Rabu, 10 Februari 2016

Cerita Senja


Senja itu, saya dalam perjalanan pulang dari kondangan. Bersama seorang teman, sepanjang perjalanan, kami mengobrol tentang hal penting nggak penting. Maklum, kami sudah lumayan lama tidak bertatap muka. Di tengah obrolan gaje kami, teman saya itu bertanya, “Menurut kamu, orang yang menikah dengan kita itu beneran jodoh kita apa nggak?”

Saya melongo, hanya sepersekian detik. Lalu dengan tegas menjawab, “enggak!”

Kemudian dia bertanya lagi, “Terus jodoh kita siapa dong, kalau bukan pasangan kita?”

Saya mengangkat bahu, tanda tidak tahu. “Entah lah,” hanya itu yang mampu saya katakan detik itu.

Dia kelihatan mengangguk, berusaha memahami pendapat saya yang masih berantakan. Ya, dia memang salah satu orang yang paham akan ke-gaje-an saya. Beberapa menit kami saling terdiam. Sibuk dengan pikiran kami masing-masing sepertinya.

“Beruntung lah mereka yang menikah karena keingingan, bukan keharusan,” Di antara angin senja, tetiba saja keluar kalimat itu dari mulut saya. Saya menghela napas panjang, mendadak merasa puitis sendiri.

Teman saya sedikit kaget agaknya. Dia menoleh sebentar. “Maksudnya?” lalu kembali fokus melihat jalan yang masih becek sisa hujan.

“Ya, yuno lah. Di dunia ini ada banyak pernikahan yang terjadi karena sebuah keharusan. Bukan keinginan,” Saya menjentikkan jari tengah dan telunjuk bersamaan, tidak peduli kalau pun tidak ada yang melihat. Contoh, sepasang muda mudi berpacaran. Mereka tidur bareng, lalu hamil. Mau nggak mau, mereka harus menikah, kan? Menurutku, itu namanya keharusan,” Saya mengambil napas. “Kalau karena keinginan, ya... kayak... saya ingin bersamanya, cause I wanna be with him, no matter what,” lanjut saya.

“Owh..,” teman saya itu mengangguk lagi. Kali ini benar-benar memahami maksud saya.

“Kalau saya. Ketika nanti saya menikah, saya pengen menikah dengan seseorang karena kami saling menginginkan. Karena kami sama-sama ingin bersama. Karena kami ingin berbagi suka duka kehidupan bersama. Karena kami ingin membangun keluarga bersama. Karena kami ingin saling menjaga hingga usia senja,” Di balik kaca helm, mata saya mengerling ke arah langit. Berharap ada banyak malaikat yang mengamini kata-kata saya barusan.

“Tapi di dunia ini kan tidak ada yang sempurna,” Teman saya berseloroh. Kedua matanya masih fokus melihat jalan. Kali ini kami melewati jalan berkelok yang lumayan tinggi.

Di belakang punggungnya, saya mengulas seutas senyum. “Saya sadar, saya bukan makhluk sempurna. Jadi, saya pun tidak berani mengharapkan seseorang yang sempurna. Pasti akan sangat berat jika orang yang tidak sempurna seperti saya bersanding dengan orang yang sempurna.” 

Langit kian gelap. Obrolan kami berlanjut ke sana ke mari. Dia mulai menceritakan tentang beberapa hal pribadinya. Tentang segelintir nama orang yang pernah dekat dengannya. Tentang rencana pernikahannya. Tentang orang tuanya. Tentang pekerjaannya. Dan masih banyak lagi. 

Saya, saya selalu senang ketika ada orang yang masih mau berbagi hal pribadinya pada saya. Itu berarti, mereka masih menganggap saya adalah orang yang bisa dipercaya. Dan semoga akan selalu ada teman seperti dia di dekat saya.

Senin, 25 Januari 2016

Dear, My Future husband

Dear, my future husband...


Semoga kelak, kamu menjadi satu-satunya orang yang mampu melihatku dengan sempurna di saat yang lain tidak. Pun sebaliknya.


Sincerely, 
Your future wife
 

Senin, 07 Desember 2015

Pesan Untuk Dedek


Sumpah! Ini bikin saya ngakak guling-guling. Seumur-umur, baru sekali ini saya ketemu sama cowok model begini. Ganteng sih ganteng. Kaya juga iya. Pun berpendidikan. Tapi, eh, tapi, pas cintanya bertepuk sebelah tangan, dramanya na udzubillah sekali.

Dari yang awalnya mengancam akan memutuskan tali silaturahmi. Dan nyatanya cuma gertak doang, karena masih saja suka cari-cari alasan untuk bisa ngobrol. Hingga berakhir dengan meminta kembali semua barang yang sudah dikasih ke cewek yang ditaksirnya. Kan... Gak classy. Kalau ngasihnya makanan dan udah di-poop-in, apa masih mau diminta juga? 😂

Dek, kamu punya masalah serius. Hidupmu kurang piknik! Eh.

***

Yang namanya jatuh cinta itu biasa. Putus cinta juga bukan hal istimewa. Cinta bertepuk sebelah tangan pun sudah lumrah. Bukan kamu sendiri yang mengalami kok, Dek. Jutaan makhluk di dunia ini juga merasakannya. Bahkan binatang pun.

Dedek yang ganteng, saya tahu betul bagaimana pilunya perasaanmu. Benar-benar paham bagaimana sembilu rindu yang menusuk-nusuk setiap ruas hatimu. Jauh sebelum kamu, saya sudah pernah merasakan semua itu. Saya pernah jatuh cinta. Patah hati. Jatuh cinta lagi. Patah hati lagi. Gak cuma sekali. Berulang kali. Kamu? Baru sekali ditolak saja, sudah serasa runtuh dunia seisinya. 

Ini baru persoalan cinta lho, Dek. Belum yang lainnya. Yang tentunya lebih penting dari sekedar cinta-cintaan. Di masa depan, kamu akan menghadapi dunia yang lebih sadis dari cinta-cintaanmu itu. Kamu harus berhadapan dengan pekerjaan, orang-orang, lingkungan, yang mungkin kesemuanya akan lebih berat. Yang mungkin tidak akan senyaman hidupmu sekarang ini. Hidup yang masih numpang berteduh di bawah payung bapak ibumu.

Dedek yang semoga dirahmati Allah, semoga setelah ini kamu akan tahu, kalau tidak semua hal yang kamu ingin bisa kamu punya. Tak peduli seberapa besar pun uang yang kamu miliki. Tak peduli seberapa banyak duit yang kamu keluarkan untuk itu. Hati punya harga sendiri yang tak terbeli oleh apa pun. Dia punya jalan yang tak bisa kamu paksa. Sama seperti hatimu yang tak bisa berpaling darinya, dia juga sama. Hatinya mungkin tak mampu berpaling dari hati orang lain.

Dek,  bolehlah matamu sipit. Tapi, cobalah liat dunia ini dengan lebar. Bumi tak hanya seluas apa yang kamu lihat setiap hari. Keluarlah. Ketahuilah bahwa di Pacitan sana ada begitu banyak pantai yang indah. Di Magelang, tidak hanya ada Candi Borobudur. Begitu pun di Yogyakarta, tidak hanya ada Malioboro. Jakarta tidak hanya punya Monas. Bali juga bukan hanya Kuta. 

Lihatlah, di luar sana. Pemuda-pemuda seusiamu, banyak yang sedang sibuk merintis mimpi. Bukan malah meratapi sakit hati. Kekuatanmu itu sedang penuh, gunakanlah untuk melakukan yang membuatmu tampak anggun. Buat dia yang hari ini menolakmu, kelak akan menjadi salah seorang pengagum beratmu.

OK?

Duhhh, Dek. Maafkan kakak kalau banyak omong begini. Kakak cuma ingin memberi gambaran, kamu dengan segala kekonyolanmu itu tidak akan bermanfaat apa pun di masa depan. Kecuali, akan membuatmu tertawa saat mengingatnya. 

Dek, semoga sekali ini saja ya, kamu bersikap gak classy kayak gini. Jangan diulangi di kemudian hari. Semoga kelak, kamu mendapatkan seseorang yang paling pas buatmu. Di antara jutaan gadis di luar sana, pasti ada seorang yang ditakdirkan untukmu. Seorang yang akan menerimamu dengan segala kekonyolan, kekanan-kanakan, serta semua kurang lebihmu itu. 

Sudah ya, Dek. Kakak lanjut kerja dulu. Kakak juga mau membuat orang yang pernah menyakiti, berbalik menjadi pemuji. Hallah....



Meja Kerja, 7 Desember 2015

Rabu, 02 Desember 2015

Dear, Telkom

Terhitung sejak hari Sabtu tanggal 28 November 2015 hingga diterbitkannya tulisan ini, sambungan telepon dan internet di tempat kami yang berada di area Boyolali mati. Pet! Sama sekali gak bisa digunakan.
Sejak hari pertama, saya sudah melapor. Saya menelpon ke 147 berulang kali, tapi seperti biasa, jawabannya, “Seluruh officer kami blablabla….” Akhirnya saya mention ke @TelkomCare, dan begini jawaban darinya.


Saya malah disuruh minta bantuan ke @TelkomSolution.

Well, akhirnya saya mention ke @TelkomSolution dengan harapan dia bisa memberi solusi terhadap masalah ini. Bukannya dikasih solusi, malah saya dialihkan kembali ke @Telkomcare. Entah lah, ini apa maunya mereka. Atau mungkin begini cara mereka melayani pelanggan yang sudah bertahun-tahun.


Lalu, saya ditelepon oleh pihak Telkom area Boyolali, mereka bilang, “Salah satu tiang telepon bermasalah akibat proyek pelebaran jalan, jadi mungkin perbaikannya agak lama.”

Saya menghirup napas dalam-dalam. Berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesabaran. Saya berusaha mengerti. Sangat berusaha. Saya tunggu. Mungkin di hari ketiga semua akan kembali normal. Tapi, ternyata sampai hari ini memasuki hari kelima, sama sekali tidak ada perkembangan. Paling cuma ada konfirmasi macam ini.


Itu pun karena saya bertanya. Karena saya ngomel. Kalau gak, mungkin juga bakal dicuekin. Entah sampai kapan.

Pagi ini, saya mencoba menelepon ke 147 lagi. Dan hasilnya nihil. Jawabannya masih sama dengan yang kemarin. Seluruh officer kami blablabla…. Jane officer-e ki ono piro? Apa ada sebegitu banyaknya keluhan hingga saya tak kebagian seorang pun untuk menerima telepon?

Kami hanya berharap kerja sama yang baik dari pihak Telkom. Biar sama-sama enak. terutama untuk teknisi yang bekerja di wilayah Boyolali, kami harap bisa segera mengambil tindakan. Kalau memang akibat dari pelebaran jalan, ya gimana caranya lah, segera diperbaiki. Pelebaran jalan kan juga gak stuck di tempat.

Tulisan ini terbit karena saking mangkelnya saya. Seluruh pekerjaan kami sangat bergantung pada akses internet. Jika akses internet mati selama 5 hari, itu sama artinya dengan kemi menganggur selama 5 hari juga. Jadi, sekali lagi kami mohon kerja samanya.

Sekian. Dan terima kasih.

Kamis, 26 November 2015

Review, Bajrangi Bhaijaan



Beberapa minggu lalu, saya menonton lagi film india yang sedang hits. Bajrangi Bhaijaan. Eh, nontonnya beberapa minggu lalu, tapi baru bikin review-nya sekarang. Gak papa lah, orang pengennya baru sekarang. Hihihi…

BTW, menurut saya, film-bergenre-komedi-yang-dramanya-lumayan-juga-ini adalah film india paling mengesankan yang pernah saya tonton. Setelah sebelumnya ada My Name is Khan, 3 Idiots, dan PK yang penuh inspirasi. Bajrangi Bhaijaan yang diproduksi untuk menyambut hari raya idul fitri 2015 ini juga menyusul. Film ini mengajarkan kepada kita tentang pluralisme, perdamaian dan kemanusiaan.

Salman Khan memerankan seorang Pawan dengan sangat baik. Pemuja Dewa Hanoman yang sangat taat, sehingga disebut Bajrangi. Ini adalah film terbaik Salman Khan—menurut saya sih.

Sebagai pemeran pembantu, sekaligus lawan mainnya adalah Kareena Kapoor. Berperan sebagai Rasika, calon istri Pawan. Aktingnya juga bagus. Meski tidak semenonjol Salman Khan.

Dan bintang dari segala bintang di sini adalah Harshaali Malhotra. Bocah yang tingkat keimutannya sudah melampau batas normal manusia biasa ini begitu luar biasa berperan sebagai Shahida. Tanpa dialog, bocah ini mampu membuat emosi saya naik turun. Hanya dengan mimik mukanya yang innocent banget. Duh, pipinya yang gembul benar-benar uyel-able. Oh ya, Shahida ini diceritakan sebagai bocah usia enam tahun yang tidak bisa bicara.

Plot cerita film ini sebenarnya simpel. Seorang bocah bernama Shahida yang tersesat di India. Lalu, bertemu dengan Pawan yang baik hati. Kemudian, dengan segala upaya, Pawan berusaha mengembalikannya ke Pakistan. Tempat di mana Shahida berasal.

Yang membuat film ini menarik untuk ditonton adalah konflik-konflik yang ada di dalamnya. Bisa dibayangkan sendiri, kan? Bagaimana susahnya berkomunikasi dengan anak kecil yang tidak bisa bicara. Belum lagi ini melibatkan dua negara tetangga yang—tahu sendiri lah, bagaimana kurang harmonisnya hubungan India dan Pakistan. Belum lagi perbedaan keyakinan antara Pawan dan Shahida. Ditambah soal kerumitan hubungannya dengan keluarga Rasika yang menetang keras kepergiannya ke Pakistan untuk mengembalikan Shahida.

Belum cukup di situ. Sesampainya di Pakistan, Pawan harus berurusan dengan kepolisian di sana, karena dicurigai sebagai mata-mata. Dia dijebloskan ke dalam penjara. Setelah berhasil melarikan diri, dia menjadi buronan.

Bahkan, setelah misinya untuk mempertemukan Shahida dengan keluarganya berhasil, dia masih harus kembali berurusan dengan polisi. Kali ini tidak hanya sampai di tingkat polisi, tapi sudah masuk ke ranah elit politik. Hallah.

Tapi, yang lebih penting dari semua cerita di atas adalah pesan yang ingin disampaikan melalui Bajrangi Bhaijaan ini. Dari seorang Pawan, kita semua diajari untuk menempatkan rasa kemanusian di atas segalanya. Tanpa melihat asal muasal dan identitas keyakinan. Pawan yang begitu taat menyembah Dewa Hanoman, dia tidak berat hati menolong seorang anak kecil yang berbeda keyakinan dengannya. Bahkan, sampai rela mempertaruhkan nyawa. Satu sikap yang sudah banyak hilang dari kita-kita. Lha baru menulis hashtag #Prayfor aja udah pada ribut. Eh. *SPEAKNOEVIL*

Melalui beberapa adegan, film Bajrangi Bhaijaan juga ingin menyerukan perdamaian dan toleransi beragama kepada dunia. That’s why film ini layak menjadi tontonan keluarga. Gak usah khawatir dengan anak-anak, film ini sangat minim adegan vulgar kok. Jadi, aman.

Demikian laporan dari saya. Semoga bermanfaat. Dan terima kasih telah membaca. :)

Selasa, 24 November 2015

Perkara Lipstik


Sudah lama banget gak nulis-nulis. Mau mulai lagi, rasanya aneh. Nyusun kalimat per kalimat aja kayak mau mulai lagi ngobrol sama mantan yang sudah lama diem-dieman. Kaku banget. Tapi, sekarang mau coba nih. Pumpung lagi ada bahan.

Jadi, ceritanya kemarin habis beli lipsitk 3 biji. Satu buat saya, sisanya buat temen. Harga lipstiknya sih lumayan mahal—menurut ukuran dompet saya. Secara, lipstik-lipstik di rak make up gak ada yang harganya semahal ini. Sebenarnya, baru coba-coba juga sih beli lipstik yang agak mahalan dengan merk yang kekinian. Biar apa ya? Ya pengen beli aja sih. Sesekali punya barang mahal gak ada salahnya kan ya? Selama gak maksa.

Berhubung saya adalah salah satu penganut paham ono rego ono rupo. Ada harga ada rupa. Di mana penjabarannya adalah, semakin tinggi harga, maka semakin baik kualitas suatu produk . Jadi, saya sama sekali gak meragukan kualitas lipstik yang kebeli kemarin. Bahkan, saya yang merekomendasikan kepada kedua teman saya untuk membeli merk yang sama.

Tapi, sialnya malah di saya. Setelah dipakai, diolesiin ke bibir saya, lipstik itu sama sekali gak sip. Bukannya bibir makin kinclong, malah jadi kering gak keruan. Banyak gumpalan di sana sini. Gak kayak kalau pakai lipstik yang biasanya. Mungkin, bibir saya gak cocok dipakain produk mahal. Entah lah. Hanya Tuhan dan sepasang bibir ini yang tahu.

Beda banget sama temen saya. Pas itu lipstik diolesin ke bibirnya, aman. Keliatan bagus dan rata. Gak ada gumpalan. Sumpah, saya sebel perkara ini! Tapi, ya uwis lah. Udah kebeli juga. Mau ngeluh juga gak ada guna. Mau dibuang, masih sayang. Akhirnya jejerin aja sama lipstik lain yang udah ada di rak make up. Itung-itung nambah koleksi warna.

Satu pelajaran yang saya ambil dari kejadian ini; Apa yang cocok di diri orang lain, belum tentu cocok di kita. Ini contoh. Lipstiknya sama, bibirnya beda, ya hasilnya beda. Kalau memang cocoknya pakai lipstik murah, ya udah, syukurin aja. Berarti gak perlu mengeluarkan banyak biaya. 

Hidup juga gitu sih. Yang kelihatannya enak di orang lain, belum tentu pas kalau diterapin di diri kita. Lha wong dari sidik jari kita aja udah beda, jadi gak usah maksa buat nyama-nyamain di lain hal. IMHO.



Di depan Lepi kesayang, 24 November 2015

Rabu, 31 Desember 2014

CAT [Catatan Akhir Tahun] 2014

31 Desember 2014

Coz you bring out the best in me like no one else can do, that’s why I’m by your side, that’s why I love you…

Apa yang telah kamu lakukan selama 365 hari yang terlewati di tahun 2014? Saat aku disodori pertanyaan ini, aku berpikir lumayan panjang untuk menjawabnya. Banyak sih yang telah aku lakukan di tahun ini, tapi aku tidak yakin semua baik dan bermanfaat. Kupikir, aku malah menghabiskan banyak waktu percuma di tahun ini. Sorry for my self. Hiks…

Satu-satunya hal yang kulakukan dengan sungguh-sungguh di tahun ini adalah berhasil menyelesaikan dua biji novel. Yeah, I do it with all of my heart. Tapi, yang tersisa hanya koreksi yang tersungkur lemah di pojok draft email. Nope, aku tidak bermaksud mengabaikannya. Dalam hati, aku sungguh ini memperbaikinya. Bahkan, aku sudah merencanakan perbaikan sejak empat bulan lalu. “Aku akan memperbaikinya di liburan akhir tahun,” demikian hatiku berjanji. Tapi, apa daya jika ternyata pekerjaan akhir tahun begitu melelahkan. Oke, anggap saja ini sebuah alibi. Tapi, jika sempat, coba saja kamu menjadi aku yang dengan satu tubuh, pun seramping ini, harus mengerjakan lebih banyak hal daripada tahun-tahun sebelumnya. Itu sangat melelahkan, teman. Apalagi jika diiringi dengan nyanyian sumbang dari mulut-mulut yang ada di sekitamu. Oops…

Dari soal kerjaan, mari beralih ke kehidupan pribadi. Kehidupan pribadi?! Ah, sebenarnya aku tidak terlalu suka bagian ini. Bagian di mana aku seolah menguliti diriku sendiri. Tapi, karena ini spesial di akhir tahun, aku akan bercerita sedikit. Hanya sedikit. Hanya sekedar mengingatkan, bahwa dalam seburuk-buruknya tahunmu, akan selalu ada hari terbaik, meski satu.

Satu hari di bulan November, untuk pertama kalinya aku memutuskan untuk berkencan lagi setelah sekian lama memilih menyandang status high quality single [Hallah]. Ehm, ganti ding, bukan berkencan, tapi menjalin hubungan dengan seseorang [Sama saja, Ye]. Mungkin antara berkencan dan menjalin sebuah hubungan intinya sama, tapi kesannya tetap beda. Menurutku sih. Well, Alhamdulillah sampai hari ini hubungan kami baik-baik saja dan masih dirahasiakan [Eh...]. Meski, aku sering sebel sama dia. Iya, dia nyebelin banget. Sebanget-bangetnya. Tapi, ya gitu… senyebelin apa pun dia, tetep saja ngangenin. Karena orang bijak pernah berpetuah, nyebelin itu datangnya sepaket dengan ngangenin [abaikan!].

Then, I found someone who brings out the best in me like no one else can do… [Ya!! kamu, gak usah ketawa-ketawa ke-GR-an pas baca part ini]. Tapi, aku tidak ingin menceritakan apa pun tentang dia di sini. Terlalu riskan. Bisa celaka kalau dia sampai pingsan karena tingkat GR-nya sudah dewa banget.

Dan yang paling seru di tahun 2014 adalah banyaknya kesempatan untuk jalan-jalan. Yach, meski pun harus dibayar dengan badan yang remuk redam. Kondisi tubuh yang on off. Dan kesehatan yang acak adut. Yang mengharuskan diri ini untuk sering mengundang dukun pijet, minum jamu ini itu, atau bangun pagi sekali untuk sekedar menggesekkan telapak kaki dengan aspal.

What I love about 2014 year is no hurt anymore that makes me feel like I’m an idiot [senyeom tjantiek]. Mungkin ini bukan tahun yang up and down banget, tapi aku suka. Tuhan, dengan baiknya mengulurkan banyak kenangan manis di tahun ini. Mengajarkan banyak kebaikan melalui kejadian-kejadian yang menggelikan. Dan membawa langkahku lebih jauh ke tempat-tempat baru yang aku sebut sebagai bagian dari ‘surga dunia’.

Terima kasih Tuhan untuk sepanjang tahun tahun yang mennyenangkan ini. Terima kasih untuk kehadiran kamu, kamu, kamu, dan kamu semua yang memilih untuk mampir sebentar, menginap beberapa malam, atau tinggal lebih lama lagi. Terima kasih sekali untuk kalian yang bersedia tinggal selamanya denganku yang egois, ribet, banyak maunya, susah diatur, sering begadang, suka drama korea, nangisan, maunya jalan-jalan melulu, enggak gila kerja, tapi punya cinta yang luar biasa ini [Hallah… keplak diri sendiri… kecupin dan pelukin kalian atu-atu].

Selamat tinggal tahun 2014, selamat datang tahun 2015. Semoga tahun depan lebih ramah. Dan semoga kalian yang kusayangi lebih banyak senyum, nyebelinnya berkurang. I love and awe you, Guys!




salam sayang dariku yang nyebelin dan ngangenin ^^

Me: Ye