Senin, 20 Januari 2014

Review: Belajar Menulis dari Penjaja Cerita Cinta



Judul : Penjaja Cerita Cinta
Penulis : @edi_akhiles
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan 1 : Desember 2013
Tebal : 192 halaman


Penjaja Cerita Cinta. Ini bukan novel! Ini kumcer!

Fisrt of all, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Edi Mulyono a.k.a Bapak @edi_akhiles tercinta yang sudah memberi banyak kesempatan pada saya untuk belajar menulis. Mengenalkan pada saya tentang dunia literasi dan tetek bengeknya. Memberikan dorongan pada saya untuk keep writing. Dan tentunya sedikit banyak telah menjadi inspirasi dalam hidup saya. Ah, kalimat terakhir ini, saya mengetiknya dengan tangan sedikit bergetar.

Next, saya ingin sedikit mengulas tentang semua cerita di dalam buku ini. Beberapa cerita di buku ini pernah saya baca sebelumnya. Kebetulan, saya adalah penggemar berat penulis yang satu ini, jadi saya selalu up date tentang tulisan apa pun yang di post di blog atau note FB beliau.

Seperti yang tertulis pada pengantarnya, kumcer ini sengaja disusun sebagai media belajar menulis fiksi bagi para pegiat literasi, terutama newbie. Pada setiap bab di buku ini, pembaca akan disuguhi teknik bercerita yang berbeda-beda. Bagaimana itu suspensi? Apa itu snapshot? Seperti apa kalimat pembuka yang menarik? Bagaimana dialog yang luwes? Seperti apa narasi yang enak dibaca? Bagaimana membentuk mindset? Koleksi diksi? Semua ada di buku ini. So, let’s grab it. 
  • Penjaja Cerita Cinta
Ini mungkin cerpen terpanjang yang pernah saya baca. 38 halaman. Di sini, penulis mengajak pembaca untuk belajar teknik menulis setting yang luar biasa detail. Alur maju mundur yang mengalir enak. Paragraf pembuka yang nampol. Kumpulan diksi yang banyak. Snapshot yang juga bikin ngiler –I mean, saya juga pengen bisa kayak gitu–.

Adegan “ehem” yang ada di tengah cerita, itu cerdas. Semacam suspensi agar cerita tidak membosankan. Pemilihan nama Senja juga cerdas. Sedikit membinggungkan memang. Tapi saya suka. Di sini, penulis mengajak pembaca untuk melumat cerita sebelum ditelan. Penulis mengajak pembaca untuk mengasah otak. Berpikir dulu sebelum menyimpulkan.
 
Well, saya simpulkan ini cerpen terbaik di buku ini.
  • Love is Ketek, Cinta yang Tak berkata-kata, Dijual Murah Surga Seisinya
Sengaja tiga judul saya jadikan satu. Tiga-tiganya tulisan yang ringan untuk dibaca, tapi tetap kreatif. Saya suka gaya tulisan begini. Menghibur. Pesannya langsung ngena. Cocok dibaca saat butuh otak lagi ruwet, karena nggak perlu mikir panjang.

Love is ketek yang disampaikan dengan begitu sederhana, membuat saya bertanya, “apakah saya perempuan seperti itu atau tidak?”.

Cinta yang Tak Berkata-kata membuat saya mengerti bahwa cinta itu tak hanya cinta. Ia butuh lainnya untuk tetap disebut sebagai cinta.Di sini saya menemukan beberapa typo. Ex: "Ksajikan", kata ganti "kamu" yang seharusnya "aku".


Dijual Murah Surga Seisinya juga bacaan yang ringan. Surga itu tidak mahal, nyaris gratis malah. Tapi justru paling sering kita lupakan.
  • Menggambar Tubuh Mama
Ini bab yang membuat saya merinding sedap. Saya berkali-kali mengambil tissue untuk menyeka air mata. Tapi, saya sedikit bingung dengan logika cerita di sini. Pas pertama kali baca sih terkesan enak dan masif. Lalu, saya baca lagi, dan menemukan sedikit kejanggalan di sana.

Pada part pertama, penulis bertindak sebagai pencerita. Pada part selanjutnya, penulis bertindak sebagai pelaku. So? Ini bercerita tentang seorang anak kecil yang merindukan kehadiran Mama kan ya? meski pun kalimatnya bagus dan penyampaiannya touchy banget –two thums for that–, tapi kurang terasa anak-anaknya.

  • Secangkir Kopi Untuk Tuhan
This is my favorite story. Saya yakin seyakin-yakinnya, cerita ini based on real story. Ditulis saat Kakak Marco Simoncelli, sang rider Bengal nan menawan itu meninggal dunia di Sirkuit Sepang tahun 2011 lalu.

Satu kalimat dari judul ini yang nempel bener di kepala saya adalah, “Semua orang akan mati di antara yang dicintainya”. Seriously, ini nampol banget.

Pesan lain yang saya tangkap dari cerita ini adalah, siapa pun kamu, apa pun agamamu, di mana pun kamu berada, boleh kok mengirim doa untuk siapa saja. Tuhan itu satu.

Melalui cerpen ini, kita diajari untuk bisa mengemas tulisan based on story secara enak dan renyah.

  • Cinta Cantik
Yuk, mari belajar psikologis di sini. Cerpen ini mengupas sedikit tentang cara kerja alam bawah sadar manusia.
  • Tak Tunggu Balimu
Ini cerita gila. Satu pembuktian bahwa mindset sangat berpengaruh pada hasil sebuah tulisan. melalui cerita ini kita belajar mengkorelasikan dua hal yang bertolak belakang. Dangdut koplo dan filsafat Paul Ricoeur, dicari benang merahnya. Dan hasilnya adalah cerita kriuk macam ini.
  • Tamparan Tuhan
Love this one too. “Memanfaatkan posisimu yang terdzalimi untuk memanfaatkan cinta Tuhan agar mereka pun terdzalimi”. Kalimat ini membuat saya menunduk dengan hati yang bergetar karena malu.
  • Abah, I Love You, Munyuk, Lengkingan hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya
Ini juga tiga judul yang saya jadikan satu, karena genre ceritanya nyaris sama. Sama-sama bikin mbrebes mili.

Abah, I Love You. Buat anak yang suka membangkang sama orang tua, terutama Bapak, nih baca! Suatu saat kamu akan berterima kasih untuk segala perlakuan keras Bapakmu.

Munyuk. Ini cerita tentang kesabaran seorang istri dalam menghadapi kemarahan suaminya.

Lengkingan hati Seorang Ibu yang Ditinggal Mati Anaknya –judulnya panjang banget ya?–. Apa yang sudah saya lakukan untuk membalas kasih sayang ibu yang besarnya tak terkira itu? Dan saya selalu lemah jika menghadapi apa pun yang berhubungan dengan Ibu.

  • Cerita Sebuah Kemaluan
Kamu punya kemaluan? Pasti, kita semua punya kemaluan. Dan mari belajar dari kemaluan masing-masing melalui cerita yang satu ini. Baca dulu sampai habis, agar kesimpulanmu tidak sepenggal, demikian note penulis di akhir cerpen ini. Dan saya setuju. Baca dulu sampai selesai baru menyimpulkan dan berkomentar.
  • Aku Bukan Batu
Nah, untuk menetralisir kembali pikiran saru setelah membaca Cerita Sebuah Kemaluan, penulis menyuguhkan cerita ini. Agak berat memang jika berurusan dengan kemahakekalan Tuhan. Tapi, bacalah dulu, lalu renungkan.
  • Si X, Si X, and God
Buku ini ditutup dengan cerpen yang hanya berisi dialog, tanpa narasi sedikitpun. Di sini sepertinya penulis lebih menekankan pada penguasaan penggunaan tanda baca. Sehingga, walau pun tanpa narasi, pembaca tetap bisa merasakan suasana dan emosi melalui penekanan kata dan tanda baca pada dialog.

Dan untuk para newbie di dunia literasi, bersuka citalah, kalian dapat bonus tips menulis yang baik dan benar melalui tulisan Hindari “Dosa-dosa Preett” Ini dalam Menulis.

Demikian sedikit review dari saya. Semoga bermanfaat. Pokoknya buat kamu yang ingin belajar teknik menulis, buku ini recommended buat jadi bahan bacaan.

Sabtu, 11 Januari 2014

Hanya Isyarat: Little Present

Kepada Kata untuk Yunda

Apa yang terbayang saat kita hanya sepasang harapan di pungguk sayap malaikat semalam meniupkan angin berbisik di telingamu: “Seseorang sedang memujamu di tengah ladang salju, di sebuah savana yang kusut oleh bekas pertarungan. Ia sedang bertarung juga sendiri, di sana. Memerangi rindu dan luka-luka yang mengobangnya. Adakah engkau menjemputnya dengan tanganmu yang basah oleh doa?”

Di sini aku hanya mendengar lenguh kecil, seperti doa menunggu setiap mereka datang untuk menjemputmu pergi. Ke sebuah dunia yang dihantarkan mimpi-mimpi adakah itu engkau, wahai yang jauh? Engkau yang letih kepada waktu, kepada dunia yang mendekapmu bisu.

Aku semakin tenggelam kepada kata-kata, untukmu ingin segera merangkulmu ke tengah belantara yang kubangun dengan kesyahduan kesunyian kita lalu aku menemukanmu pada pucuk bunga edelwis saat musim semi tiba, saat bibirmu tumbuh menjadi fajar yang selalu mendekapku sepanjang waktu.

Kepada kata, kepada engkau yang diremas keheningan aku ingin bertandang segera. Membangun kastil dari pecahan salju yang mengubur rindu. Kupasang sebuah jendela untuk kita menyeberang ke sebuah dunia yang segera kita bangun menjadi istana.

Konya, 30 Des 2013

Kamis, 09 Januari 2014

You, Keep Smile


Lagi pada heboh sama tayangan di TV nasional ya? Lagu lama. Ingat tayangan Empat Mata? Dulu, acara talk show yang satu itu juga gak kalah heboh sama YKS –ups, nyeplos–. Terus dapat somasi dari KPI, tentunya atas desakan pihak-pihak tertentu yang berkepentingan.

Sekarang giliran YKS. Selain mendapat peringatan dari KPI, tayangan dengan model sketsa tersebut juga mendapat kritik pedas dari sebagian kalangan masyarakat. Petisi untuk menghentikan tayangan tersebut digemborkan di mana-mana. Kalau saya sendiri sih, merasa lucu saja dengan fenomena semacam ini. Bagaimana tidak? Separah itukah YKS mempengaruhi kehidupan senusantara?

Kalau mau ngomongin acara yang [katanya] tidak mendidik dan berkompenten merusak moral bangsa, tentunya banyak sekali. Acara komedi serupa YKS juga berseliweran di berbagai stasiun TV lain, bahkan jauh sebelum fenomena ini terjadi. Tapi kenapa setelah YKS heboh, baru masyarakat ngeh tentang itu? Lalu muncul petisi penghentian acara segala? Bukankah dengan begitu, masyarakat mengakui bahwa YKS itu "ikon" dan benar-benar booming?

Ya, kalau kamu memang penonton yang cerdas, pilihlah tayangan yang cerdas. Banyak pilihan kok. Tidak perlu repot mengurusi produk orang yang tidak berkualitas.

Keep Smile, guys! Hihihi....

Selasa, 31 Desember 2013

Menoleh Sejenak


Waktu berlalu begitu cepat. 365 hari, 8.760 jam, 525.600 menit, semua merangkak, berjalan, lalu berlari dan terbang dengan kilat. Masih teringat jelas, bagaimana aku mengawali tahun 2013 dengan tertatih. Dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya di akhir tahun 2012.

Dan hari ini tahun 2013 berakhir. Aku mengakhirinya dengan senyum lebar sambil melihat ke sana. Ke masa bodoh-bodohnya aku menjalani hidup. Satu kata, “LUCUK!". Kadang, bagian hidup yang paling lucu itu, ya menertawakan diri sendiri.

2013 itu, masa di mana kapabilitasku sebagai perempuan dewasa benar-benar diuji. Dan lagu di atas menjadi themesong sepanjang tahun.

Wish the best for 2014. Happy new year.

Selasa, 24 Desember 2013

Review, 99 Cahaya di Langit Eropa


99 Cahaya di Langit Eropa. Dulu, pertama kali tahu judul ini langsung tertarik. Pokoknya harus nonton. Bukan karena jalan ceritanya. Tapi karena –kalau dilihat dari judulnya– pasti settingnya di Eropa. Entahlah, ada sesuatu yang membuat saya tertarik dengan benua yang satu itu. Apalagi jika penjelajahannya dilakukan oleh orang lokal.

Sejak kunjungan ke Girona, dan menemukan satu gereja yang pernah beralih fungsi sebagai masjid, saya merasa ada banyak tempat lain di Eropa yang menyimpan jejak-jejak peradaban islam.

Lalu, saya googling judul tersebut. Ternyata benar, film yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Mbak Hanum Rais –merupakan putri dari Bapak Amin Rais– dan Mas Rangga Alma –suaminya– ini menceritakan tentang perjalannya selama 3 tahun di Eropa. Dan menemukan tempat-tempat ziarah baru di sana.

Di tangan sutradara Guntur Soeharjanto buku ini divisualisasikan dalam sebuah film. Dua bintang utamanya, yaitu Acha Septriasa (Hanum) dan Abimana (Rangga), mereka berperan sebagai sepasang suami istri yang hidup di Vienna demi melanjutkan pendidikan. Rangga sibuk sebagai seorang mahasiswa, sedang Hanum, untuk mengisi kebosanan hari-harinya dia mengikuti les bahasa Jerman.

Saat les bahasa itulah, dia bertemu dengan Raline Shah (Fatma), seorang Turki yang menetap di Austria. Dari pertemuan ini, perjalanan dimulai. Dimulai dari Vienna, Austria. Lalu perjalanan dilanjutkan ke Paris, Ibukota Perancis yang sangat terkenal dengan menara eiffelnya itu.

Bukan karena mupeng ingin menjamah tempat-tempat wisatanya yang membuat saya menyeka air mata berkali-kali. Tapi, isi perjalannya. Sejarah islam, jejak-jejak peradabannya, bagaimana seharusnya seorang muslim berlaku?

Film ini membuat saya jatuh cinta kembali pada agama yang selama ini saya anut. Islam. Melalui seorang Fatma, kelembutan islam digambarkan. Betapa dia tetap baik kepada orang yang menjahatinya, seperti yang diajarkan Kanjeng Nabi. Sulitnya menjadi muslim di eropa tidak membuatnya goyah untuk tetap menjadi agen muslim di sana. Dia ingin menebus perbuatan moyangnya, Kara Mustofa Pasha yang gagal meluluhkan Eropa dengan perang dan kekerasan. Kini ini ia mencoba lagi dengan cara yang lebih elegan, yaitu dengan senyum dan kelembutan.

Sebenarnya, dari segi konflik, film ini biasa saja –kalau di novel aslinya saya tidak tahu, belum pernah baca–. Tapi disampaikan dengan gambar yang enak dilihat. Jadi yang nonton pun merasa nyaman. serasa ikut jalan-jalan di eropa. Dialognya saya suka. Ringan banget, tapi tetap berisi. Gampang dicerna sama otak.

Yang menjadi pertanyaan saya untuk film-film Indonesia yang berlatar di luar negeri adalah, kenapa orang turki itu pandai berbahasa Indonesia? dulu di Ayat-ayat Cinta juga kan? Aisyah yang dari Turki itu lancar berbahasa Indonesia. Sekarang Fatma dan anaknya juga. Iya, sih. Ini untuk memudahkan penyampaikan pesan saja. Tapi kalau bisa pakai bahasa aslinya kan lebih bagus. Bisa sekalian buat media belajar.

Yang saya tunggu selanjutnya adalah perjalanan ke Spanyol dan Turki. Sepertinya lebih seru. Dan untuk itu saya harus sabar menunggu sampai part selanjutnya ke luar. 
 
Well, goodjob for Mas Guntur Soeharjanto and team. Filmnya bagus dan pesannya ngena.

Kamis, 05 Desember 2013

Barcelona, Fifth Day

Haiho.... Ketemu lagi yak!

Udah masuk hari kelima aja. Cepet banget yak kalo jalan-jalan di negeri orang. Btw, hari ini kami diajak shopping-shoping lagi nih. Saya dan rombongan diarak ke La Roca Village dan Maremagnum sama Om Mario, tour leader kami. Dua-duanya merupakan pusat perbelanjaan tekenal di Barcelona.

La Roca Village berada di sebelah utara Barcelona, arah menuju Itali. Perjalanan ke tempat ini tidak sampai satu jam. Dengan pemandangan yang aduhai di sepanjang jalan, rasanya sayang sekali kalau harus dilewatkan tanpa menikmatinya. Area persawahan membentang luas di sisi kanan dan kiri jalan. Dari kejauhan, saya bisa menangkap tanaman berupa sayur mayur dan bunga-bunga tertancap di sana. Apa pun itu, yang pasti bisa membuat mata saya melek, setelah tadi sempat terserang kantuk yang luar biasa.

Tempat perbelanjaan yang luar biasa.

Di sini tidak ada bangunan bertingkat ala mall atau warung-warung yang berdesakan seperti di pasar tradisional. Bangunannya seperti kompleks perumahan dengan dua lantai, terlihat rapi dan teratur. Sangat nyaman untuk sekedar jalan-jalan. Tempat ini seperti kampung berkumpulnya brand-brand dunia. Botiga, Billabong, Chamber, Channel, Celvin Klein, Furla, Gucci, Garments, Hackett London, Lacoste, Old Ridel, Puma , Vans dan masih banyak lagi brand yang namanya masih asing di mata saya. Masing-masing dari mereka punya satu rumah di sini yang berupa factory outlet.

Awalnya saya sendiri bingung, mau apa di tempat seperti ini? Uang di dompet saya tentu saja tidak cukup kalau diniatkan untuk shopping beneran. Well, saya yang jalan berdua dengan Sarah hanya seperti menjadi pengamat di tempat ini. Keluar masuk dari satu Outlet ke Outlet lain. Melihat produk dan ngecek harga.

Mahal.

Iya, tentu saja. Kalau menilik dari merk-merk di atas, sudah bisa dipastikan harganya kisaran berapa, kan? Tapi itu masih lebih murah jika dibandingkan dengan yang ada Indonesia. padahal, setahu saya yang pernah bekerja di pabrik garment, dan kebetulan pernah menangani beberapa merk tersebut di atas, barang-barang itu dibuat oleh tangan-tangan orang Indonesia lho. Lantas dikasih main label merk luar dan dijual dengan harga menggunung seperti itu. jadi, jangan terlalu bangga lah buat orang-orang yang suka membeli barang [yang katanya] merk impor. Itu hasil karya orang lokal kok. 

Terimakasih atas kunjungan anda
Taman depan La Roca Village
Jalan-jalan di La Roca Village
Bareng Sarah
Tempat kedua yang kami kunjungi adalah Maremagnum. Nama yang tidak asing, bukan? Saat menulis kata itu saya langsung teringat salah satu brand eskrim kesukaan saya hehe....

Maremagnum ini sebuah pusat perbelanjaan dan hiburan di pusat kota. Merupakan satu-satunya mall di Barcelona yang masih buka di hari minggu. Terletak di pinggir dermaga dengan pemandangan air yang sekali lagi, luar biasa. Saya selalu kagum dengan kebersihan tempat di Barcelona.

Di Maremagnum kamu bisa berbelanja sepuasnya. Soal harga, tentu saja jauh lebih murah daripada di La Roca. Ini kalau di Indonesia seperti BTC Solo lah. Sedikit lebih elegan di sini sih. Outlet baju, sepatu, make up, market, restoran, bioskop, semua ada dalam satu area Maremagnum.

Saat menjelang malam, banyak orang yang hanya sekedar duduk-duduk di dekat dermaga atau di seberang Bioskop yang lantainya terbuat dari kayu yang tertata rapi.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan hari ini. Karena seharian hanya belanja. Sama saja dengan kegiatan belanja yang lain di negeri sendiri. Bedanya, di sini tidak ada tawar menawar. Dan saat saya membayar ke kasir harus pakai bahasa asing. Melihat ke arah monitor jumlah pembayaran, kasih uang, dan bilang “Gracias”. 
 
Dermaga di samping Maremagnum
Maremagnum Cinema
Air dermaganya bening banget
Mungkin nanti akan lebih menarik cerita di hari terakhir. Jalan-jalan ke mana? Masih rahasia. Yang melewatkan hari ke satu, dua, tiga, empat, bisa blogwalking ke sini ^^. 

>> To be continue

Minggu, 01 Desember 2013

Life... (1)


SMS dari Silla

“Aku putus sama Andre! Gara-gara dia belum bisa move on dari mantannya!”

What?! Masih nggak paham sama jalan pikiran sahabatku yang satu ini. Pacaran udah dua tahun dan putus gara-gara gagal move on. Terus selama dua tahun ini mereka ngapain aja? Cuma ciuman dan gandengan tangan? Naif sekali.

***

Shilla datang padaku dengan mata berbinar. Lagi-lagi dia membawa segepok cerita tentang Andre. Lelaki yang baru dua bulan ini dikenalnya lewat sosial media. Baru dua bulan, tapi lelaki itu sudah berhasil meracuni otak Silla dengan pesonanya. Merampok hati Silla dengan perhatiannya.

“Nar, Andre tuh baik banget lho. Pinter, alim, ganteng, perhatian pula.”

“Oh, ya? Kamu kan baru kenal sama dia?”

“Iya sih. Tapi Beneran dia baik banget. kemarin aja aku dibawain coklat sama bunga.”

Cuma disogok sama coklat dan bunga dan langsung menjudge bahwa pribadi seseorang itu baik. Begitulah jatuh cinta. Sejuta rasanya. Dunia milik berdua, yang lain pada ngontrak semua. Kayak Silla ini, yang khayalannya sudah melanglang buana ke mana-mana.

“Dia juga udah cerita banyak tentang kehidupan pribadinya sama aku. Kasian deh, Nar. Dia dihianati sama mantannya. Ceritanya sama kayak aku, kan?”

Oh, jadi masalahnya perasaan senasib. Sama-sama merasa dikhianati. Disakiti. Ditinggal pergi. Dan sama-sama butuh tempat untuk bersandar, berbagi sisa-sisa luka. Baiklah, aku mulai paham.

“Kemarin dia nembak aku. Dan aku tak kuasa menolak. Kami jadian, Nar. November tahun ini benar-benar berkah. Tuhan megirimkan pengeranku. Dia bilang, dia serius sama aku. Dia udah capek pacaran mulu.”

Secepat itukah? Mataku hampir saja melompat. Untung ada kontak lens yang menghalanginya. Seingatku, dulu dengan mantan sebelumnya, Silla juga bilang kayak gitu, dia serius. Tapi, apa mau dikata, takdir berucap lain. Silla putus setelah tiga tahun pacaran, gara-gara mantannya kegap lagi jalan sama cewek lain.

Semoga saja pilihan Silla kali tepat.

***

Dua tahun berlalu, di bulan yang sama, kini Silla datang padaku dengan matanya yang sembab. Sisa-sisa tangisannya masih terlihat jelas di wajahnya yang sayu. Dalam semalam, matanya berubah menjadi mata panda. Kantung matanya membesar dan sedikit menghitam.

“Nar, selama ini aku dibohongi. Ternyata Andre belum bisa move on dari mantannya hikshiks….” Lagi, tangis Silla pecah. Sekotak tissue yang baru saja kubeli dari mini market sebelah ludes dalam sekejap. Air mata dan ingusnya deras mengalir. Bak sungai ciliwung di musim hujan. Banjir.

“Sabar ya, Sil….” Aku tidak tahu kata ampuh apalagi yang bisa kukatakan selain sabar.

“Dua tahun, Nar. Dua tahun hikshiks….”

Kuelus punggung Silla selembut mungkin.

“Kemarin, nggak sengaja aku nemu diarinya. Aku penasaran, lalu kubuka. Dan isinya menyakitkan, Nar. Selama ini kupikir dia benar-benar mencintaiku, ternyata… hikshiks….”

Kurangkul Silla. Kubiarkan dia bersandar di bahuku. Mengeluarkan segala gemuruh hatinya yang sedang terkoyak karena cinta. Karena sosok bernama Andre. Lelaki yang dua tahun lalu pernah dia bangakan dan yakini kesungguhannya. Yang meskipun waktu itu sudah kuingatkan untuk berhati-hati, tapi tak pernah digubris olehnya. Semua kata-kataku mental. Tak bisa menembus akal sehatnya.

“Ternyata, selama ini dia belum bisa melupakan mantannya. Di buku itu dia nulis, meskipun ada aku di sampingnya, tapi mantannya adalah yang terbaik. Yang tidak pernah akan dia lupakan seumur hidup. Aku sakit, Nar. Hikshiks….”

Ya, sebagai sesama perempuan, aku mengerti perasaan Silla. Perempuan normal mana sih, yang mau diduakan secara perasaan? Di mana-mana, perempuan itu ingin dijadikan sebagai satu-satunya penghuni hati. The one and only

“Aku bisa menerima kalo dia punya masa lalu. Tapi, tolong jangan bawa masa lalunya di masa depanku.” Silla sedikit lebih tenang. Dia berusaha mengatur napasnya yang masih sesenggukan.

“Sabar ya, Sil. Hidup itu memang kadang-kadang keras dan tak terduga. Tidak semua hal harus berjalan seperti yang kita mau. Kamu dulu pernah mengalami masa-masa seperti ini, kan? Dan kamu bisa melewati. Sekarang juga kamu harus bisa.”

“Iya, Nar. Tapi sakit…..”

“Gini, deh. Kalo Tuhan lagi-lagi memberi ujian yang sama pada kita, itu artinya kita belum lulus di ujian sebelumnya. Dan kalo kali ini kamu belum lulus juga, bisa jadi nanti kamu akan mengalami hal yang sama lagi.”

“Nggak, ah. Aku udah kapok. Besok lebih hati-hati lagi aku, Nar.”

Kupeluk sahabatku ini dengan erat. Semoga pelukan ini bisa sedikit saja melegakan hatinya. Semoga November kelabu ini bisa dilaluinya dengan baik. Dua November yang dilalui Silla dengan rasa yang berbeda.

***

Dan empat bulan kemudian, kulihat Silla sudah jalan lagi dengan seorang laki-laki yang kukenal dia adalah seorang playboy. Duhhh, Silla. Aku cuma bisa tepok jidat sendiri. Hanya bisa berharap kalau Silla akan bisa menjaga dan membawa diri dengan sebaik-baiknya. Dan tak mengulangi kebodohannya untuk ke sekian kali.