Selasa, 28 Juli 2020

Jodoh 4: Meminta

Pas masih muda ngebayangin kalo suatu saat akan dilamar oleh seseorang dengan cara yang sangat romantis. Lagi makan malam di sebuah restoran, dikasih cincin, ada backsound lagu-lagu cinta. Terus nanti ada fotografer tersembunyi yang mengabadikan moment. Pokoknya gitu deh. Pengen di-surprise-in seromatis-romantisnya pas lamaran.

Tapi... namanya juga hidup. Gak semua keinginan bisa terwujud. Alih-alih dilamar dengan seromantis itu, yang ada dapat suami yang gak ngerti gimana caranya romantis. Huft. Sebel apa seneng? Ya, ada sebelnya. Sebel banget kalo pas pengen diromantisin, tapi dianya gak respon. Senengnya, (biasanya) modelan cowok kaku macam ini gak mata keranjang. Gimana mau mata keranjang, ngegombal aja gak bisa.

***

Pertemuan pertama done. Lanjut, dong, ke pertemuan berikutnya. Pokoknya ketemuanya ngebut. Aji mumpung, pumpung dia di rumah. Dimanfaatkan baik-baik waktunya untuk saling mengenal. Kan niatnya memang ke jenjang pernikahan. Bukan cuma hore-hore pacaran.

Sama seperti di pertemuan sebelumnya, di pertemuan kali ini aku juga masih gak banyak omong. Masih berusaha men-screening makhluk yang ngajak jalan ini. Mengambil informasi dari dia sebanyak-banyaknya. Untuk kemudian diolah di otak, dan dikirim ke hati. Hallah... Ya, dong. Sebisa mungkin akalnya dipakai dulu, sebelum dikasih ijin masuk ke hati. Soalnya kalo sudah di hati, akal ini kadang-kadang udah susah diajak berpikir waras.

Lanjut cerita pertemuan. Jadi, waktu itu kita jalan sore-sore. Ngopi. Terus, abis itu makan. Gak ada perasaan apa pun saat itu. Semua berjalan kayak biasa aja. Kecuali, makanan yang aku pesan rasanya gak enak. Huhuhu. Sedih banget soal ini. Pesen makanan kesukaan, eh, rasanya ya-gitu-deh.

Lagi nyebelin makanan yang gak enak, eh, tiba-tiba ada suara lirih dari manusia yang duduk di sampingku. Lirih banget. Agak bergetar, "Mbak, kamu mau gak jadi ibu dari anak-anakku?"

Sumpah! Itu kalimat rasanya ngeri sekali. Gak ada romantis-romantisnya seperti yang pernah kubayangkan ketika muda dulu. Sengeri apa? Di cuaca yang dingin saat itu, tubuhku tiba-tiba terasa panas. Jantungku mendadak berdegup kencang. Kedua tanganku juga ikutan bergetar. Berasa lagi dipepet sama makhluk astral. Tapi, ya, tetep ku pura-pura terlihat baik-baik saja. Haha...

No! Gak langsung kujawab. Ogah lah. Lhawong dia ngomongnya aja lirih banget. Minta ambil alih hidup anak orang, tapi gak ada tegas-tegasnya. Ku minta ulang, dong. Harus jelas, sambil pegang tangan, dan natap mataku. Dalam hati ku membatin, "Kapok. Kukerjain."

Aku tahu kok. Saat itu, dia juga ngerasain yang kurasain. Lebih dari yang kurasain malah. Lebih deg-degan. Lebih khawatir. Lebih banyak butuh keberanian. Tapi, akhirnya dia ulang juga, "Mbak, kamu mau gak jadi ibu dari anak-anakku? Jadi istriku? Jadi duniaku? Menua bersamaku?"

Kujawab, "Insha Allah. Aku mau."

Udah. Gitu doang. Gak ada foto bareng, apalagi difotoin sama fotografer. Gak ada backsound lagu-lagu cinta, yang ada hanya suara kodok dan kawan-kawannya. Gak ada acara kasih cincin, adanya cuma dijajanin makan yang kebetulan gak enak. What kind of proposal is this?

Gak apa-apa. Ketika kubilang, "Aku mau," artinya, kumau menerima segalamu. Baik dan burukmu. Sehat dan sakitmu. Susah dan senangmu. Insha Allah.

Rabu, 19 Februari 2020

Jodoh 3: Bertemu

Tips buat teman-teman yang lagi pendekatan dengan seseorang. Sekali-kali cobalah cara ini untuk lebih saling mengenal satu sama lain. Adalah dengan saling bertukar informasi tentang hal-hal mendasar dalam diri masing-masing. Misalnya, saling bertukar daftar 10 hal yang disuka dan tidak disuka. Atau dengan saling menyebutkan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ini juga dibuat daftar biar lebih spesifik. Dan harus jujur.

Aku dulu begitu. Aku menyusun daftar hal-hal yang kusuka dan tak kusuka. Kutukar dengan daftar miliknya. Aku  menyebutkan kelebihan dan kekuranganku, pun dia. Ini dimaksudkan untuk tau sejauh mana dia mengenal dirinya sendiri. Kalo dia kenal dengan dirinya sendiri, menyebutkan kekurangan dan kelebihan dalam dirinya bukan perkara sulit, kok.
 
Kalo aku, agak-agak berlebihan soal ini. Kubilang kalo diriku ini tak bisa memasak, pemalas, jarang  mengerjakan pekerjaan rumah, padahal, ya... memang begitu adanya kwkwkw. Pokoknya gambarkan diri sejelek-jeleknya, kalo dia masih oke, ya baguslah. Kalo dia menyerah gara-gara ini, ya udah, bye. Seseorang yang tak mau menerimamu saat kamu jelek, buruk, bulukan, bau, malas ngapa-ngapain, pengennya rebahan saja, sesungguhnya dia tak layak ada di saat-saat terbaikmu. Gitu...

Atau bisa juga dengan mengatakan sesuatu yang ‘gak baik’ menurut khalayak, tapi kita melakukan. Misal, soal tattoan yang kukatakan kemarin. Ku hanya ingin tau reaksinya. Ingin tau seterbuka apa pikirannya terhadap hal-hal yang dianggap ‘gak baik’ oleh banyak orang.

Karena sungguh aku tak akan memilih lelaki yang judgemental. Yang intoleransi. Yang pikirannya tak seterbuka itu. Dan yang tidak bertanggung jawab.

***

Akhirnya pulang juga dia. Tepat di bulan April 2017. Ngepasin sama bulan ulang tahunku, mungkin. Mau kasih kejutan atau apa gitu, mungkin. Biar dikira romantis. Soalnya di antara 10 hal yang kusuka yang pernah kutulis untuknya, salah satunya adalah, kusuka dengan lelaki romantis. Kalo beneran begitu, nice try lah.

Dan sore itu kita janjian ketemu. Di kepalaku ini tak punya banyak bayangan tentang dia. Yang kuingat hanya wajah maskulin dan kulit gelapnya. Oh, dan tentu saja lagu yang pernah dia nyanyikan semasa SMP dulu. Lagu apa itu? Lagu Madu dan Racun yang liriknya diganti dengan semangat kepramukaan. Nakal-nakal gitu, dia anak pramuka juga.

Di pertemuan pertama, ku tidak banyak omong. Rasanya masih awkward. Di benak ini masih yang, “Hei, kok bisa, sih? Kok kamu? Beneran ini kita ketemu dengan tawaran rencana masa depan? Serius?” ya begitulah.

Ada beberapa hal yang lumayan mengesankan di pertemuan pertama ini. Terutama, tentang caranya memperlakukanku. Sangat manis. Untuk ukuran orang yang baru sekali bertemu, dia memperlakukanku dengan sangat baik. Meanwhile, aku tidak sebaik itu ke dia waktu dulu.

Mas, tolong, Mas. Kalo kamu ingat bagaimana manisnya kamu dulu ke aku, jangan cuma cengar cengir. Tetaplah semanis itu, niscaya mamanya anakmu ini akan menjadi wanita yang paling bahagia. Masih ingat, kan, gimana kamu mengantarjemputku hingga ke depan pintu restoran, agar aku tak kehujanan? Masih ingat saat kamu membukakan pintu mobil untukku pas mau turun? Masih ingat juga kalo pengen ngerokok, kamu menjauh dariku, karena tau aku tak suka asap rokok? Kuharap, kamu tetap semanis ini hingga kita tua nanti. Tetap menggandeng tanganku saat kita jalan. Tetap memelukku saat aku sedang tak baik-baik saja. Tetap sering-sering bilang cinta. 

Setelah menampilkan kesan baik dengan sikapnya yang manis, selanjutnya dia memberi penjelasan kenapa beberapa kali menunda kepulangannya. Hal ini sempat membuatku berpikir bahwa dia tidak serius. Lha kalo beneran serius lak yo ndang buktikan dengan segera menampakkan diri, bukan cuma speak-speak aja. Kalo sekadar speak-speak aja, penyiar radio jagonya.

Jadi, apa alasannya? Sebentar, kuceritakan kronologisnya dulu. Jadi, seringkali dia menawariku mau minta apa? Mau dibelikan apa? Lagi butuh apa? Dan diriku yang kampungan ini selalu tak punya jawaban atas tawaran-tawaran itu. Bukannya gak butuh apa-apa, tapi diri ini merasa gak pantes menerima ini itu dari orang yang baru saja dekat, yang ketemu saja belum pernah. Sebagai perempuan jawa, lak mesti ono rikuh pekewuhe.

Tapi, dasar Leo yang keras kepala, dia tetep maksa. Ya, udah, sekalian ngetes lagi aja. Sejauh mana usahanya untuk mewujudkan keinginanku? Kebetulan saat itu aku lagi pengen banget buku Harry Potter lengkap. Seri 1 sampai 7. Akhirnya minta tolong ke dia buat nyariin buku-buku itu. Kubilang, kalo beneran mau serius, harus dapat buku-bukunya. Gak boleh gak. Kayaknya nyarinya mayan susah, sih. Soalnya waktu itu di toko buku udah gak ada. Kalo pun ada, pasti juga gak lengkap.

Panjang cerita setelah mendaki gunung lewati lembah arungi samudra nyebrang sungai jalan berkilo-kilo, akhirnya dia berhasil. Setelah buku-buku itu ada di tangan, dia baru berani pulang. Begitulah. Saat pulang, dia tidak hanya membawa harapannya sendiri, tapi bersamanya ada keinginanku yang diwujudkan. Benar-benar ingin membuktikan bahwa dia serius terhadap segala apa yang dikatakannya selama ini. Sangat serius.

Di pertemuan pertama ini, ku sangat menghargai segala usahanya. Sangat berterima kasih atas semua yang dia upayakan. Saat itu aku melihatnya sebagai lelaki baik. Lelaki yang bisa memperlakukanku dengan baik.

Iyalah, Mbak. Namaya juga lagi usaha. Pasti memberi kesan sebaik mungkin, biar Mbaknya terpikat. Gitu aja gak ngerti.

Sabtu, 15 Februari 2020

Jodoh 2: Mendekat

Kedatangan Mas Anang adalah berkah. Kok? Jadi, cerita dikit, nih. Sebelum kedatangannya, ku sempat dijodohkan dengan seseorang yang kutak suka. Tentu saja kutolak. Dan ini sempat membuat hubunganku dengan orang tua menegang.

Ya, aku mengerti perasaan orang tuaku. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk anak gadisnya yang hingga menginjak usia kepala tiga masih sendiri saja. Tapi… aku juga bukan tipe anak manis yang iya-iya aja sama semua pilihan orang tua. Sebagai manusia merdeka, ku juga punya keinginan, punya pilihan. Apalagi ini perkara memilih pasangan hidup yang konsekuensi dari pilihannya akan dijalani seumur hidup. Yang untuknya aku akan mencurahkan seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan. Yang darinya aku akan punya keturunan. Yang dengannya aku akan menjalani hari tua bersama. Aku gak bisa ngebayangin aja menjalani hidup dengan orang yang sedari awal sudah tidak ku suka.

Dan kehadiran Mas Anang  seperti mengakhiri drama panjang perjodohan ini. Thanks, Mas. Kamu datang tepat waktu.

***

Sejak sapaan di inbox facebook waktu itu, papanya anakku ini mulai meluncurkan jurus-jurus pendekatan. Pendekatan jarak jauh. Posisi kita memang gak sekota. Ku di sini, dia jauh di Bogor sana. Kalo alamat di KTP, sih, deketan. Deket banget. Jarak antara rumahku dan rumahnya gak lebih dari 2 km.

Ribet gak tuh pendekatan jarak jauh? Entah. Nanti, deh, kutanyakan sama dia. Kalo aku sebagai pihak yang didekati, sih, biasa aja kwkwkw...

Seingatku, dia intens banget ngubungin tiap hari. Pagi sore malem kirim pesan mulu. Standar orang-orang kalo lagi PDKT lah. Aku, waktu itu masih jual mahal. Bales pesannya kalo sempat doang. Atau kalo mood aja. Kalo dipikir-pikir kok jahat, ya kwkwkw...

Ya, gimana? Sebagai seorang perempuan yang udah berkali-kali mengalami patah hati, aku kan juga harus jaga diri dan hati. Ora angger. Lagian secara usia, ku juga tak lagi belia. Sudah saatnya menemukan atau ditemukan oleh seseorang yang serius, gak cuma main-main aja. Dan tentunya seseorang yang kuklik juga dengannya.

Sedari awal, dia sudah menyatakan ingin serius. Sempat mikir, ini orang gila apa gimana? Ketemu belum pernah, udah PD mau serius aja. Nanti kalo pas ketemu dan aku gak sesuai dengan ekspektasinya, lak yo malah masalah. Menimbulkan kekecewaan dan berujung tidak baik pada sebuah hubungan. Atau ini orang hanya pasang umpan saja? Semua gadis diajak serius, yang mana yang nyantol duluan diajakin serius beneran gitu.

Auk, ah..

Yang pasti semakin hari, intensitas chatting kita semakin bertambah. Dari situ, ku berlahan mulai mengenali karakternya. Tentang dia yang perhatian. Dia yang tidak suka nge-judge. Dia yang open minded. Dia yang bertanggung jawab. Dan dia yang sangat wagu dalam menunjukkan perasaannya.

Hallah, Mbak, baru ngobrol aja udah menarik kesimpulan, sih? Ehm... Jadi, begini...

Suatu waktu ku pernah bilang ke dia, kalo aku tattoan. Tentu saja ini pernyataan yang mengada-ada. Diada-adakan hanya untuk mengetesnya. Pada bagian ini dia lulus. Dia tidak mempermasalahkan perihal aku tattoan, aku ngerokok, atau bahkan aku mabok. Dari sini kutau kalo dia tidak suka nge-judge.

Suatu waktu lagi ku pernah bilang ke dia, kalo sudah nikah nanti aku mau berenti kerja. lagi-lagi hanya sebuah pernyataan yang diada-adakan. Karena, sungguh kutak ada niat berenti kerja setelah menikah. Di bagian ini dia lulus juga. Dia oke-oke saja dengan aku kerja atau tidak setelah menikah nanti. Dia malah bilang, "Gapapa. Setelah menikah, susah senangmu kan tanggung jawabku." Bhaiq... sampai di sini paham, kan, kenapa aku bilang dia bertanggung jawab?

Lalu, bagaimana bisa tau kalo dia perhatian? Kan dia jauh. Masak, ya, Mbaknya percaya sama kata-kata tanpa tindakan dari seorang lelaki yang berada  nun jauh di sana.

Ini pada suatu waktu lagi. Ku pernah sakit. Gak parah, tapi lumayan mengganggu. Mengganggu kesehatan fisik, psikis, dan tentu saja isi dompet. Beberapa kali ku harus ke dokter untuk memastikan bahwa telinga kiri yang kukeluhkan ini baik-baik saja. Ku yang berobat santai saja, dia yang jauh di sana berisik terus. Sampai mau ngasih biaya pengobatan. Ya Rabb.. dipikirnya ku gak punya cukup uang untuk membiayai hidup apa gimana? Huh. Tapi, dari sini ku jadi tau kalo dia seperhatian itu.

Oh, dan tentu saja aku stalking akun sosial medianya. Untuk sekadar tau tentang pergaulan dan pemikirannya. Sebagai tambahan bahan pertimbangan kwkwkw...

Sampai di sini sudah yakin sama keseriusannya? Tentu saja belum. Tidak semudah itu, Ferguso. Pokoknya kalo dia belum menampakkan diri di depanku, aku masih menganggap bahwa niatnya hanya sebuah niat. Kalo beneran serius, tolong ya, tampakkan diri anda di depan saya. Jangan hanya berkata-kata.

Dan setelah beberapa kali dia gagal untuk menampakkan diri, akhirnya di bulan April 2017, dia muncul juga. Apa yang terjadi setelahnya? Nanti lah, akan kuceritakan.

Kamis, 13 Februari 2020

Jodoh 1: Kenalan

Jodoh itu ya gitu. Ga disangka, ga dinyana, tau-tau datang gitu aja. Pun pas aku ketemu sama papanya anakku ini, be like, ”Lhah.. kok kamu? Ngapain gak dari dulu? Ngapain harus ngilang sekian tahun, baru nongol lagi? Ngapain susah-susah jatuh cinta, lalu patah hati berkali-kali? Kan capekkk.”

Swear! Aku tu gak nyangka banget kalo bakal berjodoh sama lelaki ini. Lelaki yang pas jaman SMP dulu terkenal karena nakalnya. Karena tengilnya. Iya, sih, aku sempat ngefans sama dia, soalnya dia pinter main gitar. Cuma sebatas ngefans doang. Jatuh sukanya, sih, sama orang lain.

Dulu, kita juga hanya sekadar saling tau. Owh... ini si ini, ini si itu. Boro-boro kenal dekat, saling sapa aja kita gak pernah. Nah, habis lulus SMP, baru kita beberapa kali sapaan pas ketemu di jalan. Pas sama-sama nunggu angkot pulang sekolah. Atau pas dia ikut temen-temenku jemput aku. Selebihnya, ga ada apa-apa. Gak pake rasa.

Selepas SMA kayaknya udah sama-sama sibuk dengan kehidupan masing-masing. Aku dengan hidupku di sini. Dia dengan hidupnya di sana yang ku gak tau di mana dia berada. Dan memang gak pengen tau. Ya gimana pengen tau, lha wong keinget pernah kenal sama dia aja gak.

Hingga sekitar sepuluh tahun kemudian, aku dan dia diketemukan (oleh takdir) di sebuah acara. Ku ada undangan kondangan ke adiknya. Niatku, ya, cuma kondangan. Ketemu manten, abis itu pulang. Gak taunya diajak ngobrol sama dia. Lama banget. Mungkin jiwa Leo-nya bergejolak. Gak bisa gak tebar pesona ke mbak-mbak yang lagi sendirian. Terus, di akhir obrolan dia ninggalin nomor HP. Nomor HP yang sungguh tiada guna, karena meski kusimpan di daftar kontak, tapi tak pernah kuhubungi sama sekali.

Setelahnya, aku kembali sibuk dengan kehidupanku. Pun dia, tentunya kembali sibuk dengan kehidupannya.

Hingga Juli tahun 2016 dia menghubungiku lagi. Kali ini lewat inbox facebook. Bisa jadi karena dia nerima wangsit usai pulang kampung pas lebaran. Konon ceritanya, dia dapat masukan dari adik dan ibunya untuk memperistriku. Sungguh, calon mantu yang sangat beruntung, sudah dapat dukungan dari calon mertua dan calon adik ipar sebelum diperkenalkan.



Ya Tuhan kok aku awalnya jahat banget, sih. Itu dia inbox dari bulan Juni, baru kubalas bulan Juli :)

Demikian cerita awal gimana aku dan papanya anakku ini bisa ketemu. Bisa dekat. Lalu, menikah dan punya anak. Lain kali, akan kuceritakan lagi bagaimana perjuangannya di masa-masa PDKT dan caper ke mamanya Icel ini.

Sabtu, 01 Desember 2018

Yksel, Anakku



Namanya Yksel Al-Khawarizmi. Dia lahir di tanggal yang cantik menurut saya, 1818. 1 Agustus 2018. Tidak ada kesengajaan untuk melahirkannya di tanggal segitu, meski harus melalui c-section.

Hamil Yksel ini sangat menyenangkan. Sama sekali ga bikin susah. Ga ada acara mutah dan mual di awal kehamilan. Ga ada badan lemes-lemes. Kondisi tubuh juga oke-oke saja. Semua makanan masuk. Wewangian apa pun ga ada yang alergi. Dan saya masih bisa berkegiatan seperti biasa.

Lalu, kenapa memilih caesar kalau ga ada masalah selama kehamilan? Manusia hanya berencana, Tuhan yang menetapkan. Awalnya, saya juga menyiapkan diri untuk melahirkan secara normal. Hingga tiba usia melahirkan, tapi Yksel-nya masih betah di perut, dan saya sendiri tidak merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Apa itu bukaan 1 - 10? Maaf, saya sama sekali belum merasakan. Dan melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk caesar saja.

Soal pemilihan nama.. Jauhhh sebelum saya menikah, lalu hamil, kemudian melahirkan, nama Yksel Al-Khawarizmi sudah ada di angan-angan. "Yksel" diambil dari nama seorang pemain sepak bola asal Swedia, Yksel Osmanovski. Sedang, "Al-Khawarizmi" adalah nama seorang ilmuan dari Persia. Jadi, kalau ditanya, apa arti nama Yksel Al-Khawarizmi itu? Saya sendiri kurang tahu, saudara-saudara.

Yang pasti melalui nama itu, saya berharap, kelak, Yksel Al-Khawarizmi akan menjadi manusia yang penuh manfaat seperti tokoh-tokoh yang namanya telah saya comot. Bidang apa pun yang dia pilih untuk hidup nanti, saya berdoa dia akan selalu menjadi yang terbaik di sana. Dan yang terpenting dari semua itu, saya ingin anak ini tumbuh menjadi anak yang sehat dan gembira. 

Iya... tumbuhlah dengan penuh kegembiraan, anakku sayang. Seperti cinta Mama yang selalu penuh untukmu. 

Selasa, 14 Maret 2017

Hallo, Blog

Whohooo...

Haloha... Sudah lama sekali tak mampir ke sini. Maapkeun saya, ya, Blog. Belum bisa menjadi pengasuh yang baik ini. 

Menurut catatan, terakhir kali main ke sini di oktober 2016. Sekarang udah maret 2017. Gak kerasa hampir satu semester. Jadi, selama satu semester itu sok sibuk banget, ya.. Buat nulis Catatan Akhir Tahun seperti biasanya aja gak sempet. Entah gak sempet ato memang males hohoho..

Dan gegara semalam dikirimi link web sama salah satu rekan kerja -hallah- yang juga menjadi pengasuhnya, jadinya saya jadi inget blog ini lagi. Blog yang sudah sekian tahun jadi tempat tsurhat gak jelas. Blog yang kadang-kadang jadi tempat pamer berbagi tempat-tempat wisata yang dikunjungi, yang semoga isinya bisa memberikan info-info yang dibutuhkan para pembaca. Ehem.

Dan mulai hari ini, rasa-rasanya ingin sekali kambali aktif di sini. Menyampahi blog ini dengan cerita-cerita penting gak penting seperti yang lalu-lalu. Secara, sebenarnya kan akhir-akhir ini saya lumayan sering jalan-jalan di tempat sekitar. Lumayan sering kulineran juga. Sayang, kan, kalo disimpen sendiri aja. Siapa tau, kalo dibuat tulisan bisa buat bahan memeri-memorian. 

Udah dulu ah.. Mau lanjut kerja lagi. Masih jam kerja ini. Besok ketemu lagi di tulisan-tulisan yang semoga bermanfaat. 

Senin, 10 Oktober 2016

Luna

Hujan turun seharian. Luna hanya menghabiskan seluruh waktunya di kamar. Memainkan ponsel. Atau sesekali mengelus Ploi—kucing kesayangannya. Kepalanya masih terasa pening, sisa menangis semalaman. Iya, semalam dia bertengkar dengan Barata—seseorang yang hampir dua tahun ini menjadi kekasihnya. Dan seperti biasa, setiap kali bertengkar Luna akan berurai air mata. Ada perasaan sakit yang teramat di hatinya.

Sembari memainkan game, berulang kali Luna membuka aplikasi whatsapp-nya. Berharap, sangat berharap ada pesan masuk dari Barata. Sebuah permintaan maaf atau sekedar menanyakan kabar. Tapi, nihil. Sepertinya kali ini Barata benar-benar marah. Muak mungkin. Sama seperti Luna semalam. Semalam Luna benar-benar emosi. Dia mengeluarkan semua yang dia pendam selama ini. Tentang sikap Barata yang lama-lama membuatnya tidak nyaman.

Sebenarnya bukan sekali ini saja Luna mengkomplain sikap Barata yang seringkali meyentuh rasa sakitnya. Sudah puluhan kali dia memberi warning kepada Barata atas ketidaknyamanannya. Tapi, Barata cuek. Tak mengacuhkannya. Dan kali ini Luna berada di puncak kejengkelan. Hanya karena Luna menghadiri acara ulalng tahun salah seorang sahabatnya, Barata marah. Bahkan sampai mendiamkannya. Padahal sebelumnya dia sudah meminta ijin, dan Barata mengijinkan.
“Kalo dengan menjadi monster bisa membuatmu merasa keren, up to you. Tapi, manusia lain tidak akan selamanya nyaman berada di dekat monster. Karena monster itu hanya ditakuti, bukan di-respect-i , apalagi dicintai.”
Begitu lah pesan terakhir Luna yang tak dibalas oleh Barata. Keterlaluan memang. Luna pun merasa kali ini dirinya sangat kasar. Tapi, di saat bersamaan, dia merasa bahwa Barata memang harus ditampar sekeras-kerasnya, supaya dia sadar kalau berkarakter seorang antagonis bukan lah yang patut dibanggakan. Kalau keegoisan dan kegengsiannya tidak akan membawa kebaikan apa-apa, kecuali kebencian dari orang lain. 

Barata sebenarnya kekasih yang baik dan sangat mencintai Luna. Saking cintanya, dia sampai tidak rela kalau Luna menghabiskan waktu bersama orang lain, selain dirinya. Tapi, rasa cintanya kebablasan. Barata bahkan tidak suka melihat Luna menghabiskan waktu dengan keluarga atau sahabat-sahabatnya. Dan di bagian ini Luna sama sekali tak nyaman. Bagaimana pun juga Luna punya keluarga dan sahabat yang sebelum ada Barata, mereka sudah ada lebih dulu. Luna sudah berangsur menarik diri dari beberapa temannya. Itu belum cukup bagi Barata. Ini lah yang membuat Luna benar-benar kesal.

Ploi mengeong. Membuat Luna tersadar dari lamunannya. Kembali dia mengecek ponsel. Masih berharap ada pesan masuk dari Barata. Dan lagi-lagi nihil. Berlahan air matanya turun lagi. deras. Sederas hujan yang menetes dari langit siang ini.