Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 November 2014

Funny Morning

Pagi yang lucu.

Beberapa jam lalu saya memposting argumen yang intinya menolak kenaikan harga BBM. Selang beberapa waktu, salah seorang teman saya memposting argumen sanggahan yang mendukung adanya kenaikan harga BBM. Entah lah, saya tersenyum saja karena kejadian ini.

Sebenarnya, saya pribadi tidak pernah keberatan dengan kenaikan harga BBM. Apalagi, konon katanya biaya subsidi BBM ini akan dialokasikan ke hal lain yang semoga saja bisa dirasakan manfaatnya langsung oleh rakyat. Amin.

Saya hanya membayangkan orang-orang di luar sana yang mungkin tidak seberuntung saya. Ketika mereka bangun tidur, tahu-tahu mereka harus memberi uang saku lebih untuk anak mereka yang bersekolah karena tiba-tiba saja ongkos angkutan umum naik. Hari pertama oke, mungkin mereka hanya harus mengeluarkan sedikit uang untuk tambah ongkos. Lalu, hari-hari berikutnya, saat mereka kebahisan beras atau bahan makanan pokok lainnya, mereka harus membeli dengan harga yang mungkin sedikit lebih mahal dari hari-hari sebelum kenaikan BBM. Sementara, gaji mereka masih sama.

Buat orang-orang seperti saya, kamu, mungkin kenaikan harga BBM tidak akan berpengaruh banyak. kita masih bisa menikmati es krim, makan ayam kremes, beli ini itu tanpa merasa keberatan. Tapi, para buruh pabrik yang setiap hari harus naik turun angkutan umum itu? Atau buruh bangunan yang setiap hari naik motor itu? Sementara anak-anak mereka masih sekolah. Bayi mereka masih harus minum susu.

Oke, mungkin saya sedikit drama. Tapi, itulah realita yang saya lihat setiap hari.

Saya percaya dengan pemimpin negeri ini. Apa pun yang Beliau putuskan, pasti sudah dipikirkan matang-matang baik buruknya. Tidak ada orang yang hidup di Indonesia [apalagi pemimpin] yang akan tega menjual bumi yang berlimpah kekayaan ini.

Dan kita? Hei, meski kita kadang berseberangan, kita tetap temanan kan? *ketjoep* :D

Senin, 09 Juni 2014

Selo Time: Statusmu itu...

Saya pernah beberapa kali bertanya pada diri sendiri, kenapa saya membuat akun-akun sosial media? Dan jawabannya selalu berbeda di setiap masa.

Dulu, pertama kali bergabung dengan Facebook, niatan saya cuma satu, 'pingin tahu'. Begitu pun ketika menyusul banyak akun yang lain. Karena saya memang orang yang gak bisa diam. Selalu ingin mencoba hal baru.

Awal-awal di FB saya merasa sangat tertarik. Saya menuliskan apa pun yang saya rasakan dan lalui di sana. Dari hal gak penting sampai gak penting banget. Dari sekata sampai separagraf. Dari berita gembira sampai duka. Dari perasaan bahagia hingga galau tak terkira. Dari sekedar status candaan untuk seru-seruan hingga status seriusan. Dan anehnya, saya merasa bangga ketika itu di-like atau di komen banyak orang. Saya merasa diperhatikan.

Singkat kata, FB itu semacam buku harian pribadi saya yang di-shared ke khalayak. 

Tapi, semakin ke sini, saya semakin sadar, bahwa FB atau akun sosial media yang lain itu bukan sekedar buku harian pribadi. Itu adalah gambaran diri kita. Itu adalah salah satu media yang membentuk brand diri kita di mata user lain.

Apa yang kita tulis di kolom status adalah apa yang kebanyakan kita rasakan. Boleh lah kita membela diri dengan alibi, "Ah, itu kan sekedar bercanda. Gak usah terlalu dianggap serius." Dan bisa jadi itu memang beneran candaan atau lucu-lucuan. Tapi, usahakan, kalau sedang bercanda, bercandalah dengan status cerdas yang menunjukkan brand baik pada diri kita. Bukan sebaliknya, membuat kita terlihat 'enggak banget' di mata orang lain.

Saya sendiri, sekarang suka ketawa kalau menemukan status aneh-aneh. Entah tentang kegalauan yang berkelanjutan,  misuhin orang--bahkan pasangan, atau nulis status pakai tata tulis abnormal. Bukan ketawa senang, tapi ketawa miris. Kasihan. Sosial media yang manfaatnya luar biasanya ini, hanya diisi dengan hal-hal kurang bermanfaat, cenderung merugikan.

Boleh, kita semua menulis apa saja di kolom status kita. Ibaratnya itu rumah kita, mau diapakan ya suka-suka kita. Tapi, apa mau orang lain lihat rumah kita sampai ke isi kamarnya? Pilah-pilah mana yang layak dibagi ke orang lain--yang bahkan tidak dikenal, atau yang harus kita simpan sendiri. 

Untuk sebagian orang, bisa curhat masal di media mungkin melegakan. Tapi, pastilah resiko ke belakangnya lebih besar. Selain orang akan tahu masalah dan karakter kita, juga tidak banyak membantu. Saya berani taruhan, dari sekian ratus teman di FB, pasti hanya segelintir sahabat dan keluarga dekat yang peduli terhadap masalah kita. 

Itu lah kenapa, saya sering mendengar petuah, "Kalau lagi sedih, galau, marah, menjauhlah dari sosial media. Mendekatlah pada para sahabat dan keluarga."

Jadi, kawan, masih mau nyetatus sampah di sosial media? :))

Di samping Big Bear, 9 Juni 2014

Rabu, 31 Juli 2013

Kick Andy [Fitra Bhakti] Show

Semarang, 26 Juli 2013

Hari ini julukan “the lucky person” menempel lagi padaku. Entahlah, ini keberuntungan atau kebetulan? Jika kebetulan itu ada. Karena buatku tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur.

Di sebuah acara, aku bertemu dengan salah seorang yang ku segani di dunia pertelevisian Indonesia. Andy F. Noya. Iya, yang presenter acara Kick Andy Show itu. Dia berbiacara di depanku, dengan jarak kurang dari 5 meter. Dia duduk dengan selisih 4 kursi di sebelah kananku.

Sambutan dari Andy F. Noya
Sebenarnya, aku tidak terlalu paham siapa dia? Yang aku tahu, dia hanya presenter sebuah acara yang bisa memberi inspirasi kepada banyak orang, I think. Tapi setelah mendengar dia berbicara secara langsung di depanku. Ternyata orangnya sangat humble dan kindly. And i feel so blessed, bisa bertemu dengannnya.

Perwakilan dari teman-teman Rumah Unyil
Sudah, sudah. sudah dulu tentang curhat itu. Sekarang aku mau beralih ke SD Fitra Bhakti yang kemarin mengadakan hajat kecil-kecilan sebagai bentuk syukur atas diresmikannya perpustakaan baru di sana. 

SD Fitra Bhakti, sebagaimana yang kita tahu adalah SD Islam dengan kondisi yang sangat terbatas. Mungkin bagi teman-teman Rumah Unyil yang pernah singgah ke sana, akan tahu sememprihatinkan apa keadaan di sana? Dari ruang kelas yang menurutku jauh dari layak. Sarana dan prasarana yang jauh dari memadai. Sangat kontras dengan sekolah tempat di mana aku bekerja.

Namun, aku dengan senang hati akan mengacungkan dua jempol untuk para peserta didik dan pendidik di SD tersebut. Karena dengan segala keterbatasan yang ada, tidak menyurutkan semangat dan kerja keras mereka untuk meraih prestasi-prestasi yang membanggakan. Bahkan lebih dari sekolah-sekolah dengan status negeri di daerahku.

Dan kemarin tim dari Kick Andy Foundation yang bekerja sama dengan Superindo cabang Semarang hadir, untuk meresmikan perpustakaan baru tersebut. Perpustakaan SD Fitra Bhakti ini merupakan hasil sumbangan dari Kick Andy Foundation. Pembangunannya dimulai sejak 4 bulan yang lalu. Dengan kucuran dana yang dihasilkan dari pengumpulan uang receh para pengunjung Superindo. Dana tersebut terkumpul sekitar 1,2 M sekian –jumlah persisnya lupa–. Kemudian dana itu digunakan untuk membantu anak-anak atau sekolah-sekolah yang memang memerlukan bantuan. Tentu saja, ada tim khusus yang sengaja dikirim untuk melakukan observasi terlebih dahulu, sebelum dana tersebut dikucurkan.

Peresmian Perpustakaan SD Fitra Bhakti
Selain meresmikan Perpustakaan SD Fitra Bhakti, Kick Andy Foundation juga membagikan sepatu untuk para peserta didik. Kegiatan ini dinamai “Sepatu Untuk Anak Indonesia”. Terinspirasi dari sebuah buku yang berjudul “Sepatu Dahlan”. Yang mengisahkan tentang seorang Dahlan Iskan kecil yang bersekolah tanpa memakai sepatu. Untuk info lebih lanjut bisa klik di sini.

Melihat dengan dekat kegiatan Kick Andy Foundation ini membuatku bermimpi. Suatu saat, aku juga ingin melakukan hal sama seperti yang mereka lakukan. Bahkan kalau bisa lebih. Ke depannya, aku sangat berharap, kita –aku dan teman-teman dari Rumah Unyil, atau sipapun yang ingin berbagi– bisa berbagi lebih banyak lagi dengan mereka yang membutuhkan. Kita, sama-sama belajar menumbuhkan sense of giving dari dalam diri kita masing-masing. Aku percaya, untuk punya rasa itu, kita tidak harus menunggu kaya raya. Kita hanya perlu melakukan hal-hal yang bermanfaat lebih banyak lagi.

Senin, 15 Juli 2013

Sepucuk Rindu Untuk Sahabat

Dear sahabats,
(sengaja pake “s”, kan jamak :D)

Sore ini, saat aku menulis ini, aku sedang berada di salah satu sudut ruangan rumah makan yang dulu sering kita kunjungi. Di sampingku ada adikku Nopi, sepupuku Irma, dan tetanggaku Dwi. Tapi entahlah, tetiba saja aku teringat kalian. Kangen. Semacam itulah aku mendefinikan rasa ini. Iya, pada akhirnya aku tetap merindukan kalian beserta segala macam kenangan yang ada di dalamnya. Bad or good.

Terbanyangkan, seandainya yang ada di sampingku saat ini adalah kalian. Pasti bakalan rame banget, heboh, rebutan buat cerita soal kehidupan masing-masing seperti waktu dulu. Indi, dengan status barunya sebagai Nyonya Eko. Inem yang mendadak sewot tiap kali diceritain tentang liburan atau jalan-jalan. Maklum, dia kerja 7 hari seminggu, alias gak ada liburnya. Atau Ihwan yang lagi sibuk dengan skripsinya. Dan aku sendiri, aku yang semakin larut dalam kesibukan-kesibukan absurd.

Acara bukber yang gak direncanakan ini membuatku kangen sama kalian. Kangen saat kita buka puasa sepiring bersama di suatu tempat yang kita sebut basecamp. Masih pada ingat rasanya capjay made in Inem? Atau gorengan pojok alun-alun? Atau getuk belakang plaza ungaran? Iya, yang makanan favoritku itu. Atau kolak hibahnya Bu Rusman?

Inemmm, miss you beb. Ingat saat kamu curhat sambil nangis-nangis? Huffft, aku benci waktu itu. Ada satu hal yang kulewatkan. Sorry, for not hug you at that time *emot sedih*. Kangen marahan sama kamu. Kangen sama misuh-misuhmu di SMS atau whatsapp. Kangen sama kucingmu. Kangen duduk-duduk di depan rumahmu buat ngadem. Meskipun Kita sering marahan ya? Tapi aku tau kok, you care too much to me. Inget gak? Pas malam-malam di bawah gerimis, aku kebut-kebutan ke rumahmu buat minta maaf. Itu moment paling mengharukan, tauk?

Ndi, Indiii… Apa kabar kamu sekarang? Sejak punya peran baru, kita jarang calling-caling-an ya? Tapi tetep kok aku kangen kamu. Kangen kamu yang kemana-mana selalu minta ditemenin. Dari beli buku, baju, hijab, kebutuhan sehari-hari sampai kencan pun minta ditemenin *lirik-lirik Inem*. “Nem, masih ingat kan, pagi itu? Kamu mah cuma sekali, aku udah tiga kali” *ditimpuk bantal*

Saat mengharukan bareng kamu adalah saat kamu bilang “Mbak, boleh pinjam bahunya?” dan aku juga benci waktu itu, karena gak memberikan pelukan untukmu. Kangen nangis di pojokan rumah sodara kamu *yang ini bohong dink, nangis kok dikangeni?*. Aku Kangen direpotin sama kamu ehehehe. Kangen dititipin tela-tela, kangen bangunin tengah malam, kangen nemenin di kos. Kangen sama si kecil Danan. Kangen juga sama suami kamu, boleh? *eh, yang ini skip aja*. Minta tolong bilangin ke misuamu yes “Mbak Yuyun sekarang sudah hapal Lucky-nya Jason Mraz. Kapan mau dipraktekin?” mehehe.

Kangen Inem. Kangen Indi. Kangen rebutan tempat tidur dan selimut. Kangen curhat-curhat gaje di kosan. Kangen ngeskrim di tangga Ind*m*rt. Kangen berburu nasi goreng. Alun-alun Asmara, nasi goreng favoritnya Inem. Depan Ind*m*rt, ini nasi goreng favoritnya Indi. kalau aku capjay di Pak Yadi aja deh, seger banget tuh. Kangen Inem yang selalu protes kalau diajak makan ke warung steak. Kangen bilang gini sama Inem “Nem, nasgornya jangan pedes-pedes. Inget perut tuh. Ntar kumat lhoh”. Tapi tetep aja ga pernah digubris.

Kalo sama Ihwan, sebenarnya gak kangen-kangen amat sih. Lha kemarin abis ketemu *nyengir*. Kalau kangen tinggal samperin aja ke basecamp. Unforgettable moment sama kamu itu pas kamu ulang tahun. Ngopi-ngopi di alun-alun Asmara. Ditodong supaya beliin kue, trus, sisa kuenya dibalikin lagi ke kamu. Dalam bentuk cemongan ya? hahaha. Dan gara-gara itu, kamu jadi in wind alias masuk angin. Lha harus mandi malam-malam. Tapi yang paling aku kangenin dari dirimu adalah tulisanmu yang gak beda jauh sama tulisan dokter itu, sangat berkarakter :D. Kangen juga kalo di kelas suka minta dibacain tulisan yang ada di whiteboard.

Dhe, kamu tu sodaraku yang paling de bes dah. Selain pendengar yang baik, kamu juga guru yang baik. Guru apa saja. Dari masalah kerjaan, kuliah, sampai agama. kamu yang selalu jadi alarm-ku saat butuh siraman rohani. Suwun ya, untuk banyak bantuannya. Dhe, dhe, semalam aku mimpi ikut latihan wing chun lho. Cukup tau aja sih xixixi…

Masih pada ingat juga gak saat-saat kita [pura-pura] belajar bareng? Iya, katanya aja belajar. Padahal lebih pantes dibilang ngobrol sambil ngemil bareng. Siapa ya di antara kita yang paling hobby bawa cemilan ke kelas? Trus, contek-contekan berjamaah setiap ujian. Abis itu bareng-bareng menjalani ritual usai ujian, ngopi-ngopi hehehe. Kita sebut itu “kebersamaan”. Hampir setiap minggu rutin menyambangi angkringan depan apotek. Tau gak? terakhir kali aku ke sana, beli sebungkus jahe susu. Mas penjualnya nanya “temen-temenya mana mbak? Kok sekarang jarang ke sini?” kayaknya dia kangen juga sama kita yang sering bikin kehebohan di warungnya.

Aaaakkkkk… jadi pengen saat-saat itu lagi kan? Kangen sama kalian, temen, sahabat, sodara, lawan bermain, lawan bicara, lawan debat yang komplit. Next, kita kumpul-kumpul lagi ya? *atur schedule* love you guys *emot lope-lope*


Bekgor Pak Ndut, 14 Juli 2013