begitu kira-kira cerita dari Ibu.

Lalu, oleh Bapak, anak itu diberi nama Yuyun Nasekha. Ya.. bocah perempuan itu adalah saya. FYI, gara-gara nama ini saya pernah dikira orang Ambon sama guru SMK lho. Beliau bilang nama belakang saya unik. Setuju deh… sama guru Bahasa Indonesia saya yang super killer ini. Beberapa teman di pabrik dulu juga, lebih suka memanggil saya dengan Nasekha ketimbang Yuyun.

Saya kecil yang tumbuh di kampung, pun dengan kondisi fisik yang bisa dibilang sering penyakitan ini pada suatu ketika pernah bercita-cita menjadi seorang psikolog. Cita-cita yang saat itu saya tahu betul berada di luar jangkauan. Kenapa? Karena saya berasal dari keluarga yang tidak cukup mampu untuk membiayai sekolah hingga jenjang kuliah. Bisa lulus SMK dengan mulus saja sudah merupakan prestasi bagi keluarga. Orang tua saya kedua-keduanya buruh dengan penghasilan yang tidak seberapa waktu itu. Dan harus menanggung biaya pendidikan tiga orang anak. Om saya, saya, dan adik yang masih SD. Dan waktu itu belum ada BOS kayak sekarang. Jadi, bersyukur lah anak-anak sekarang yang biaya sekolahnya ditanggung negara.

Waktu berlalu. Dan cita-cita itu hanya menjadi sebuah cita-cita hingga kini.

Setelah lulus dari SMK, saya memutuskan untuk langsung bekerja. Saya diterima sebagai karyawan produksi di sebuah pabrik garment yang tidak jauh dari rumah. Ehm.. kampung saya memang dekat dengan kawasan industri. Perempuan-perempuan di sini—saya jamin—tidak akan sulit untuk menemukan pekerjaan. Tapi, kesulitan bisa ditemukan setelah mendapat pekerjaan. Itu lah kenapa saya hanya mampu bertahan selama 1,5 tahun di pabrik tempat saya bekerja. Ternyata saya baru tahu, saya tipe orang yang tidak tahan terhadap tekanan. Dan pabrik garment adalah tempat dengan tekanan kerja yang luar biasa.

Lalu, untuk sementara waktu saya menjadi seorang pengangguran. Seorang pengangguran dengan beberapa ratus ribu rupiah yang harus ditanggung. Sempat stress? Iya! Dan untungya saat itu belum musih galau seperti sekarang, jadi stress saya tidak berkelanjutan.

Di masa-masa pengangguran itu lah saya berkontemplasi. Merenung sebanyak-banyaknya, karena memang tidak ada hal yang lain yang bisa saya lakukan selain merenung. Di ujung perenungan, saya mulai menyusun rencana hidup yang kira-kira seperti ini;

Bekerja di pabrik selambat-lambatnya 3 tahun terhitung mulai waktu dibuatnya rencana hidup itu—setidaknya hingga kredit motor saya lunas. Selanjutnya, mencari pekerjaan kantoran yang jam kerjanya tidak begitu menyita waktu—tentunya tidak terlalu banyak tekanan. Kebetulan waktu itu di dekat rumah saya sedang dibangun sebuah SMK, jadi lah saya memasukkan lamaran ke situ. “Bismillah, semoga diterima,” begitu doa saya ketika memasukkan lamaran. Alasan lain kenapa memilih kerja kantoran dengan jam kerja bisa diajak kompromi adalah karena suatu saat nanti saya akan berkeluarga. Saya ingin lebih banyak menghabiskan waktu di rumah ketimbang di tempat kerja. Klise sih, tapi memang begitu adanya. Setelah urusan pekerjaan beres, saya ingin menikah. Dengan siapa? Belum tahu!

Setelah 1 bulan menganggur, akhirnya saya mendapat panggilan kerja di sebuah pabrik—masih dekat rumah. Lagi-lagi saya ditempatkan di bagian produksi. Karena sebaik-baiknya tempat untuk orang berijazah SMA sederajat memang bagian produksi. Tidak ada yang berubah dalam hidup saya. Rutinitas harian saya adalah masuk kerja jam 7 pagi, pulang jam 6 petang atau 11 malam. Jika sedang beruntung, saya bisa pulang jam 3 sore. Itu pun sangat jarang. Selama hampir 3 tahun, saya menjalani hari-hari seperti itu. Yang paling menyebalkan adalah ketika hari libur dan diwajibkan untuk lembur. Kan enak banyak uang? Enak sih, gajiannya besar, tapi menyedihkan. Saya sama sekali gak tahu ke mana larinya uang-uang itu. Selama bekerja di pabrik sekian tahun, saya sama sekali tidak bisa menyisakan uang untuk menabung.

Akhirnya saat yang saya tunggu-tunggu datang juga. Saya mendapat panggilan kerja di SMK—yang saat masih satu gedung dengan SMP. Ini dekat rumah banget. Hanya berjarak 200 meter dari tempat saya tinggal. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengundurkan diri dari pabrik. Persetan dengan sisa waktu kontrak. Yang penting saya bisa keluar.

Beberapa bulan kemudian, gedung SMK rampung dibuat. Saya ditawari oleh atasan, mau ikut ke SMK atau tetap di SMP? Kalau saya ya ambil enaknya saja. Saya pilih yang terdekat dengan rumah. Setidaknya bisa meniadakan biaya transportasi. Secara, gaji seorang honorer kan jauh dari kata tinggi. Alhamdulillah buat saya cukup-cukup saja. Termasuk bisa membantu biaya kuliah.

Begitu lah ceritanya, kenapa saya bisa sampai berada di sini sekarang. Bisa bekerja kantoran dengan jam kerja yang tidak terlalu banyak seperti sekarang. Bisa bekerja tanpa adanya tekanan. Bahkan bisa kuliah dan mendapat ijazah D3. Bonusnya adalah bisa sering jalan-jalan dan nambah pengalaman.

Dan saat saya menulis postigan ini, saya mulai berpikir, kenapa tidak memasukkan cita-cita saya dulu ke rencana hidup? Kenapa saya tanggung banget menyusun keinginan dalam hidup? Sementara Tuhan begitu Maha Kaya. Coba kalau saya memasukkan psikolog dalam rencana hidup waktu itu, bisa jadi Tuhan akan mewujudkan. Njuk jadi serakah gini haaa...

Happy birthday to me. Wish me better in every way.

Selasa, 12 April 2016

Kata untuk Cinta



Pernah aku bertanya, kenapa harus kita? 
Sementara ada milyaran manusia di luar sana
Kenapa kamu yang menemukanku? Dan kenapa aku bahagia ditemukan olehmu?
Padahal, kita tak saling kenal dulu
Hanya ada sekilas kenangan saat kita masih sama-sama cupu

Di keheningan malam,
Saat pualam-pualam mulai kedinginan oleh embun
Aku terjaga, bersila menghadap ke Yang Maha Segala
Lalu, kurapalkan doa-doa untuk kita

Di antara derai-derai air mata
Kusematkan namamu, kusandingkan dengan namaku
Tidak. Aku tidak meminta-Nya untuk menyatukan kita
Aku hanya memohon agar kita senantiasa bahagia
Saat kita bersama,
Pun kelak saat kita hanya mampu melepas rindu melalui alunan doa

Aku dan kamu,
Jika tidak dimaksudkan untuk bersatu
Semoga ditautkan untuk saling membantu
Saling mengisi ruang hati yang masih sepi
Saling memberi cahaya pada temaramnya jiwa

Terima kasih,
Masih berada di sini hingga detik ini
Masih rela menjaga jiwa yang terkadang manja, terkadang keras hati 

Masih mau mendengar tawa dan tangis penuh emosi

Terima kasih untuk cinta yang luar biasa




Di Keheningan, 12042016

Senin, 15 Februari 2016

Cokelatnya 14 Februari

It’s not about valentine’s day. It’s all about how to show your feeling.

14 Februari tahun lalu, tiba-tiba seseorang berada di depan gerbang kantor saya. Dia menelepon, lalu meminta saya keluar sebentar saja. Menuruti permintaannya, dengan masih bersandal jepit saya berlari kecil menujunya. Begitu bertemu, dia mengulurkan senyumnya yang dimanis-maniskan. Setelahnya, dia mengulurkan sebuah bingkisan kecil.

Seraya mengocok bingkisan, saya bertanya, “Apa ini?”

Dia menjawab dengan sedikit gugup, “Bukan apa-apa. Cepat sana masuk lagi,” Begitu bingkisan itu berada di tangan saya, dia menyuruh saya masuk. Dia menstater motornya, kemudian berlalu pergi.

Begitu berada di meja kerja, saya membuka bingkisan itu. Saya terkejut begitu menemukan sekotak cokelat dalam bingkisan. What? Ini apa? Ketika saya menulis tanggal di agenda surat masuk, saya baru sadar kalau hari itu adalah tanggal 14 Februari. Tanggal yang disebut-sebut sebagai hari kasih sayang oleh sebagian kalangan.

***

Yap. Buat sebagian orang, tanggal 14 Februari memang hari yang spesial. Terutama untuk para anak manusia yang sedang dilanda asmara. Buat sebagian orang lagi, ya, hari yang biasa saja. Gak ada bedanya dengan tanggal 14 di bulan-bulan lain. Saya termasuk yang biasa saja. Secara, dari jaman lahir hingga segede ini, sama sekali tidak pernah merayakan hari kasih sayang.

Pun saat itu, saya tidak beranggapan itu sebagai perayaan hari kasih sayang. Dalam pandangan saya, sekotak cokelat itu adalah caranya untuk menunjukkan perasaan. Kebetulan saja ngasihnya tepat di tanggal 14 Februari. Padahal, kalau dia mau ngasih di tanggal-tanggal lain, saya juga gak nolak kok. Cokelat kan enak hehe… 
 
Dan ini, kemarin dikasih sama mbak kasir pas belanja baju.
Jadi, harusnya yang kemarin ngarep dapat cokelat, tapi nggak dapat, belanja lah di toko itu. pasti dikasih sama mbak kasirnya. Alamat tokonya inbox ya :V

Rabu, 10 Februari 2016

Cerita Senja


Senja itu, saya dalam perjalanan pulang dari kondangan. Bersama seorang teman, sepanjang perjalanan, kami mengobrol tentang hal penting nggak penting. Maklum, kami sudah lumayan lama tidak bertatap muka. Di tengah obrolan gaje kami, teman saya itu bertanya, “Menurut kamu, orang yang menikah dengan kita itu beneran jodoh kita apa nggak?”

Saya melongo, hanya sepersekian detik. Lalu dengan tegas menjawab, “enggak!”

Kemudian dia bertanya lagi, “Terus jodoh kita siapa dong, kalau bukan pasangan kita?”

Saya mengangkat bahu, tanda tidak tahu. “Entah lah,” hanya itu yang mampu saya katakan detik itu.

Dia kelihatan mengangguk, berusaha memahami pendapat saya yang masih berantakan. Ya, dia memang salah satu orang yang paham akan ke-gaje-an saya. Beberapa menit kami saling terdiam. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing sepertinya.

“Beruntung lah mereka yang menikah karena keingingan, bukan keharusan,” Di antara angin senja, tetiba saja keluar kalimat itu dari mulut saya. Saya menghela napas panjang, mendadak merasa puitis sendiri.

Teman saya sedikit kaget agaknya. Dia menoleh sebentar. “Maksudnya?” lalu kembali fokus melihat jalan yang masih becek sisa hujan.

“Ya, yuno lah. Di dunia ini ada banyak pernikahan yang terjadi karena sebuah keharusan. Bukan keinginan,” Saya menjentikkan jari tengah dan telunjuk bersamaan, tidak peduli kalau pun tidak ada yang melihat. Contoh, sepasang muda mudi berpacaran. Mereka tidur bareng, lalu hamil. Mau nggak mau, mereka harus menikah, kan? Menurutku, itu namanya keharusan,” Saya mengambil napas. “Kalau karena keinginan, ya... kayak... saya ingin bersamanya, cause I wanna be with him, no matter what,” lanjut saya.

“Owh..,” teman saya itu mengangguk lagi. Kali ini benar-benar memahami maksud saya.

“Kalau saya. Ketika nanti saya menikah, saya pengen menikah dengan seseorang karena kami saling menginginkan. Karena kami sama-sama ingin bersama. Karena kami ingin berbagi suka duka kehidupan bersama. Karena kami ingin membangun keluarga bersama. Karena kami ingin saling menjaga hingga usia senja,” Di balik kaca helm, mata saya mengerling ke arah langit. Berharap ada banyak malaikat yang mengamini kata-kata saya barusan.

“Tapi di dunia ini kan tidak ada yang sempurna,” Teman saya berseloroh. Kedua matanya masih fokus melihat jalan. Kali ini kami melewati jalan berkelok yang lumayan tinggi.

Di belakang punggungnya, saya mengulas seutas senyum. “Saya sadar, saya bukan makhluk sempurna. Jadi, saya pun tidak berani mengharapkan seseorang yang sempurna. Pasti akan sangat berat jika orang yang tidak sempurna seperti saya bersanding dengan orang yang sempurna.” 

Langit kian gelap. Obrolan kami berlanjut ke sana ke mari. Dia mulai menceritakan tentang beberapa hal pribadinya. Tentang segelintir nama orang yang pernah dekat dengannya. Tentang rencana pernikahannya. Tentang orang tuanya. Tentang pekerjaannya. Dan masih banyak lagi. 

Saya, saya selalu senang ketika ada orang yang masih mau berbagi hal pribadinya pada saya. Itu berarti, mereka masih menganggap saya adalah orang yang bisa dipercaya. Dan semoga akan selalu ada teman seperti dia di dekat saya.

Rabu, 31 Desember 2014

CAT [Catatan Akhir Tahun] 2014

31 Desember 2014

Coz you bring out the best in me like no one else can do, that’s why I’m by your side, that’s why I love you…

Apa yang telah kamu lakukan selama 365 hari yang terlewati di tahun 2014? Saat aku disodori pertanyaan ini, aku berpikir lumayan panjang untuk menjawabnya. Banyak sih yang telah aku lakukan di tahun ini, tapi aku tidak yakin semua baik dan bermanfaat. Kupikir, aku malah menghabiskan banyak waktu percuma di tahun ini. Sorry for my self. Hiks…

Satu-satunya hal yang kulakukan dengan sungguh-sungguh di tahun ini adalah berhasil menyelesaikan dua biji novel. Yeah, I do it with all of my heart. Tapi, yang tersisa hanya koreksi yang tersungkur lemah di pojok draft email. Nope, aku tidak bermaksud mengabaikannya. Dalam hati, aku sungguh ini memperbaikinya. Bahkan, aku sudah merencanakan perbaikan sejak empat bulan lalu. “Aku akan memperbaikinya di liburan akhir tahun,” demikian hatiku berjanji. Tapi, apa daya jika ternyata pekerjaan akhir tahun begitu melelahkan. Oke, anggap saja ini sebuah alibi. Tapi, jika sempat, coba saja kamu menjadi aku yang dengan satu tubuh, pun seramping ini, harus mengerjakan lebih banyak hal daripada tahun-tahun sebelumnya. Itu sangat melelahkan, teman. Apalagi jika diiringi dengan nyanyian sumbang dari mulut-mulut yang ada di sekitamu. Oops…

Dari soal kerjaan, mari beralih ke kehidupan pribadi. Kehidupan pribadi?! Ah, sebenarnya aku tidak terlalu suka bagian ini. Bagian di mana aku seolah menguliti diriku sendiri. Tapi, karena ini spesial di akhir tahun, aku akan bercerita sedikit. Hanya sedikit. Hanya sekedar mengingatkan, bahwa dalam seburuk-buruknya tahunmu, akan selalu ada hari terbaik, meski satu.

Satu hari di bulan November, untuk pertama kalinya aku memutuskan untuk berkencan lagi setelah sekian lama memilih menyandang status high quality single [Hallah]. Ehm, ganti ding, bukan berkencan, tapi menjalin hubungan dengan seseorang [Sama saja, Ye]. Mungkin antara berkencan dan menjalin sebuah hubungan intinya sama, tapi kesannya tetap beda. Menurutku sih. Well, Alhamdulillah sampai hari ini hubungan kami baik-baik saja dan masih dirahasiakan [Eh...]. Meski, aku sering sebel sama dia. Iya, dia nyebelin banget. Sebanget-bangetnya. Tapi, ya gitu… senyebelin apa pun dia, tetep saja ngangenin. Karena orang bijak pernah berpetuah, nyebelin itu datangnya sepaket dengan ngangenin [abaikan!].

Then, I found someone who brings out the best in me like no one else can do… [Ya!! kamu, gak usah ketawa-ketawa ke-GR-an pas baca part ini]. Tapi, aku tidak ingin menceritakan apa pun tentang dia di sini. Terlalu riskan. Bisa celaka kalau dia sampai pingsan karena tingkat GR-nya sudah dewa banget.

Dan yang paling seru di tahun 2014 adalah banyaknya kesempatan untuk jalan-jalan. Yach, meski pun harus dibayar dengan badan yang remuk redam. Kondisi tubuh yang on off. Dan kesehatan yang acak adut. Yang mengharuskan diri ini untuk sering mengundang dukun pijet, minum jamu ini itu, atau bangun pagi sekali untuk sekedar menggesekkan telapak kaki dengan aspal.

What I love about 2014 year is no hurt anymore that makes me feel like I’m an idiot [senyeom tjantiek]. Mungkin ini bukan tahun yang up and down banget, tapi aku suka. Tuhan, dengan baiknya mengulurkan banyak kenangan manis di tahun ini. Mengajarkan banyak kebaikan melalui kejadian-kejadian yang menggelikan. Dan membawa langkahku lebih jauh ke tempat-tempat baru yang aku sebut sebagai bagian dari ‘surga dunia’.

Terima kasih Tuhan untuk sepanjang tahun tahun yang mennyenangkan ini. Terima kasih untuk kehadiran kamu, kamu, kamu, dan kamu semua yang memilih untuk mampir sebentar, menginap beberapa malam, atau tinggal lebih lama lagi. Terima kasih sekali untuk kalian yang bersedia tinggal selamanya denganku yang egois, ribet, banyak maunya, susah diatur, sering begadang, suka drama korea, nangisan, maunya jalan-jalan melulu, enggak gila kerja, tapi punya cinta yang luar biasa ini [Hallah… keplak diri sendiri… kecupin dan pelukin kalian atu-atu].

Selamat tinggal tahun 2014, selamat datang tahun 2015. Semoga tahun depan lebih ramah. Dan semoga kalian yang kusayangi lebih banyak senyum, nyebelinnya berkurang. I love and awe you, Guys!




salam sayang dariku yang nyebelin dan ngangenin ^^

Me: Ye

Rabu, 19 November 2014

Funny Morning

Pagi yang lucu.

Beberapa jam lalu saya memposting argumen yang intinya menolak kenaikan harga BBM. Selang beberapa waktu, salah seorang teman saya memposting argumen sanggahan yang mendukung adanya kenaikan harga BBM. Entah lah, saya tersenyum saja karena kejadian ini.

Sebenarnya, saya pribadi tidak pernah keberatan dengan kenaikan harga BBM. Apalagi, konon katanya biaya subsidi BBM ini akan dialokasikan ke hal lain yang semoga saja bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh rakyat. Amin.

Saya hanya membayangkan orang-orang di luar sana yang mungkin tidak seberuntung saya. Ketika mereka bangun tidur, tahu-tahu mereka harus memberi uang saku lebih untuk anak mereka yang bersekolah karena tiba-tiba saja ongkos angkutan umum naik. Hari pertama oke, mungkin mereka hanya harus mengeluarkan sedikit uang untuk tambah ongkos. Lalu, hari-hari berikutnya, saat mereka kebahisan beras atau bahan makanan pokok lainnya, mereka harus membeli dengan harga yang mungkin sedikit lebih mahal dari hari-hari sebelum kenaikan BBM. Sementara, gaji mereka masih sama.

Buat orang-orang seperti saya, kamu, mungkin kenaikan harga BBM tidak akan berpengaruh banyak. kita masih bisa menikmati es krim, makan ayam kremes, beli ini itu tanpa merasa keberatan. Tapi, para buruh pabrik yang setiap hari harus naik turun angkutan umum itu? Atau buruh bangunan yang setiap hari naik motor itu? Sementara anak-anak mereka masih sekolah. Bayi mereka masih harus minum susu.

Oke, mungkin saya sedikit drama. Tapi, itulah realita yang saya lihat setiap hari.

Saya percaya dengan pemimpin negeri ini. Apa pun yang Beliau putuskan, pasti sudah dipikirkan matang-matang baik buruknya. Tidak ada orang yang hidup di Indonesia [apalagi pemimpin] yang akan tega menjual bumi yang berlimpah kekayaan ini.

Dan kita? Hei, meski kita kadang berseberangan, kita tetap temanan kan? *ketjoep* :D

Selasa, 12 Agustus 2014

Pantai Klayar: Semacam Keindahan Tersembunyi

Minggu, 10 Agustus 2014

Sejujurnya, hari itu tubuh saya tidak begitu fit untuk melakukan perjalanan jauh. Flu yang sudah mendera beberapa hari belum juga mereda. Yang ini salahin air mineral merk baru saja. Sama seperti hati, tubuh saya pun butuh beradaptasi terhadap zat-zat baru yang masuk. *Hallah! Tolong abaikan!*

Kembali ke hari minggu. Alasan kuat saya tetap ngotot ikut ke Pacitan adalah karena saya tidak suka dikecewakan. Untuk itu, saya pun berusaha untuk tidak mengecewakan teman-teman baik yang sudah menyusun acara ini jauh-jauh hari. Berbekal boneka angrybird—yang bisa dipeluk atau dijadikan sandaran selama perjalanan—saya pun berangkat. Tepat jam enam pagi dari rumah.

Dengan kecepatan rata-rata 60 KM/jam—supir kami halus banget kalau nyetir, lima jam kemudian, kami baru memasuki wilayah Pacitan. Itu sudah termasuk sekali jajan di alfama*rt dan dua kali mampir pom bensin. Termasuk tersendat macet di Salatiga kota juga ding.

Sesuai daftar kunjung, tempat pertama yang kami kunjungi seharusnya adalah Goa Gong. Namun, karena jalur utama menuju Goa Gong macet luar biasa, akhirnya kami berbalik arah mencari jalan alternatif menuju Pantai Klayar. Pantai yang sudah membuat saya ngiler hanya dengan melihat gambar hasil googling.

***

Pantai Klayar. Rasanya tidak berlebihan menjuluki pantai ini sebagai salah satu pantai terindah di pulau Jawa. Pasir putih, tebing, karang-karang eksotis, gulungan ombak besar, seruling samudra, pemandangan semacam air terjun mini, pohon-pohon kelapa, perahu-perahu yang terparkir, begitulah kira-kira pemandangan yang akan kita temui di pantai yang terletak di Kecamatan Donorojo, Pacitan ini. Di mata saya, semua yang ada di pantai ini terlihat menakjubkan. Meski, terkadang agak ngeri juga sih kalau lihat ombak yang suka nakal melewati dinding batu karang yang lumayan tinggi. Karena bandel tidak mengacuhkan peringatan dari penjaga pantai, alhasil saya jadi salah satu korban guyuran ombak ini. Deres banget, kayak rinduku ke kamu. Iya, kamu. *Gaes, bagian ini tolong jangan acuhkan juga!*

Di pantai ini, ada salah satu spot unik yang tidak dimiliki kebanyakan pantai lainnya. Sepetak karang yang luas nan rata. Bisa buat main fulsal lah. Ketika saya berdiri di ujung tempat ini dengan melipat tangan, sekelebat pikiran nyeleneh muncul, “Asyik kali ya, kalau menyelenggarakan pesta pernikahan di sini. Di atas karang yang digenangi air, disapu-sapu angin laut, dan sesekali terkena percikan air yang keluar dari seruling samudra kalau ombak lagi gede. Pasti beda dan unforgettable banget.”

Oke, lupakan khayalan saya tadi ya, teman-teman. Dan nilai sendiri saja keindahan Pantai Klayar melalui gambar-gambar berikut. 


Dari kejauhan karang-karang itu mirip sphinx

Semburan dari lubang seruling samudra mirip geyser

Crashing ombak
Tembok karang
Berasa di Kuta
Pemandangan dari bukit

Masnya nekat banget demi selfie
Pokoknya, beach lover di mana pun berada, wajib mengunjungi pantai yang satu ini.

***

Puas berlarian dari ujung ke ujung di Pantai Klayar, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan ke Goa Gong melalui jalur yang sama. Tapi, anehnya, kami tidak menemukan ujung yang sama dari jalur tersebut. Tahu-tahu sampai aja di tempat parkir Goa Gong. Saya hanya bisa nyeletuk, “Mungkin ini keajaiban. Terima saja, ketimbang pusing-pusing mencari belokan jalur.”

Terhitung, ini kali kedua saya berkunjung ke Goa Gong. Tidak banyak yang berubah sejak kunjungan saya yang pertama empat tahun lalu. Kesannya masih mistis dan tetap panas, meski ada beberapa kipas angin besar terpasang di dalam goa. Dan tentunya, masih ada dengungan seperti bunyi gong saat staklaktit atau staklakmit dipukul.

Seperti saat berwisata alam di tempat lain, di Goa Gong ini pun, pengunjung harus menjaga sikap dan omongan. Kebetulan, di saat yang bersamaan saya dan teman-teman masuk ke dalam goa, ada seorang wanita dari rombongan lain yang pingsan. Menurut analisa medis, wanita tersebut phobia terhadap gelap. Pertanyaan saya adalah, “Kalau sudah tahu phobia gelap kenapa maksa masuk ke dalam goa? Lhah, goa di mana-mana kan gelap.” Lagian, dia pingsannya setelah lewat dari seperempat perjalanan. Bukan di dekat-dekat bibir goa.

Tapi, ya uwis lah, itu urusan dia dan dirinya. Yang pasti, jangan pernah bermain-main dengan alam. Kekuatannya terlalu mega untuk kita permainkan. 





Buat pengunjung, wajib nurut sama SOP
Mulut Goa Gong, tidak terlalu besar
My team

FYI, foto-foto #nofilter