Kamis, 01 Oktober 2020

Day 4: Place You Want To Visit

Sebagai manusia yang doyan jalan-jalan, banyak sekali tempat yang ingin ku kunjungi. Kalo bisa, seluruh dunia ini ku kelilingi. Kalo ada waktu dan dana tentunya. Ehem..

Pengen ke Korea, karena sering lihat dramanya. Pengen ke Jepang, karena penasaran sama disiplinnya orang sana. Pengen ke Singapura, pengen ke Jewel Changi lihat air terjunnya. Pengen ke Eropa, pengen ngerasain winter di sana. Pengen ke Swiss, karena selalu ngiler tiap lihat gambar pemandangan alam sana. Pengen ke Timur Tengah, pengen lihat padang pasir. Pengen ke Thailand, pengen lihat kehidupan di sana seperti apa. Intinya pengen ke banyak tempat, sih.

Tapi, kalo yang pengen banget dan sepertinya tidak begitu sulit untuk dijangkau adalah pengen jalan-jalan ke Banyuwangi. Pengen menghirup udara di Taman Nasional Baluran dan sekitarnya. Masalahnya adalah, Papasel mau gak diajak ke sana #kodekeras. Ini salah satu tempat yang sudah lama sekali masuk di bucket list-ku. Pokoknya berharap sekali suatu saat bisa ke sana. Eh, aku gak akan nolak, kok, kalo diajakin honey moon ke sana. Uhuk.

Yang lebih sederhana lagi, pengen banget ngajak anak lanang jalan-jalan ke Taman Safari. Lihat macam-macam binatang di sana. Karena ku tahu, ini akan membuat Icel bahagia. BTW, dari bayi dia belum pernah diajak ke kebun binatang. Meanwhile, sekarang dia sudah tahu nama-nama binatang, beserta niruin suaranya. Kecuali suara buaya, soalnya suara buaya susah ditiruin. Macam-macam, sih. Kadang bikin baper, kadang bikin mual. Eh. Ini ngomongin kamu apa buaya?

Abis dari Taman Safari, lanjut ngajakin main ke Jungle Land. Membiarkan Icel main sepuasnya di sana. Main sampai lelah. Kalo sudah lelah, pengen ngajakin dia ke Sentul City. Nginep di sana beberapa hari. Sampai waktu yang belum bisa ditentukan lah. 

Monmaap, yang terakhir itu modus maknya yang pengen nyusulin papanya apa gimana? Heh?

Rabu, 30 September 2020

Day 3: A Memory

Bicara tentang kenangan, pasti akan saja ada air mata yang menggenang. Masih sangat jelas teringat, ketika ada seseorang datang ke rumah sore itu. Seseorang yang pada akhirnya kutahu bisa mengambil sebagian besar kebahagiaan masa remajaku. Seseorang yang berhasil membuat ibuku goncang dengan kata-kata dan perbuatannya. Seseorang yang membuatku mengerti bahwa hidup tak selalu enak, tak selalu nyaman. Seseorang yang pada akhirnya memberiku satu kenangan buruk yang ingin kulupakan. Namun... karenanya, aku bisa sedewasa ini sekarang.

Sungguh, aku sudah lupa bagaimana rupa perempuan itu. Lupa suaranya. Lupa namanya. Tapi, tak pernah sekali pun aku lupa bagaimana dia memperlakukan ibuku saat itu. Aku tak lupa caci makinya pada ibuku. Aku tak lupa wajah pasrah ibuku. Aku tak lupa segala kesusahan yang terjadi pada ibuku setelah sore itu.

Meninggalkan trauma? Tentu. Tapi, sekarang sudah bisa menerima. Tidak apa-apa kenangan itu tetap tinggal di kepala. Bahkan telah kusediakan ruang khusus untuknya. Setidaknya, ini yang akan menjadi pengingat bagiku untuk tidak menyakiti orang. Karena jika aku menyakiti orang, aku akan teringat wajah ibuku saat itu. Wajah yang begitu ku sayang, meski jarang sekali aku mampu mengungkapkan.

Sabtu, 19 September 2020

Day 2: Things That Makes You Happy

Jadi inget jaman kuliah dulu. Hampir tiap minggu, sepulang kuliah malam, sering nongkrong di angkringan dekat kampus bareng teman-teman. Di sana makan nasi kucing dan minum segelas kopi susu saset. Duduk di tikar beratapkan langit. Saling cerita dan ketawa. Rasanya happy banget.

Kalo bosan di angkringan, kita pindah tempat ke warung kopi klotok. Di sana, ya, cuma pesen segelas kopi doang. Bisa duduk lesehan hingga berjam-jam. Atau selonjoran aja di tangga depan Indoapril sambil ngemil es krim. Cerita-cerita sama teman sampai lupa waktu. Gitu juga udah senang.

Receh banget, ya, bahagiaku dulu? Emang sekarang gimana? Sekarang agak ribet, sih, haha... Gak, ding. Masih sama aja, kok. Masih sama recehnya. Udah jadi orang tua gini, masih happy juga kalo jajan es krim. Masih suka ngopi-ngopi susu. Masih seneng juga kalo diajakin nongkrong.

Cuma, ya, itu... Namanya hidup pasti bergerak. Yang pergerakannya paling cepat, ya, orang-orang di sekitar kita. Ada yang hanya berlalu-lalang. Ada yang datang untuk kemudian menghilang. Ada yang menitipkan sayang, lalu tergantikan. Ada yang mencintai dan menetap hingga mati. Dengan siapa pun yang ada, aku masih tetap bahagia ketika bisa menghabiskan banyak waktu bersama.

Bahagia memang tak melulu soal apa, tapi lebih penting dengan siapa.

Rabu, 16 September 2020

Selamat Tanggal 16 September

Hai, Mas!

First of all, I want to say 'Happy anniversary' baby.

Cieee... Udah 3 tahun aja ini aku dan kamu jadi kita. Cepet amat. Kayaknya ujian tahap 1 untuk mengenal dan nerima kamu apa adanya udah lulus, nih. Sekarang aku udah bisa mulai 'bodo amat' kalo kamu ngeluarin kata-kata ngawur. Kalo dulu awal-awal sering nangis. Kamu pasti tahu, kan? Iya, kan? Sekarang juga masih nangis, cuma kadang-kadang doang.

Terus... Makin sini makin ngerasa bersyukur sekali. Udahlah dikasih anak cakep dan pinter, ternyata dikasih sepaket pula sama papanya yang baik banget. Yang suka menolong, rajin menabung, kerja keras, dan sayang keluarga. Coba begini pas sekolah dulu, udah jadi siswa teladan pasti.

Meski masih suka keluar taring kalo lagi marah, ya udah lah ya. Semua orang lahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

It's ok if you are not perfect, so am I.

Aku kurangnya juga buanyak buanget. Belum bisa masak, belum bisa nemenin kamu terus-terusan, belum bisa ini itu banyak sekali. I'm so sorry. But one thing for sure, I really want to be the best partner for you throughout life. Uhuk.

Dan maaf juga kalo istri kesayanganmu ini masih sering ngambek. Ya, gimana, namanya juga sayang. Kalo gak ada ngambek-ngambeknya kan gak seru. Masak datar aja.. Ngantuk ntar kayak lewat jalan tol.

Next, I want to say thank you so much for everything. For all the love and effort. Icel and I are happy to have you in our life. We love you sooooo much.

Last but not least,

Semoga kita bersama selamanya, ya. Baik-baik berdua. Banyak rukun dan bahagianya.

Semoga Tuhan senantiasa menentramkan jiwa kita, memberi rejeki yang barokah, menitipkan keturunan yang soleh solehah, menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Amin...

Selasa, 15 September 2020

Day 1: Describe Your Personality

Gara-gara ada 30 days writing challenge lewat di TL, nih. Jadi pengen ikutan. Ya, lumayan buat latihan mikir lagi. Kayaknya udah lama ini otak gak berkerja dengan maksimal kwkwkw.

***

"Selama aku masih banyak cerita, selama aku masih suka ngomelin kamu, selama aku masih bisa nangis karenamu, itu artinya kamu masih penting buatku."

Sebagian orang di dunia ini memang begitu. Bisa jadi pendiam dan cerewet dalam satu waktu. Aku salah satunya. Aku orang yang cenderung pendiam jika berada di lingkungan baru. Tapi, kalau sudah kumpul dengan orang-orang lama di hidupku, aku bisa jadi manusia paling cerewet di antara mereka. Kuncinya bagiku adalah rasa nyaman. Jika aku merasa nyaman di dekatmu, aku bisa tidak berhenti bicara denganmu.

Ngomongin soal ngomel, aku orang yang males banget ngomel. Bagiku ngomel itu semacam buang-buang tenaga. Bikin capek. Jadi, kalo aku masih sering ngomelin kamu, kamu tahu artinya apa, kan? I am into you. I care for you. Yakali aku mau buang-buang tenaga buat orang yang gak aku sayang. Males banget. If you know me so well, ngomelku adalah ekspresi rasa sayangku ke kamu. 

Diomongin orang sekampung, EGP. Dikata-katain sama orang gak dikenal, EGP juga. Pokoknya kalo mereka yang suka komentarin hidupku itu gak ngasih efek apa-apa di hidupku, ya, EGP. Ngasih makan, gak. Sekolahin, gak. Beliin skincare, gak. Beliin pulsa, gak. Ngajak jalan-jalan juga gak. Tapi, kerjanya ngomentarin hidup mulu. Ya, udah diemin aja. Mungkin memang begitu cara mereka berbahagia, dengan mengusik kehidupan orang lain. Aku dan kamu bisa cari bahagia dengan cara berbeda. Yekannn...

Ya, gitu deh. Cuek banget diriku ini. Kecuali, lagi-lagi sama orang yang aku sayang. Aku gak bisa gak peduli sama kamu yang aku sayang. Semua tentang kamu, aku akan tahu. Semua kata dan perbuatanmu akan sangat mempengaruhi mood-ku. You'll be my mood booster and breaker at the same time. Aku akan senang gak keruan kalo kamu bikin aku Happy. Sebaliknya, aku juga bisa nangis berhari-hari kalo kamu bikin aku sakit hati.

Satu lagi, aku gak gampang ngobral air mata ke sembarang orang. Aku hanya akan nangis di depanmu. Di pelukmu. Kecuali, kalo nonton film, sih. Hoho.

Rabu, 26 Agustus 2020

Jodoh 5: Doa

Percayalah pada kekuatan doa. Apalagi doa yang berulang-ulang. Bukankah apa pun yang sekarang ada pada kita ini adalah hasil dari doa-doa di masa lalu? Itu juga yang ku lakukan ketika sedang meminta jodoh pada Tuhan. Berdoa seseringnya. Berdoa mohon yang sebaik-baiknya. Dan tentu dengan kesungguhan yang luar biasa.

Jauh sebelum ketemu Mas Anang, setiap harinya ku selalu berdoa. Selalu. Gak pernah alpha. Setiap hari mengulang doa yang sama. Kata yang sama. Semoga kelak dijodohkan dengan orang yang begini begini begini. Yang baik, yang sholeh, yang ganteng, yang kaya, dan lain sebagainya.

Gimana caranya supaya bisa mengucapkan doa yang sama secara konsisten? Tulis!

Tulis hal-hal yang diinginkan dalam selembar kertas. Sedetail mungkin. Tempel kertas di sudut yang sering terlihat oleh mata. Setiap kali melihat kertas tersebut, baca! Itu yang kulakukan. Gak cuma sebulan dua bulan kertas yang tertulis tentang bagaimana jodoh yang kuinginkan tertempel di lemari dekat kasur. Bertahun-tahun. Iya, selama bertahun-tahun aku merapalkan doa yang sama setiap harinya. Bertahun-tahun, sodara-sodara...

Lalu, apa semua yang tertulis di kertas itu ada pada Mas Anang sekarang? No. Tapi, aku berani bilang 80% yang kuminta, aku menemukannya di diri Mas Anang.

The power of praying.


***

Ini pertemuan kami yang ketiga dalam kurun waktu sepuluh hari. Kalau dirata-rata, berarti setiap tiga hari sekali kami bertemu. Lumayan sering lah untuk tahapan PDKT. Yang membuat berbeda di pertemuan kali ini adalah today is my day. Hari lahirku. Pas mau dijemput, gak ada pikiran apa pun tentang apa yang akan dia lakukan di hari ulang tahunku ini. Lha, gimana, orang ngakunya cinta, tapi dari pagi ngucapin selamat ulang tahun aja enggak. Segakromantis-romantisnya dia, masak ngucapin ulang tahun aja gak ada inisiatif. Lak yo aku dadi piye ngono to.

Kalau aku cinta sama orang, ini kalo aku, ya... Aku akan selalu jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun ke dia. Akan selalu menjadi orang pertama yang ada kapan pun dia butuh. Dan akan menjadikan dia orang pertama yang tahu segalanya tentangku. Tapi, cara mengungkapkan rasa cinta setiap orang kan berbeda. Jadi, gak semua-muanya harus sama kayak aku atau kamu.

Balik lagi ke pertemuan. Di sore yang cerah, dia tiba. Langsung capcus. Psttt... Ternyata ada yang sedang berusaha ngasih surprise. Ketika buka pintu mobil, udah ada sebuket mawar merah di kursi penumpang. Mawar merah yang kapan lalu pernah jadi bahan obrolan. Eh, tahunya dikasih sama dia di hari ulang tahun. Seneng, sih, tapi tetep sok cool dong. Jaim.

Dulu gitu. Kode-kode aja dia udah nangkep. Udah peka mesti dieksekusi kayak gimana. Sekarang? Ya Rabb.. Aku minta tanpa tedeng aling-aling juga dicuekin aja. Alhasil kalo pengan kembang, mending beli sendiri. Daripada ngarep-ngarep, tapi gak dikasih-kasih. Kesel iya, capek juga. Kuncinya, if nobody treats you well, treat yourself very well. Gitu, ya, kawan-kawan yang senasib denganku.

Lanjut ke surprise berikutnya, ah. Pas di tempat makan tiba-tiba ada kue ulang tahun terbang. Eh, gak gitu, ding. Yang bener, ada mbak-mbak yang tiba-tiba datang dengan membawa kue ulang tahun sambil nyanyi lagu Happy Birthday. Ya Allah... ini awkward moment banget. Udah setua ini masih dikasih kejutan begitu. Tapi, seneng kok. Kalo dikasih surprise begitu lagi, aku gak mau.... gak mau nolak! Mas, kalo kamu baca, tolong ini digarisbawahi, ya!

Kejadian terakhir di hari ini yang lumayan bikin terkejut  yaitu saat sudah berada di rumah. Pas dianter pulang. Ini pertama kalinya ku ngajak dia masuk rumah. Di pertemuan-pertemuan sebelumnya, paling pol hanya sampai depan rumah. Cuma nurunin aja. Abis itu bye. Kali ini niat hati ingin mengenalkannya pada orang tua. Ben ora dibatin wae. Biar orang tua tahu selama sepuluh hari ini anaknya sering pergi sama siapa? Jadi, kalo ada tetangga yang gak enak omongannya, orang tuaku woles aja.

Singkat cerita mereka kenalan. Tentu, tanpa aku ikut campur dalam pembicaran antara calon mertua dan calon mantunya. Dari dalam kamar, samar-samar aku mendengar seorang lelaki muda berkata, "Pak, kulo niku ajeng serius kalih Dek Yuyun."

Ya Allah "Dek". Ini pertama dan terakhir kalinya Mas Anang manggil aku Dek. Pengen ketawa, tapi kok kasihan sama dia yang pasti sedang deg-degan di luar sana. kwkwkw....

BTW, Thankyou, ya, Mas.. Udah ngasih memori baik banget di hari ulang tahunku. Makasih untuk kado terindahnya. Berupa kehidupan bersama.


Selasa, 28 Juli 2020

Jodoh 4: Meminta

Pas masih muda ngebayangin kalo suatu saat akan dilamar oleh seseorang dengan cara yang sangat romantis. Lagi makan malam di sebuah restoran, dikasih cincin, ada backsound lagu-lagu cinta. Terus nanti ada fotografer tersembunyi yang mengabadikan moment. Pokoknya gitu deh. Pengen di-surprise-in seromatis-romantisnya pas lamaran.

Tapi... namanya juga hidup. Gak semua keinginan bisa terwujud. Alih-alih dilamar dengan seromantis itu, yang ada dapat suami yang gak ngerti gimana caranya romantis. Huft. Sebel apa seneng? Ya, ada sebelnya. Sebel banget kalo pas pengen diromantisin, tapi dianya gak respon. Senengnya, (biasanya) modelan cowok kaku macam ini gak mata keranjang. Gimana mau mata keranjang, ngegombal aja gak bisa.

***

Pertemuan pertama done. Lanjut, dong, ke pertemuan berikutnya. Pokoknya ketemuanya ngebut. Aji mumpung, pumpung dia di rumah. Dimanfaatkan baik-baik waktunya untuk saling mengenal. Kan niatnya memang ke jenjang pernikahan. Bukan cuma hore-hore pacaran.

Sama seperti di pertemuan sebelumnya, di pertemuan kali ini aku juga masih gak banyak omong. Masih berusaha men-screening makhluk yang ngajak jalan ini. Mengambil informasi dari dia sebanyak-banyaknya. Untuk kemudian diolah di otak, dan dikirim ke hati. Hallah... Ya, dong. Sebisa mungkin akalnya dipakai dulu, sebelum dikasih ijin masuk ke hati. Soalnya kalo sudah di hati, akal ini kadang-kadang udah susah diajak berpikir waras.

Lanjut cerita pertemuan. Jadi, waktu itu kita jalan sore-sore. Ngopi. Terus, abis itu makan. Gak ada perasaan apa pun saat itu. Semua berjalan kayak biasa aja. Kecuali, makanan yang aku pesan rasanya gak enak. Huhuhu. Sedih banget soal ini. Pesen makanan kesukaan, eh, rasanya ya-gitu-deh.

Lagi nyebelin makanan yang gak enak, eh, tiba-tiba ada suara lirih dari manusia yang duduk di sampingku. Lirih banget. Agak bergetar, "Mbak, kamu mau gak jadi ibu dari anak-anakku?"

Sumpah! Itu kalimat rasanya ngeri sekali. Gak ada romantis-romantisnya seperti yang pernah kubayangkan ketika muda dulu. Sengeri apa? Di cuaca yang dingin saat itu, tubuhku tiba-tiba terasa panas. Jantungku mendadak berdegup kencang. Kedua tanganku juga ikutan bergetar. Berasa lagi dipepet sama makhluk astral. Tapi, ya, tetep ku pura-pura terlihat baik-baik saja. Haha...

No! Gak langsung kujawab. Ogah lah. Lhawong dia ngomongnya aja lirih banget. Minta ambil alih hidup anak orang, tapi gak ada tegas-tegasnya. Ku minta ulang, dong. Harus jelas, sambil pegang tangan, dan natap mataku. Dalam hati ku membatin, "Kapok. Kukerjain."

Aku tahu kok. Saat itu, dia juga ngerasain yang kurasain. Lebih dari yang kurasain malah. Lebih deg-degan. Lebih khawatir. Lebih banyak butuh keberanian. Tapi, akhirnya dia ulang juga, "Mbak, kamu mau gak jadi ibu dari anak-anakku? Jadi istriku? Jadi duniaku? Menua bersamaku?"

Kujawab, "Insha Allah. Aku mau."

Udah. Gitu doang. Gak ada foto bareng, apalagi difotoin sama fotografer. Gak ada backsound lagu-lagu cinta, yang ada hanya suara kodok dan kawan-kawannya. Gak ada acara kasih cincin, adanya cuma dijajanin makan yang kebetulan gak enak. What kind of proposal is this?

Gak apa-apa. Ketika kubilang, "Aku mau," artinya, kumau menerima segalamu. Baik dan burukmu. Sehat dan sakitmu. Susah dan senangmu. Insha Allah.